Pertemuan tingkat menteri APEC soroti pemulihan inklusif berkelanjutan

Para menteri dari ekonomi-ekonomi yang tergabung dalam Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Bangkok, Thailand, Kamis, menyelaraskan gagasan-gagasan mereka untuk memajukan investasi, perdagangan, dan integrasi Asia-Pasifik.

Hal tersebut dinilai sebagai upaya bersama untuk mewujudkan pemulihan yang berkelanjutan dan inklusif di dunia yang saat ini kondisinya sangat tidak pasti.

Inovasi teknologi yang cepat, degradasi lingkungan, dan perubahan iklim mengharuskan para pemimpin ekonomi anggota APEC "untuk merenungkan bagaimana kita dapat dan harus menjadi lebih baik dan meningkatkan kerja sama," kata Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri (Menlu) Thailand Don Pramudwinai dalam pidato pembukaannya pada pertemuan tingkat menteri APEC ke-33.

(Xinhua)
(Xinhua)

Para partisipan juga membahas bagaimana ekonomi-ekonomi anggota APEC dapat bekerja sama untuk mengatasi berbagai tantangan ekonomi saat ini.

Sejumlah tantangan yang dimaksud adalah seperti kerawanan pangan dan energi, inflasi, dan gangguan rantai pasokan, seiring mereka mengarahkan kawasan Asia-Pasifik menuju pemulihan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif serta mewujudkan Visi Putrajaya 2040 (Putrajaya Vision 2040) dan Rencana Aksi Aotearoa (Aotearoa Plan of Action), kata Wakil Menlu Thailand Vijavat Isarabhakdi dalam konferensi pers gabungan setelah pertemuan itu.

Prioritas untuk menghubungkan kawasan tersebut di semua dimensi juga memerlukan tindakan untuk memajukan konektivitas digital, yang menjadi semakin krusial, mengingat pesatnya pertumbuhan ekonomi digital dan besarnya peluang ekonomi yang dimilikinya, kata Vijavat.

Wakil Menlu Thailand menambahkan pula bahwa para menteri tersebut menekankan perlunya memajukan transformasi digital dan meningkatkan partisipasi usaha mikro, kecil, dan menengah dalam ekonomi digital dan e-commerce.