Pertamina jaga keseimbangan bisnis dalam peta jalan transisi energi

·Bacaan 2 menit

Fenomena perubahan iklim yang makin kentara mengharuskan negara-negara di dunia untuk bekerja sama dalam menangani persoalan tersebut termasuk PT Pertamina (Persero) selaku perusahaan energi nasional.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan pemerintah telah menetapkan peta jalan transisi energi dari fosil ke energi baru terbarukan yang sejalan dengan prinsip ketahanan energi, aksesibilitas, dan keterjangkauan.

“Dari perspektif itu, Pertamina akan terus berusaha mengupayakan adanya keseimbangan antara agenda perubahan iklim dan ketahanan energi di Indonesia dan juga untuk keberlanjutan perusahaan,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Rabu.

Nicke menyampaikan strategi untuk dapat memberikan hasil yang signifikan dalam menangani dampak perubahan iklim adalah pola bisnis minyak dan gas harus mengurangi setidaknya 3,5 gigaton setara karbon dioksida per tahun pada 2050.

Jika permintaan energi minyak dan gas masih seperti kondisi normal, maka sektor ini dapat mengurangi sebagian besar emisi dengan biaya lebih rendah dari rata-rata 50 dolar AS per ton setara karbon dioksida.

Hal ini dapat dilakukan melalui intervensi pada kegiatan yang paling menghemat biaya.

Menurut Nicke, perubahan dan penyesuaian proses bisnis akan membantu perusahaan mengurangi konsumsi energi dan mendukung pengurangan emisi.

Saat ini, Pertamina memiliki beberapa program yang sebagian besar diarahkan untuk mengurangi emisi karbon.

Pada 2020, perseroan telah memberikan kontribusi dalam penurunan emisi sebesar 27,08 persen dibandingkan dengan target nasional sebesar 26 persen.

Pencapaian itu diperoleh dari pemanfaatan gas suar di sektor hulu dan pengolahan baik untuk bahan bakar penggunaan sendiri dan untuk pasokan gas ke pelanggan, termasuk pemanfaatan kembali limbah panas di hulu dan kilang serta inisiatif efisiensi energi dalam kegiatan panas bumi.

Gasifikasi bahan bakar di hulu juga berkontribusi dalam menurunkan emisi, seperti komersialisasi pelepasan karbon dioksida ke pelanggan di hulu maupun optimalisasi proses lainnya di kegiatan panas bumi.

Melalui delapan program inisiatif yang telah berjalan, saat ini Pertamina telah memiliki kapasitas panas bumi terbesar di Indonesia dan sedang dalam proses untuk menjadi perusahaan panas bumi nasional, sekaligus perusahaan panas bumi terbesar kedua di dunia yang akan berkembang dalam lima tahun ke depan.

Selain itu, perseroan juga mengembangkan proyek hidrogen hijau, berpartisipasi mengembangkan baterai kendaraan listrik, hingga berambisi dalam mengembangkan gasifikasi dengan pabrik metanol.

Terbaru, Pertamina menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan energi global untuk mengembangkan teknologi penangkapan, utilisasi, dan penyimpanan karbon atau CCUS.

Berbagai proyek yang dijalankan itu sebagai wujud dukungan perseroan terhadap upaya mengatasi perubahan iklim, sekaligus menjamin keberlanjutan bisnis energi di Indonesia.

Baca juga: Wamen BUMN sebut pendanaan dibutuhkan untuk percepat transisi energi
Baca juga: Kemenkeu: RI terbesar di negara berkembang dalam transisi energi
Baca juga: Kontrak pelet TOSS PLTU Ropa diteken, dukungan bagi transisi energi RI

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel