Perseteruan SBY vs Anas dan legenda 'Cupu Manik Astagina'

MERDEKA.COM. Kegaduhan Partai Demokrat antara Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum masih berlanjut. Diawali dengan Anas Urbaningrum menulis status 'Politik Para Sengkuni' saat SBY menggelar jumpa pers di Jeddah, Arab Saudi. Lalu muncul pernyataan SBY dengan mengatasnamakan 'penyelamatan partai'.

Selanjutnya, SBY bertemu dengan DPD-DPD partai berlogo mercy selama dua jam tertutup di kediaman pribadinya di Cikeas. Di depan rakyat, melalui siaran media, SBY mengeluarkan 10 pakta integritas partai. Saat itu, Anas Urbaningrum berhalangan hadir dengan alasan hanya sakit flu.

Langkah ini dalam perspektif budaya, oleh Budayawan Sutanto, Presiden Seniman Lima Gunung yang tinggal di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jateng ditafsirkan dalam lakon pewayangan ibarat sandiwara sinetron 'Cupu Manik Astagina'.

Cupu Manik Astagina merupakan pusaka ampuh untuk melihat, meramal peta politik baik masa lalu maupun masa depan. Cupu adalah wadah bundaran kecil dari kayu atau logam. Sedangkan manik, permata merupakan lambang keindahan.

Astagina adalah delapan sifat yang harus dimiliki seorang brahmana atau kesatria. Yaitu sifat; daya sarwa buthesu (belas kasih kepada sekalian mahluk), ksatim (suka memaafkan, sabar), saucam (suci lahir bathin), anasayah (tidak mengeluarkan tenaga berlebihan), manggalam (beritikad baik), akarpanyah (tidak merasa miskin lahir maupun bathin, begitu pula dalam hal budi) dan asprebah (tidak berkeinginan atau tidak di bawah nafsu duniawi).

Di Cupu Manik Astagina segala kejadian bisa terulang, ibarat sinetron, legenda itu diciptakan oleh orang Jawa, oleh sastrawan, oleh budayawan maupun oleh empu. Bukan seperti sinetron Indonesia kini yang rekayasa, ada tindakan politik mudah ditebak tanpa filosofi bermutu.

“Demikian juga yang dialami oleh SBY dan Anas. Semua proses politik keduanya tidak intuitif sehingga terjadi kemarahan. Perang mulut di media dan tidak memunculkan pendidikan dan khasanah politik baru bagi rakyat Indonesia sekarang,”jelas Sutanto yang akrab dipanggil Tanto Mendut itu saat ditemui merdeka.com di rumahnya yang sekaligus merupakan Studio Mendut Rabu(13/2) diwarnai rintik hujan.

Tanto Mendut membeberkan, mulai kronologi, kisah sinetron SBY dan Anas jika dirunut 8 Februari, muncul ucapan majelis tinggi Partai Demokrat mengatas namakan penyelamatan partai.

“Sebelumnya dua jam melakukan pertemuan tertutup. Untuk masyarakat menunggu, ini adalah sinetron politik yang sangat ringan. Anas tak datang, Sabtu ke Lebak, Banten. Muncul pakta integritas sementara Anas tidak datang alasanya sakit. Sakit apa itu Anas? Saya merasa punya pemimpin, saya harus tahu. Sakit apa itu Anas? Tolong saya dikasih tahu analisa sakitnya Anas itu apa? Sakit itu benar-benar sakit atau hanya politiknya Anas?” ungkap Tanto.

Tanto juga mempertanyakan, pakta integritas yang dikeluarkan SBY dan diklaim dirinya dengan beberapa DPD Partai Demokrat itu adalah hal yang penting atau hanya sekedar hiburan.

“Masak tontonan politik tidak mendalam. Ini Anas mau di rumah berapa hari? Apa Anas harus di-scan, diterapi sampai Anas tak datang saat dibuatnya fakta integritas di Cikeas? Rakyat seperti diberi kisah percintaan. Sakitnya Anas enteng berarti apa integritas dikeluarkan SBY sungguh-sungguh? Apa menipu? Atau membual? Saya minta SBY dan Anas logis dan bermanfaatlah bagi rakyat. Maka kembalilah ke Cupu Manik Astagina. Kembali ke sejarah. Bukan seperti sinetron di televisi, media cetak maupun media online. Tak memberi pelajaran,” ungkapnya.

Tanto menilai, kisah-kisah politik pemimpin di Indonesia saat ini, masih sebatas hiburan. Masih sebatas sinetron tidak memberikan pendidikan politik rakyat. Kisah perseteruan SBY dan Anas sama dengan kisah sinetron korupsinya Luthfi Presiden PKS.  

Legenda Cupu Manik Astagina, mengisahkan seorang begawan di gunung, tidak masuk struktur kenegaraan bernama Begawan Gotama. Berkat jasa dan baktinya ke para dewa, Begawan Gotama dianugrahi bidadari khayangan bernama Dewi Windradi. Di karuniai tiga orang anak Dewi Anjani, Guwarso dan Guwarsi.

“Gowarso-Gowarsi karakternya mirip dengan SBY dan Anas. Baik. Bukan buruk. Wajahnya teduh, wajah ulama. Sering wudhu dan cuci muka. Terlihat bijak dan layaknya pemimpin yang bersifat melindungi dan mengayomi rakyatnya. Punya pendopo yang merupakan simbol ningrat. Setelah besar, Gowarso dan Gowarsi mulai mengerti apa itu cinta, politik, agama, ekonomi dan lingkungan. Jadi satu,” ungkap Tanto. 

Begawan Gotama seorang pendeta melihat istrinya punya Cupu Manik Astagina. Ibarat jaman sekarang layaknya tablet ataupun iPad yang bisa sewaktu-waktu googling. Yang tahu dari mana Cupu Manik Astagina itu hanya Dewi Windradi dan Bethoro Suryo (Dewa Matahari) yang memberikan Cupu Manik Astagina itu ke istri Begawan Gotama.

“Tahu Dewi Windradi selingkuh dengan Bethoro Suryo (Dewa Matahari) dan mendapatkan Cupu Manik Astagina itu. Begawan Gotama marah. Mengutuk istrinya Dewi Windradi jadi sebuah arca. Cupu Manik Astagina itu dilempar membelah gunung dan menjadi dua danau. Hingga situasinya luruh jadi mata air,” tutur Tanto Mendut.

Gowarso dan Gowarsi waktu mudanya karakternya mirip SBY dan Anas ini setelah besar mendengar. Jika bisa memiliki pusaka ampuh Cupu Manik Astagina maka dirinya menjadi pendekar ampuh. Menjadi politisi hebat mumpuni dan menjadi contoh rakyatnya.

“Gowarso dan Gowarsi dengar. Jika ingin mendapatkan Cupu Manik Astagina ini harus cuci muka dan mandi di danau itu. Namun, alangkah kagetnya, keduanya seperti yang dikisahkan dalam legenda berubah menjadi dua ekor ‘kethek’(monyet) usai mandi,” tuturnya.

Keinginan sama juga menimpa Anjani, kakak dari Gowarso dan Gowarsi. Tanto mengibaratkan jika pada masa kini Anjani ibarat tokoh politisi wanita seperti Hartati Murdaya, Sri Mulyani, Megawati Soekarnoputri atau bahkan anaknya Puan Maharani.

“Bisa diibaratkan Wanda Hamidah maupun Angelina Sondakh yang ditahan di KPK itu. Anjani juga ikut masuk telaga berubah monyet. Akhirnya Anjani harus bertapa untuk bisa menjadi manusia kembali. Monyet menurut saya yang orang desa dan gunung, karakter saya juga bisa seperti monyet. Monyet itu bisa politisi, bisa KPK, bisa banggar, bisa wartawan bisa DPC-DPC maupun DPD-DPD. Keinginan Dewi Anjani untuk menjadi manusia betapa kuat,” cetusnya. 

Hingga membuat dewa di kayangan gelisah. Supaya Bathoro Guru dan Bathoro Narodo mengaturnya sehingga turunlah Dewa Syiwa, meneteskan spermanya ke salah satu daun. Daun dimakan Anjani. Anjanipun hamil dan melahirkan anak yang wajah dan fisiknya seperti monyet berwarna putih yang diberi nama Hanoman.

Sifat Hanoman ini, selalu cekatan, ‘petakilan’ meloncat kesana, meloncat kesini. Bahkan dalam cerita ‘Romo tambak’, Hanoman bersama kawanan kera mampu membangun jembatan yang dibuat dari batu-batu yang disusun. Sehingga sungai yang banjir bisa diseberangi.

“Pemimpin yang punya Sengkuni, jika bertemu dengan Anoman yang petakhilan akan sial semua. Seperti ibaratnya Jokowi. Dia itu diibaratkan pemimpin wahyu. Wajahnya tidak ganteng. Tapi bisa petakilan. Bahkan dia dikritik sana dikritik sini tetap bekerja dan bekerja. Sampai yang mengkritiknya bosan,” tegas Tanto saat dikonfirmasi merdeka.com apakah Hanoman ini identik dengan Jokowi.

Setelah itu, Sugriwo dan Subali mereka kemudian melakukan perang berdarah melawan Maesosuro, dewa berkepala sapi dan Lembusuro dewa berkepala kerbau. Sebab, jika tidak perang, maka Maesosuro dan Lembusuro akan hancurkan kahyangan. Setelah memberikan pesan, Batara Guru dan Batara Narada kembali ke kahyangan.

Saat di depan goa Kiskenda, Subali berpesan kepada Sugriwa, agar Sugriwa tidak perlu ikut memasuki istana Goa Kiskenda. Sugriwa diperintahkan menunggu di depan pintu goa saja. Sedangkan Subali sendiri yang akan melawan Prabu Maesasura dan Lembusura.

“Apabila nanti ada darah merah dan darah putih yang mengalir ke pintu goa, adalah pertanda Subali mati dan diminta Sugriwa menutup pintu goa. Sugriwa menangis mendengar pesan kakaknya namun Sugriwa siap melaksanakan perintahnya.

Subali memasuki halaman istana Goa Kiskenda dan disambut pasukan penjaga yang berkepala hewan. Ada yang berkepala kerbau, sapi, kuda, harimau dan masih banyak jenis yang lain. Subali mendapatkan serangan bertubi tubi dari pasukan goa Kiskenda. Namun dalam waktu singkat Subali berhasil melumpuhkan pasukan Goa Kiskenda.

Kemudian Subali memasuki istana Goa Kiskenda dan mendapat serangan  dari Prabu Maesasura dan Lembu Sura. Sesuai dengan namanya prabu Maesasura berkepala kerbau dan patih Lembusura berkepala sapi.  Kali ini lawan Subali sangat tangguh, berkali-kali Prabu Maesasura tewas, kemudian dilompati Lembusura, Prabu Maesasura hidup kembali demikian pula sebaliknya.

Dengan sisa tenaga yang ada Subali segera membenturkan kedua kepala musuhnya sehingga hancur berkeping-keping. Darah dan otak prabu Maesasura dan Lembusura mengalir ke sepanjang goa. Sugriwa yang waktu itu  termangu-menunggu kakaknya terkejut melihat darah merah dan darah putih mengalir bersama sama ke pintu goa.

Sugriwa menangisi kematian kakaknya. Sugriwa memastikan bahwa kakaknya, Subali tewas, setelah berhasil mengalahkan Maesasura dan Lembusura, terbukti ada darah merah yang mengalir bersama darah putih kakaknya.

Sesuai pesan kakaknya Sugriwa menutup pintu goa dengan batu-batuan. Sugriwa pergi ke kahyangan untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Batara Guru. Di kahyangan,  Sugriwa diterima Bathara Guru. Menurut Batara Guru, Batara Guru akan menganugerahkan  Dewi Tara kepada Subali untuk menjadi istrinya. Karena Subali tewas, maka anugrah tersebut diberikan ke Sugriwa. Sugriwa bersama Dewi Tara meninggalkan kahyangan menuju goa Kiskenda.

Subali terjebak di dalam goa marah karena adiknya berbuat curang padanya. Subali lupa dengan pesan pesan yang diberikan pada adiknya. Subali  bersemadi mohon pertolongan dewa untuk membuka pintu goa. Dengan kekuatan penuh Subali menghantam batu-batuan hingga hancur berkeping-keping.

Setelah keluar dari goa, Subali berangkat  ke kahyangan  menemui Batara Guru. Subali melaporkan semua kejadian pada Batara Guru. Batara Guru tidak bisa berbuat apa-apa. Karena  Dewi Tara sudah terlanjur diberikan kepada Sugriwa, karena Subali dianggap sudah tewas. Namun Batara Guru tidak akan melupakan jasa Subali. Diberikannya kepada Subali aji Pancasona yang mempunyai kekuatan hebat.

“Perseteruan yang terjadi antara Subali dan Sugriwo ini diibaratkan permusuhan yang terjadi antara SBY dan Anas dalam tubuh Demokrat. Sebab, hanya karena kesalahpahaman dan tidak adanya komunikasi yang baik, maka keduanya akan terus saling bermusuhan. Untuk mendapatkan legitimasi dari DPD-DPD Partai Demokrat yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” pungkasnya.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.