Pertemuan Rahasia Fauzi Bowo dan Calon-calon Gubernur DKI

Calon-calon Gubernur Jakarta muncul dari kesepakatan-kesepakatan elite partai. Foke sempat digantung Demokrat, Alex-Nono diputuskan dalam waktu semalam. Pijakan semua partai untuk pemilihan presiden 2014.

Fauzi Bowo atau dikenal dengan Foke sudah melakukan gerilya sejak dua tahun lalu. Dia mencoba mendekati Partai Keadilan Sejahtera. Menurut sumber Tempo, dia sadar Foke perlu massa PKS untuk menjangkau kelas menengah. Popularitas Fauzi memang jatuh di kelas ini. Dia selalu menjadi bahan cacian masyarakat pengguna Twitter dan Facebook soal macet.

Kabarnya, Fauzi kurang sreg dengan tawaran mendetail seperti itu. Beberapa opsi ditolak dan opsi lain dipertimbangkan. Kubu Fauzi menolak sepenuhnya pinangan PKS ketika partai ini mulai membicarakan "mahar" politik pemilihan gubernur. "Mereka minta Rp 30 miliar," kata seorang politikus yang mengetahui negosiasi itu. Nilai ini dianggap terlalu mahal. (Baca:Apa Mahar yang Diminta PKS ke Foke?)

Tapi, Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq menyangkal. "Tak ada mahar. Kok, seperti pengantin saja. Ini kan pemilihan gubernur," katanya seperti ditulis dalam laporan utama majalah Tempo pekan ini: Abang Disokong, Abang Didorong.

Gagal menggandeng PKS, Foke mencoba mendekati PDI Perjuangan. Sekeranjang duku Palembang yang ranum menemani Fauzi Bowo menyampaikan niatnya maju lagi dalam pemilihan Gubernur Jakarta kepada Megawati Soekarnoputri. Persamuhan Rabu sore dua pekan lalu di rumah Ketua Umum PDI Perjuangan di Jalan Teuku Umar, Jakarta, itu menandai cairnya kembali hubungan keduanya.

Megawati sempat kurang sreg ketika Fauzi berlabuh ke Partai Demokrat sebagai anggota dewan pembina setelah pemilihan Gubernur Jakarta lima tahun lalu. Sudah jadi rahasia umum bahwa Mega berselisih dengan pendiri Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, sejak pemilihan presiden 2004.

Di samping Mega, duduk suaminya, Taufiq Kiemas, Ketua Dewan Pertimbangan PDI Perjuangan, dan Puan Maharani, anak mereka sekaligus ketua fraksi partai banteng di Dewan Perwakilan Rakyat. Kepada Mega, Foke--panggilan Fauzi--menyampaikan peluang kemenangan karena survei-survei menempatkan namanya di nomor satu.

Foke, menurut seorang petinggi PDI Perjuangan, sore itu mengaku telah mengantongi restu Yudhoyono. Dua bulan lalu, Yudhoyono mengundang Fauzi ke Cikeas dan menyampaikan dukungan agar dia maju lagi memimpin Jakarta.

Setelah satu jam, pembicaraan kian mengerucut ke soal calon pendamping Foke dalam pemilihan 11 Juli. "Sebagai ketua umum, saya memilih Pak Adang Ruchiatna," kata Mega seperti dituturkan orang dekatnya kepada Tempo. Adang adalah wakil Puan di DPR. Dia jenderal bintang dua yang pernah menjadi Panglima Komando Daerah Militer Udayana.

Namun, rupanya pertemuan itu belum keputusan final. PDIP belum benar-benar mendukung Foke dan menyingkirkan peluang Joko Widodo. Wali Kota Solo itu masuk daftar pendek calon hasil penjaringan partai itu. Dia juga dicalonkan oleh Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto yang juga bertemu dengan Mega. (Baca juga: Jokowi Siap Taklukkan Ibu Kota)

Di sudut Jakarta yang lain, Nono Sampono masygul mendengar pertemuan Foke dan Mega. Komandan Pasukan Pengamanan Presiden zaman Megawati itu memang tak masuk hitungan. Dua nama yang masuk daftar akhir adalah Adang dan Joko Widodo. Meski begitu, Nono mengaku kecewa namanya diabaikan.

Pucuk dicita ulam tiba. Tiba-tiba teleponnya berdering. Fuad Mansyur, Ketua Bidang Informasi dan Penggalangan Opini Partai Golkar, menyapa di ujung telepon. Fuad menawarkan posisi calon wakil gubernur untuk mendampingi Alex Noerdin, yang dipilih Golkar sehari sebelumnya. "Saya tak langsung menjawab," kata Nono.

Nono pun menemui Aburizal Bakrie di lapangan tenis Rasuna Epicentrum di kawasan Kuningan, Kamis pagi dua pekan lalu, Aburizal baru saja menyelesaikan game-nya melawan bekas Gubernur Jakarta Sutiyoso. Di lapangan itu, Nono menyampaikan bulat menerima pinangan Golkar.

Nono dipilih mendampingi Alex Noerdin. Popularitas Gubernur Sumatera Selatan ini, dalam survei lain, kalah dibanding Tantowi Yahya, kader Golkar yang juga berniat jadi gubernur. Tantowi terpental karena ia dianggap tak bisa membawa gerbong koalisi. Padahal Tantowi tak risau dengan modal. "Ada 30 pengusaha di belakang saya," katanya. (Baca: Tantowi Mengaku Punya Rp 60 Miliar, Tapi Terpental)

Bagja Hidayat, Amandra Megarani (Jakarta), Pharliza Hendrawan (Palembang)

Artikel di atas adalah liputan utama majalah Tempo untuk pekan ini.


Berita terkait:
Dana Kampanye Saweran Jokowi Rp 2 Miliar
 
Tantowi Mengaku Punya Rp 60 Miliar, Tapi Terpental 
Calon DKI-1 Versi Megawati 
Doa Anas untuk Fauzi Bowo 
Demokrat Akhirnya Usung Foke - Adang 
Apa Mahar yang Diminta PKS ke Foke?

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.