Pertamina Catat Laba Rp14 Triliun pada 2020

Raden Jihad Akbar, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVA – Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Emma Sri Martini melaporkan, bahwa perseroan berhasil membukukan laba mencapai sekitar US$1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun (Rp14.000 per dolar AS) pada 2020.

Hal itu diutarakannya dalam rapat dengar pendapat (RDP) antara Pertamina dengan Komisi VII DPR RI, perihal evaluasi kinerja tahun 2020 dan prioritas program kerja Pertamina di 2021.

"Alhamdulillah di posisi Desember (2020) kita secara in house closing un-audited membukukan laba sekitar US$1 miliar atau sekitar Rp14 triliun," kata Emma dalam telekonferensi, Selasa 9 Februari 2021.

Baca juga: Update Harga Emas Hari Ini: Produk Global Meroket, Antam Naik Tipis

Emma mengatakan bahwa capaian itu mungkin saja masih akan meningkat. Sebab, hingga saat ini proses audit yang digelar oleh auditor dari kantor akuntan publik (KAP) dan dari Badan Pemeriksa Keuangan(BPK) memang masih berlangsung.

Karena itu, Emma pun menyampaikan permohonan maafnya kepada pihak Komisi VII DPR RI, akibat belum adanya laporan kinerja keuangan secara tertulis yang bisa diperlihatkan pihak Pertamina saat RDP hari ini.

Hal itu ditambah dengan situasi di mana Pertamina juga baru saja terikat sejumlah ketentuan perihal issue global bond yang telah dilakukan pada pekan lalu. Sehingga saat ini perusahaan minyak negara itu masih berada dalam proses seattlement.

"Jadi kami tidak boleh men-disclose tambahan informasi setelah posisi September 2020. Jadi kuartal IV (2020) ini kami belum disclose lagi kepada investor, sehingga tidak bisa menyampaikan secara publik terkait kinerja di akhir 2020," ujarnya.

Diketahui, perolehan laba Pertamina di akhir kuartal IV-2020 sebesar Rp14 triliun ini merupakan sebuah capaian yang baik. Sehingga, Pertamina dinilai mampu menekan kerugian bahkan hingga berhasil membukukan catatan positif di akhir tahun 2020 lalu.

Hal itu merupakan sebuah pencapaian tersendiri di tengah situasi pandemi COVID-19, yang telah membuat sejumlah perusahaan minyak mengalami catatan keuangan minus. Seperti misalnya British Petroleum (BP) yang membukukan rugi hingga Rp80 triliun atau Exxon yang merugi sampai ratusan triliun.