Pertama Kali Rayakan Lebaran di Dalam Penjara: Air Mata, Penyesalan dan Kerinduan

Merdeka.com - Merdeka.com - Syamsudin (39) dan rekan-rekannya tampak senang bisa berbincang dengan keluarganya saat Idulfitri 1443 H, Senin (2/5). Meskipun hanya bisa dilakukan virtual alias melalui video call.

Dia tak bisa menyembunyikan kesedihannya pertama kali merayakan Lebaran di penjara. Tiga bulan menjalani masa hukuman, dia sama sekali belum dijenguk istri maupun kedua putrinya.

Syamsudin divonis 5 tahun penjara usai ditangkap kepolisian Januari 2022 terkait kasus narkotika. Hari demi hari dilalui di balik jeruji besi. Dia begitu terenyuh mendengar kalimat Takbir, Tahlil dan Tahmid yang berkumandang di Hari Raya Idulfitri.

"Sedih lebaran pertama kali jauh dari keluarga. Namanya sudah takdir," kata Syamsudin ditemui merdeka.com di Rutan Samarinda, Jalan KH Wahid Hasyim II, Senin (2/5).

Dia sedikit terhibur setelah Rutan Samarinda menyediakan fasilitas panggilan video (video call) melalui ponsel untuk bersilaturahmi bersama keluarga di momen Idulfitri. Namun demikian dia harus lebih bersabar, setelah belum berhasil menghubungi istrinya yang tinggal di Sangasanga, Kutai Kartanegara.

"Kalau telepon (fasilitas telepon dari Rutan Samarinda) saya diangkat istri saya, saya mau sampaikan mohon maaf lahir batin. Saya tulang punggung keluarga," ujar Syamsudin.

"Saya bersalah, melanggar hukum dan wajar dihukum. Saya terima. Namanya manusia ada kekurangan dan perasan sedih. Mau bagaimana lagi?" tambah Syamsudin sambil menitikkan air matanya.

Syamsudin bercerita, lantaran dipenjara, praktis istrinya yang kini membiayai dan menyekolahkan kedua putrinya. Tiga bulan dipenjara, Syamsudin belum sama sekali dikunjungi istri maupun kedua putrinya.

"Tidak apa-apa, mungkin karena faktor lokasi tinggal jauh di Sangasanga. Yang saya ingat benar bahwa biasanya sahur dan lebaran dengan istri dan anak-anak saya. Tapi tahun ini tidak. Berada di sini (Rutan) semua baik-baik, teman-teman perhatian. Yang penting kita bisa bawa dan jaga diri baik-baik," terang Syamsudin.

Kepala Rutan Kelas IIA Samarinda Alanta Imanuel Ketaren menerangkan sesuai ketentuan Kemenkumham, lebaran Idulfitri tahun ini merupakan tahun kedua meniadakan kunjungan keluarga di momen Idulfitri, mengingat masih berada di situasi pandemi COVID-19.

"Belum bisa menerima kunjungan. Kita sama-sama tahu, bukan hanya kita yang mengalami. Tapi juga di Lapas dan Rutan se-Indonesia masih belum bisa terima kunjungan dari manapun," kata Alanta.

"Kami sangat bisa memahami situasi ini. Sembari belum bisa bersilaturahmi langsung, kita masih bisa melakukan kunjungan atau silaturahmi virtual yang sudah disediakan Rutan," demikian Alanta.

Remisi

Sembilan narapidana Rutan Kelas IIA Samarinda dapat remisi bebas hari ini, bertepatan Hari Raya Idulfitri. Mereka langsung sujud syukur usai keluar dari pintu masuk Rutan. Sembilan orang itu terdiri dari kasus tindak kriminal umum dan kasus narkotika, setelah menjalani lebih dari 6 bulan masa hukuman.

Salah satu yang mendapat remisi bebas adalah M Rizki Saputra (26). Sebelumnya, dia divonis 1 tahun 6 bulan terkait kasus pasal 365 KUHP tentang pencurian disertai kekerasan.

"Saya menjalani masa hukuman hampir 1 tahun 3 bulan. Alhamdulillah dapat remisi bebas. Saya senang sekali," kata Rizki, ditemui saat hendak meninggalkan Rutan Samarinda, Senin (2/5).

Usai bebas Rizki berencana pulang ke kampung halamannya di kecamatan Muara Kaman, kabupaten Kutai Kartanegara. Dia ingin tinggal kembali bersama Ibu dan saudaranya. Kendati demikian Rizki memilih masih merahasiakan remisi bebasnya hari ini.

"Keluarga saya belum tahu saya bebas. Ini kejutan buat keluarga saya," ujar Rizki.

Kepala Rutan Kelas IIA Samarinda Alanta Imanuel Ketaren menerangkan, Idulfitri tahun ini ada 446 orang warga binaan pemasyarakatan (WBP) Rutan yang mendapatkan remisi 15 hari hingga 2,5 bulan. Di mana 429 di antaranya laki-laki dan 17 perempuan. Sembilan orang di antaranya langsung bebas.

"Tahun ini pemberian remisi terbesar di Rutan Samarinda karena semua yang memenuhi syarat kita usulkan mendapatkan remisi. Tidak ada tebang pilih. Kalau memenuhi syarat administratif dan substantif, semua kita usulkan (dapat remisi)," kata Alanta.

Kriteria yang berhak mendapatkan remisi di antaranya sudah menjalani 6 bulan hukuman setelah inkrah, berkelakuan baik dan rutin mengikuti kegiatan dalam Rutan.

Untuk diketahui, Rutan Samarinda sendiri saat ini dihuni sekitar 1.288 WBP. Di mana sekitar 700 orang di antaranya beragama Islam dan merayakan Idulfitri hari ini. [noe]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel