Pertamina Pede Produksi Bioavtur 5 Persen

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta PT Pertamina (Persero) menjadi salah satu perusahaan BUMN yang ditunjuk Pemerintah untuk melakukan uji coba bahan bakar nabati bagi moda transportasi udara dengan produk Bioavtur J2.4.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, mengatakan saat ini Pertamina berhasil mengembangkan pencampuran bahan bakar nabati dalam bahan bakar jenis avtur dengan persentase sebesar 2,4 persen.

“Kalau sekarang mulai 2,4 persen, nanti 2,5 persen lalu 5 persen dan terus bertambah tentu kita harapkan ada suatu komitmen baik itu volume yang memang dialokasikan untuk bioavtur ini,” kata Nicke dalam konferensi Pers Seremonial keberhasilan uji terbang menggunakan bahan bakar J2.4, Rabu (6/10/2021).

Lebih lanjut Nicke menjelaskan, tujuan di kembangkannya Bio avtur ini merupakan komitmen Indonesia di dalam Paris Agreement untuk menurunkan emisi karbon dan net zero emission di tahun 2060, yang diterjemahkan ke dalam penurunan karbon emisi 29 persen di tahun 2030.

“Nah dalam kerangka ini Pertamina kemudian juga ikut mendukung ke arah sana. Kalau kita lihat dari UU energi yang harus dicapai oleh kita ini bukan hanya ketahanan energi saja tapi juga kemandirian energi,” jelasnya.

Artinya bahwa Pemerintah harus mengeksplor sebanyak mungkin sumber energi primer yang dimiliki Indonesia yang kemudian diolah untuk diproduksi menjadi energi yang berkelanjutan.

“Dalam hal ini adalah fuel dan avtur dan ini menjadi salah satu program besar di Pertamina,” ujarnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Bertahap

Petugas SPBU melayani pengisian BBM di SPBU Jakarta, Minggu (10/2). Harga Dex diturunkan dari Rp 11.750 menjadi Rp 11.700 per liter. (Liputan6.com/AnggaYuniar)
Petugas SPBU melayani pengisian BBM di SPBU Jakarta, Minggu (10/2). Harga Dex diturunkan dari Rp 11.750 menjadi Rp 11.700 per liter. (Liputan6.com/AnggaYuniar)

Selain itu, sejalan dengan komitmen Indonesia di dalam Paris Agreement, juga telah tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 tahun 2015, terdapat kewajiban untuk melakukan pencampuran bahan bakar nabati dalam bahan bakar jenis avtur.

Adapun presentasenya sebesar 3 persen pada tahun 2020, dan pada tahun 2025 akan meningkat menjadi campuran bioavtur 5 persen.

“Kita lakukan secara bertahap. Dengan dasar itu maka Pertamina sebagai BUMN tentu harus mendukung program-program pemerintah,” ujarnya.

Dimana sebelumnya Pertamina sudah mengembangkan Biodiesel 30 (B30). Dalam prosesnya pun tidak langsung B30 melainkan dimulai dari Biodiesel 2,5 persen, dan sekarang keseluruhan sudah menjadi B30.

“Sekarang masuk ke tahap kedua yaitu avtur, kita mulai dengan 2,5 persen nanti setelah turn around dari kilang Cilacap bisa kita tingkatkan menjadi 5 persen. Jadi dalam waktu dekat kita bisa memproduksi J5, kita bisa terus tingkatkan,” pungkasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel