Persebaya di Era Perserikatan, Ada Gelar Juara Hampir Setiap Dekade

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Surabaya - Persebaya Surabaya termasuk tim yang memiliki prestasi gemilang sejak awal berkiprah di Perserikatan, kompetisi yang digelar sejak 1931. Total, mereka telah memenangi empat gelar kompetisi itu.

Raihan itu hanya kalah dari Persija Jakarta yang memenangi sembilan trofi ajang yang sama. Tim Macan Kemayoran bahkan mengoleksi empat gelar yang diraih sebelum kemerdekaan 1945 saat masih bernama VIJ Batavia.

Menariknya, Persebaya Surabaya hampir selalu meraih trofi di setiap dekade. Trofi musim pertama Perserikatan setelah kemerdekaan menjadi milik Persib Bandung pada 1950. Tapi, kompetisi saat itu dianggap tidak resmi.

Dalam dua edisi beruntung, tim Bajul Ijo menjadi pemenangnya. Setelah menundukkan PSM Makassar pada 1951, Persebaya meraih gelar juara dengan mengalahkan Persija semusim setelahnya pada 1952.

Pada dekade 1960-an, trofi secara merata menjadi milik PSM, Persija, Persib, dan PSMS Medan. Tak sekalipun gelar juara kembali ke kota Pahlawan. Demikian halnya pada awal dekade 1970-an yang dimenangi oleh Persija.

Persebaya baru kembali meraih gelar juara pada musim 1977/1978. Musim ini bisa dibilang adalah momen keemasan yang dimiliki oleh Persebaya. Sebab, banyak pemain top yang lahir dari skuat juara Bajul Ijo ini.

Sebut saja Rusdy Bahalwan, Rudy Keltjes, Riono Asnan, Hadi Ismanto, Subodro, Djoko Malis, Santoso Pribadi, Jony Fahamsyah, Abdul Kadir, dll. adalah deretan pemain penting Persebaya Surabaya yang membawa trofi Perserikatan ke Surabaya.

Musim 1987/1988 yang Sukses

Mustaqim (duduk dua dari kanan) bersama rekan setim di Persebaya saat menjuarai Perserikatan 1987-1988. (Bola.com/Istimewa/Fahrizal Arnas)
Mustaqim (duduk dua dari kanan) bersama rekan setim di Persebaya saat menjuarai Perserikatan 1987-1988. (Bola.com/Istimewa/Fahrizal Arnas)

Berselang 10 tahun kemudian, Persebaya Surabaya kembali meraih gelar tersebut. Malah, pada musim Perserikatan 1987/1988 melahirkan banyak drama dan cerita. Banyak yang menyebutnya sebagai “sepak bola gajah”.

Itu terjadi lantaran Persebaya ingin membalas dendam kepada PSIS Semarang yang menjadi juara semusim sebelumnya. Pada 1986/1987, PSIS sukses menundukkan Persebaya di partai puncak dan menggagalkan ambisi menghentikan puasa gelar Bajul Ijo.

Pada 1987/1988, situasinya berbalik kepada Persebaya yang bisa membuat PSIS gagal meraih gelar dua musim beruntun. Mereka ingin menyingkirkan Laskar Mahesa Jenar agar tak melaju ke babak berikutnya dari penyisihan Grup Timur.

Syaratnya, Persebaya harus mengalah dari Persipura Jayapura yang bisa menggeser PSIS. Alhasil, duet pelatih Kusmahadi dan Misbach menurunkan pemain pelapis dan muda yang belum berpengalaman melawan Persipura pada 21 Februari 1988.

“Saya jadi kaptennya waktu itu, saya masih muda. Kami main apa adanya saja. Kami bukan mencetak gol ke gawang sendiri atau bunuh diri. Tapi, memang main saja seperti biasa,” kata Muharom Rusdiana, pemain Persebaya pada musim tersebut, kepada Bola.com.

Di luar dugaan, Persebaya kalah 0-12 dari Persipura Jayapura di hadapan pendukung sendiri di Stadion Gelora 10 November, Surabaya. Kekalahan ini justru menjadi sukacita bagi seluruh pihak di Persebaya.

“Suporter malah ikut bersorak. Setiap kali Persipura mencetak gol, mereka berteriak tambah terus. Tidak terasa sampai 12 gol,” imbuh Muharom.

Pada akhirnya, Persebaya menjadi juara dengan menundukkan Persija di Stadion Senayan, Jakarta. Selain Muharom, ada beberapa pemain andalan macam Machrus Afif, Yusuf Ekodono, Subangkit, Putut Wijanarko, Ibnu Grahan, Yongki Kastanya, Maura Hally, Yusuf Mony, dll. Jangan lupakan juga Mustaqim yang saat ini menjabat asisten pelatih Persebaya.

Munculnya Istilah Bonek

Ribuan suporter Persebaya Surabaya (Bonek) melakukan aksi di Stadion Tugu, Koja, Jakarta Utara, (2/8). Mereka meminta PSSI mengembalikan status Persebaya 1927 sebagai klub yang sah dan ikut perhelatan Liga Indonesia.(Liputan6.com/Yoppy Renato)
Ribuan suporter Persebaya Surabaya (Bonek) melakukan aksi di Stadion Tugu, Koja, Jakarta Utara, (2/8). Mereka meminta PSSI mengembalikan status Persebaya 1927 sebagai klub yang sah dan ikut perhelatan Liga Indonesia.(Liputan6.com/Yoppy Renato)

Pada musim ini pula, muncul istilah Bonek untuk sebutan suporter Persebaya Surabaya. Kata akronim yang diambil dari bahasa Jawa, yakni “bondo” dan “nekat” yang berarti bermodal dan nekat.

Istilah Bonek lahir sebagai respons atas antusias dan gairah warga Surabaya dalam mendukung Persebaya. Sebab, ribuan dari mereka berbondong-bondong ke Jakarta demi menyaksikan klub idolanya menjadi juara dengan mengalahkan Persija di Jakarta.

Musim 1987/1988 menjadi kali terakhir Persebaya memenangi Perserikatan. Kompetisi itu sendiri kemudian dilebur bersama Galatama (Liga Sepak Bola Utama) menjadi Liga Indonesia (Ligina) pada 1994.

Persebaya kemudian menjuarai Ligina 1996/1997 yang ditangani oleh pelatih Rusdy Bahalwan, pria yang semasa bermain menjadi bagian tim kampiun 1977-1978. Pada Ligina 1996/1997, jabatan kapten Persebaya dihuni oleh Aji Santoso yang kini menjadi arsitek tim Bajul Ijo.

Video