Pertamina bina 2.305 UMK di Papua dan Papua Barat

·Bacaan 2 menit

PT Pertamina (Persero) melalui program pendanaan usaha mikro kecil melakukan pembinaan terhadap 2.305 usaha mikro dan kecil (UMK) di Papua dan Papua Barat agar dapat naik kelas menjadi usaha yang lebih besar.

Pjs. Senior Vice President Corporate Communications & Investor Relations Pertamina, Fajriyah Usman mengatakan penyaluran modal di wilayah Papua dan Papua Barat ditujukan agar UMK Indonesia wilayah timur dapat segera bangkit dari dampak pandemi.

"Melalui bantuan modal usaha dan sejumlah program pembinaan, kami ingin membantu agar market growth wilayah timur dapat beranjak naik, sehingga para UMK binaan bisa menembus pasar di luar Provinsi Papua dan Papua Barat bahkan seluruh Indonesia atau mancanegara,” kata Fajriyah dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Baca juga: Legislator: Jika tidak restrukturisasi Pertamina kalah bersaing

Sejak tahun 1993 hingga 2021, Pertamina telah membina sekitar 2.305 UMK dengan dirincian 1.361 mitra binaan di Papua dan sebanyak 943 mitra binaan tersebar di Papua Barat.

Pada 2020, sebanyak 41 UMK di Papua Barat dan 24 UMK di Papua naik kelas.

Fajriyah menjelaskan UMK tersebut dinyatakan naik kelas setelah memenuhi beberapa kriteria, seperti mengalami peningkatan omzet, kapasitas produksi, jumlah pekerja, peningkatan nilai pinjaman, penambahan sertifikasi dan izin usaha, perluasan pemasaran hingga pelibatan masyarakat sekitar atau sociopreneur dalam ekosistem usaha.

"Para mitra binaan yang dinyatakan naik kelas tersebut mampu memenuhi setidaknya dua dari tujuh kriteria. Mayoritas mampu mengalami peningkatan omzet sebanyak 33 UMK dan penambahan sertifikasi atau perizinan dengan jumlah yang sama,” jelasnya.

Baca juga: Pertamina Patra Niaga gencarkan digitalisasi berbagai lini

Salah satu mitra binaan Pertamina di Sorong, Papua, adalah Wahyudi yang memiliki usaha budidaya ikan nila.

Dia dinyatakan naik kelas dari kelas Go Modern ke Go Digital dalam ajang UMK Academy.

“Setelah berhasil meningkatkan aset usaha saya yang awalnya punya satu kolam sekarang ada 12 kolam,” tutur Wahyudi.

Selain itu juga ada peserta UMK Academy kelas Go Online asal Jayapura, Papua, bernama Yafeth Wetipo.

Pengusaha kopi khas Papua ini bahkan rela beralih profesi dari semula dosen menjadi roaster kopi. Usaha Kopi Highland Roastery makin berkembang dengan produksi mencapai 350 kilogram per bulan dan omzet hingga Rp25 juta per bulan.

“Kalau yang banyak orang tahu tentang Papua adalah banyak emasnya, kini kami angkat emas hijaunya juga yakni kopi,” ujar Yafeth.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel