Pertamina Pasang Target Laba Rp 28 Triliun di 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) menargetkan perolehan laba sebesar USD 2 miliar atau Rp 28 triliun (asumsi kurs Rp 14.044) di tahun 2021.

Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, perseroan juga menargetkan penjualan naik 12 persen di tahun ini. Adapun, investasi tahun ini meningkat 2 kali lipat menjadi USD 10,7 miliar.

"Sebagian besar adalah untuk meningkatkan cadangan dan produksi migas, juga untuk membangun pabrik oetrokimia, serta membangun infrastruktur midstream dan downstream gas," kata Nicke saat dihubungi, Kamis (4/2/2021).

Nicke berujar, investasi Pertamina juga akan difokuskan untuk pengembangan pabrik Electric Vehicle (EV) battery dan pengembangan green hydrogen dari wilayah kerja panas bumi yang dimiliki perseroan.

Sementara itu, perseroan juga tercatat menorehkan kinerja laba bersih sebesar USD 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun di tahun 2020.

Nicke membeberkan, ada beberapa upaya yang dilakukan dalam mencapai laba tersebut, mulai dari peningkatan produktifitas hulu migas hingga memangkas biaya operasional sebesar 30 persen.

"Upaya yang dilakukan adalah meningkatkan produktifitas hulu migas dan kilang serta efisiensi di semua bidang seperti pemotongan opex (operating expense) 30 persen dan prioritasi anggaran investasi," ujarnya.

Permintaan Minyak Dunia Terus Turun, Pertamina Siap Kembangkan Energi Hijau

Papan petunjuk BBM yang berada di SPBU, Jakarta, Kamis (5/1). Penetapan harga BBM Umum jenis Pertamax, Pertamax Plus, Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite dan Pertalite merupakan kebijakan korporasi Pertamina. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Papan petunjuk BBM yang berada di SPBU, Jakarta, Kamis (5/1). Penetapan harga BBM Umum jenis Pertamax, Pertamax Plus, Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite dan Pertalite merupakan kebijakan korporasi Pertamina. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

PT Pertamina (Persero) memastikan kesiapannya dalam menghadapi transisi energi global dengan menjalankan inisiatif strategis untuk pengembangan green energy sekaligus mendukung target pemerintah dalam pengembangan energi baru terbarukan.

Mengacu pada Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Pertamina dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) menetapkan program green transition pada 2035.

Saat ini, penurunan permintaan minyak dunia telah mencapai 35 persen, dan diperkirakan pada tahun 2035 akan menjadi 24 persen. Sebaliknya, kebutuhan energi bergeser ke renewable energy yang meningkat hingga 30 persen.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menjelaskan langkah dan inisiatif strategis yangdilakukan Pertamina saat ini sejalan dengan agenda perusahaan minyak dan gas dunia.

Seluruh perusahaan energi global bergerak untuk mengantisipasi tren penurunan permintaan minyak yang cukup tajam dan akan terjadi di masa depan. Permintaan dan konsumsi minyak duniadiperkirakan akan turun dari 110 juta barel per hari menjadi sekitar 65 - 73 juta barel per hari.

"Dengan dasar ini, Pertamina melakukan transisi dengan perubahan global. Kami melihat bagaimana international oil company lain juga merespons ini. Intinya agenda untuk menurunkan gas rumah kaca, carbon emission, ini menjadi agenda dari seluruh oil company di seluruh dunia," kata Nicke.

Agenda strategi yang pertama mengembangkan energi listrik dengan monetisasi aset panas bumi melalui Independent Power Producer (IPP) untuk mengembangkan 1,3 GW proyek panas bumi serta IPP berbasis surya di area dengan iradiasi matahari tinggi dan menjalin kemitraan strategisuntuk pembuatan sel surya.

Namun, dalam jangka pendek akan fokus dalam penerapan Solar PVdi lingkungan Pertamina Group melalui sinergi antara subholding dan captive market di BUMN.

Kedua, lanjut Nicke adalah mengoptimalkan penggunaan energi ramah lingkungan untuk mobilitas di sektor transportasi dengan mendukung pemerintah melaksanakan biodisel 30 persen (B30), Green Refiniery, dan Co Processing CPO.

Produksi Baterai

Warna biru itu merupakan baterai di mobil listrik (Foto: Electrek).
Warna biru itu merupakan baterai di mobil listrik (Foto: Electrek).

Pertamina juga menyiapkan produksi baterai melalui kemitraan dengan penyedia teknologi baterai dan BUMN serta menyediakan infrastruktur pengisian daya untuk mobil listrik (E2W dan E4W).

“Inisiatif kita melakukan transisi dari fossil fuel ke bio energy ini dapat menurunkan gas rumahkaca. Dari hasil studi, ini bisa menurunkan gas karbon monoksida maupun emisi dari gashidrokarbon antara 20 hingga 50 persen emisi,” tambah Nicke.

Sedangkan agenda ketiga, mengupayakan bahan bakar dengan optimalisasi sumber energi lainyang tersedia di dalam negeri, salah satunya dengan melakukan gasifikasi batubara kadar rendah menjadi Dimethyl Ether (DME) untuk substitusi LPG dalam rangka mengurangi impor dan menghasilkan energi yang lebih bersih.Dalam masa transisi, Pertamina mengembangkan sejumlah proyek gas sebagai energi transisi antara fuel dan new renewable energy.

Untuk gas, menurut Nicke, Pertamina mengembangkan gas untuk transportasi, household dimana target yang ditetapkan pemerintah membangun 30 jutajaringan gas (city gas) di 2050.

Porsi terbesar yang diharapkan tumbuh adalah gas untukindustri. Oleh karena itu, tambah Nicke, syarat penting untuk meningkatkan pemanfaatan gas yakni mengembangkan teknologi-teknologi hilirisasi gas. Diperkirakan kebutuhan gas akan mencapai 10,5 BSCFD di tahun 2050, yang porsinya adalah 92 persen dari konsumsi gas nasional.

“Pemanfaatan gas mempunyai posisi yang penting saat ini, karena gas merupakan sumber energitransisi yang menjadi jembatan antara conventional energy dan renewable energy,” tandasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: