Persik Kediri, Perusak Hegemoni Persebaya dan Arema di Jawa Timur

Bola.com, Kediri - Sebelum penyatuan sepak bola profesional pada 1994, kompetisi di Indonesia terbelah dua kubu Perserikatan dan Galatama. Bicara di Jawa Timur, dua kutub ini dikuasai Persebaya Surabaya (Perserikatan) dan Arema Malang (Galatama). Saat itu belum ada klub Jawa Timur lain yang begitu berjaya, termasuk Persik Kediri.

Tak pelak, dua kota besar Surabaya dan Malang  menjadi barometer sepak bola di provinsi paling timur Pulau Jawa ini. Namun, masuk era 2000-an muncul Persik Kediri sebagai kekuatan baru di antara hegemoni Persebaya dan Arema.

Sejarah klub berjuluk Macan Putih ini dimulai 2002. Tangan dingin Iwan Budianto mampu mengubah Persik yang sebelumnya tak punya tradisi dan nama besar di Indonesia, tiba-tiba melesat bak meteor. Persik langsung muncul sebagai jawara Divisi I.

Tak berhenti di situ. Iwan Budianto dan Persik makin haus akan trofi juara. Mereka bikin kejutan lagi dengan menjuarai Divisi Utama 2003. Prestasi spektakuler ini pun menenggelamkan pamor Persebaya yang sempat menjuarai Ligina pada 1996-1997.

Seolah tak mau meredup, giliran Persebaya menyabet titel kampiun 2004. Selama tiga tahun, Persik membangun kembali kekuatannya dengan merekrut pemain-pemain hebat macam Danilo Fernando, Ronald Fagundez, Leo Guiterez, dan Cristian Gonzales.

Pada 2006, klub yang didirikan pada 1950 ini membawa pulang trofi ke Kediri. Dari jumlah gelar yang digenggam, Persik dan Persebaya mengungguli Arema.

Namun seiring perputaran roda dan dinamika sepak bola Indonesia, Persik Kediri dan Persebaya pun sempat jatuh bangun. Berbeda dengan Arema yang hampir selalu eksis di kasta tertinggi. Terhitung dua kali Persik dan Persebaya terlempar dari elite kompetisi Nasional, sedangkan Arema hanya sekali.

 

Kembali ke Habitat Sesungguhnya

Joko Susilo ingin pemain Persik bisa menempati minimal dua posisi berbeda pada Liga 1 2020. (Bola.com/Gatot Susetyo)

Kini Persik Kediri kembali ke habitatnya berkiprah di Shopee Liga 1 2020. Tim yang kini dibesut Joko Susilo ini masih lekat dengan label kuda hitam. Mereka dengan perkasa menjuarai Liga 3 2018 dan Liga 2 2019. Ini mengulang prestasi era 2002-2003 lalu.

Meski dengan materi pemain biasa-biasa saja, manajemen Persik pun tetap yakin akan membuat kejutan di Shopee Liga 1 2020, seperti pada era 2003 saat Persik juga tak diperkuat pemain kategori bintang.

"Rasa optimisme sebagai tim kejutan itu bagus. Ini bisa jadi motivasi. Tapi Liga 1 sangat keras. Persik tetap harus kerja keras dan memegang komitmen bersama untuk prestasi," kata Joko Susilo.

Video