Perpustakaan digital di China terangi dunia para penyandang tunanetra

Zhang Xuejing baru-baru ini menonton film yang bagus bersama delapan penyandang tunanetra lainnya di sebuah perpustakaan di Provinsi Shandong, China timur.

Mereka menonton versi bebas hambatan (barrier-free) dari film China populer berjudul "The Magical Brush". Deskripsi audio ditambahkan untuk membantu para penonton berkebutuhan khusus tersebut memahami alur cerita film itu.

"Deskripsinya sangat jelas sehingga saya merasa seolah-olah berada di samping Ma Liang, si tokoh protagonis yang pemberani dan cerdas," kata Zhang. "Setiap kali saya berada di bioskop, saya merasa segar dan senang."

Film-film bebas hambatan adalah satu dari beberapa layanan digital yang diluncurkan oleh Perpustakaan Shandong untuk memperkaya kehidupan budaya para penyandang tunanetra.

​​​​​​Pada 2013, perpustakaan itu memprakarsai sebuah proyek perpustakaan digital untuk kelompok tersebut, mengubah buku cetak menjadi materi audio yang dapat diakses secara daring.

Hingga saat ini, total penyimpanan data sumber daya digital telah mencapai 15 terabita dengan lebih dari 3 juta kunjungan.

Melalui koordinasi dengan 17 perpustakaan umum di seluruh wilayah Shandong, perpustakaan provinsi itu telah mendistribusikan 15.000 set alat pemutar buku audio pintar secara gratis.

"Membaca bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, tetapi juga memperkaya pikiran," ujar Zhou Yushan, Wakil Direktur Perpustakaan Shandong, seraya menambahkan bahwa perpustakaan digital telah menjadi surga spiritual bagi pembaca tunanetra.

Ketika Zhang kehilangan penglihatannya dua tahun lalu akibat sebuah penyakit dan terpaksa meninggalkan pekerjaannya, dia merasa sangat sedih.

Untungnya, di perpustakaan digital, dia mempelajari huruf Braille dan berteman dengan orang-orang yang berada dalam situasi serupa.

Mereka memberi tahu Zhang tentang banyaknya pilihan karier untuk penyandang tunanetra, seperti penyetem piano, konselor psikologis, dan penyanyi, yang meningkatkan harapan Zhang untuk menjalani kehidupan baru.

Kini, wanita berusia 42 tahun itu adalah seorang "pemandu siniar" (podcaster) dengan banyak pengikut di media sosial.

Dia membaca dan membagikan puisi yang indah dan artikel, dan telah merancang kursus psikologis untuk memberikan dukungan spiritual kepada para pendengarnya.

China terus mempromosikan layanan budaya bagi kelompok penyandang disabilitas. Pada 2017, Dewan Negara China merilis sebuah program untuk memajukan akses yang adil ke layanan publik dasar, mengarahkan pemerintah daerah untuk memastikan bahwa para penyandang disabilitas memiliki akses bebas hambatan ke berbagai produk dan layanan budaya dan bahwa mereka dapat menikmati siaran televisi, film, drama, serta karya-karya budaya lainnya.

Pada tahun yang sama, beberapa kementerian dan Federasi Penyandang Disabilitas China bersama-sama meluncurkan proyek promosi kegiatan membaca digital untuk penyandang tunanetra di Perpustakaan Nasional, menyediakan layanan budaya yang disesuaikan dan berkelanjutan bagi kelompok tersebut.

Hingga saat ini, Shandong telah membangun 83 ruang baca digital luring di sekolah-sekolah untuk siswa berkebutuhan khusus, perpustakaan umum, dan pusat layanan untuk penyandang disabilitas, dan 181 perpustakaan di provinsi tersebut telah menyiapkan area baca untuk penyandang tunanetra.

"Aktivitas membaca digital memungkinkan individu penyandang tunanetra untuk mengembangkan kebiasaan membaca dan mendapatkan akses ke karya budaya yang mendalam dan membuka wawasan, memungkinkan mereka untuk mencapai tujuan hidup mereka," tutur Li Yingjie, yang bekerja untuk Federasi Penyandang Disabilitas Shandong.

"Saya dapat merasakan bahwa masyarakat kini lebih menghormati dan peduli dengan penyandang tunanetra, dan kami memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkembang," imbuh Zhang, seraya menambahkan bahwa dia berharap dapat membagikan pengalamannya dengan orang-orang yang membutuhkan dan mendorong lebih banyak penyandang tunanetra untuk berbaur dengan masyarakat.