Pertamina dan Medco Power Kerjasama Kembangkan Energi Panas Bumi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) melakukan kajian bersama dengan PT Medco Power Indonesia (MPI) dalam hal pengembangan panas bumi di wilayah kerja PGE dan MPI yang tersebar di wilayah Indonesia.

CEO Subholding Power & Renewable Energy (PNRE) Pertamina, Heru Setiawan, menyampaikan kolaborasi yang solid sangat diperlukan dalam pengembangan panas bumi. Ini sekaligus mendukung misi pemerintah dalam pencapaian target ketenagalistrikan berbasis energi terbarukan nasional.

"Ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan bersama yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan tujuan mengoptimalkan pengembangan panas bumi di 7 wilayah atau pengembangan sebesar 700 MW" jelasnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/1/2021).

Kajian pengembangan panas bumi tersebut akan dilakukan di wilayah Kerja PGE dan MPI selama 6 bulan ke depan. Kajian tersebut diharapkan dapat mempercepat pengembangan panas bumi pada wilayah Kerja PGE dan MPI.

Heru menambahkan, kajian akan meliputi aspek teknis, legal, lingkungan dan sosial, komersial (termasuk pendanaan) dan risiko. Itu diharapkan akan menghasilkan skema bisnis yang kompetitif dan berdampak positif untuk kedua belah pihak dengan mengutamakan pemenuhan aspek compliance (Good Corporate Governance/GCG).

PGE disebutnya terus berkomitmen untuk meningkatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional menjadi 23 persen pada 2025, khususnya dari energi panas bumi.

Terlebih, ia menambahkan, wilayah kerja perseroan telah berkontribusi sekitar 88 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia.

"Kolaborasi ini sebagai salah satu bentuk komitmen kami dalam pengembangan panas bumi di Indonesia," tukas Heru.

Punya Potensi Besar, Geothermal Bisa jadi Energi Utama Pembangkit Listrik

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Bandung, Jawa Barat (dok: PLN)
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Bandung, Jawa Barat (dok: PLN)

Utilisasi dari kapasitas terpasang panas bumi atau geothermal di Indonesia untuk pembangkit listrik masih dapat dioptimalkan dalam masa pandemi covid-19.

Untuk meningkatkan pemanfaatan tersebut, SVP Strategic & Investment Pertamina Daniel Purba mengatakan perlu adanya insentif dan komitmen dari pemerintah dalam pemanfaatan geothermal sebagai energi utama untuk pembangkit listrik (base load).

Dalam paparannya, Daniel menyebutkan pemanfaatan energi terbarukan masih rendah. Untuk geothermal, pemanfaatannya 2,13 GW atau 8,9 persen dari potensinya 23,9 GW.

“Potensi kita cukup besar. Tentunya ini challenge-nya adalah dari sisi keekonomian project-nya. Karena cadangan-cadangan energi yang sangat besar ini untuk bisa diwujudkan untuk menjadi energi yang bisa dikonsumsi membutuhkan index investment yang tidak kecil,” kata dia dalam webinar INDEF - Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021, Senin (30/11/2020).

Saat ini, kapasitas geothermal yang terpasang oleh Pertamina totalnya sudah 670 MW. Sementara target 5 tahun mendatang, Pertamina akan melipatgandakan kapasitas yang sekarang menjadi 1,3 GW.

“Indonesia memang secara global ini ada di rank kedua, dibawah Amerika dengan total kapasitas yang ada diatas 2 GW, dan saya kira ini akan terus berkembang ke depan meskipun kalau dilihat kapasitas ini hanya 8,9 persen yang baru termonetize,” kata Daniel.

Indonesia memiliki berbagai potensi energi yang terkandung didalamnya, termasuk panas bumi. Salah satu sumber panas bumi terdapat di Kamojang yang berada di gugusan Gunung Guntur, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Hal ini yang kemudian dimanfaatkan PT PLN (Persero).

Sejak tahun 1982, PLN telah memanfaatkan energi panas bumi untuk menghasilkan energi listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, yang berlokasi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Diawali oleh satu unit pembangkit berkapasitas sekitar 30 MW, kini PLTP Kamojang telah memiliki tiga unit pembangkit dengan total kapasitas sebesar 140 MW.

“Unit kedua beroperasi pada 29 Juli 1987 dan unit ketiga pada 13 September 1987, masing-masing kapasitasnya 55 MW. Kini, produksi listriknya mencapai 2,4 giga watt hour per tahun,” tutur Vice President Public Relations PLN, Dwi Suryo Abdullah dalam keterangannya, Rabu (18/3/2020).

PLTP Kamojang kini dikelola oleh anak usaha PLN yaitu PT Indonesia Power melalui unitnya Kamojang Power Generation O&M Service Unit (POMU).

Meskipun menjadi PLTP pertama di Indonesia, tidak lantas menurunkan kinerjanya. Terbukti hingga tahun 2019, IP Kamojang POMU dapat menjaga kesiapan unit pembangkit (Equivalent Availibility Factor/EAF) mencapai 96,44.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: