Pertimbangkan Tiga Hal Ini Sebelum Beli Dogecoin

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini sering mendengar berita mengenai lonjakan harga dogecoin, dan mungkin mendengar seseorang mendapatkan keuntungan dari mata uang kripto.

Anda mungkin berpikir, bagaimana jika koin dimulai dari lelucon dan Anda tidak dapat mengucapkannya? Kemudian dogecoin telah melonjak menjadi 60 sen pada bulan lalu, dan membuat seseorang tidak ingin ketinggalan.

Namun, sebelum Anda membeli dogecoin, berikut sejumlah hal untuk dipertimbangkan seperti dilansir dari CNBC, ditulis Senin (10/5/2021):

1.Mencurigai gelembung tidak akan membantu Anda

Sebagian besar investor dapat menjelaskan apa itu gelembung. Hal itu terjadi ketika harga barang jauh melebihi nilai aslinya. Mereka mempertimbangkan untuk membeli dogecoin mungkin tahu biaya token digital yang naik lebih dari 12.000 persen sepanjang 2021 tidak didukung oleh lebih dari harapan itu akan terus menjadi lebih mahal.

Spekulasi itu, tentu saja yang memicu gelembung. Ahli menilai, dogecoin belum diketahui benar-benar menjadi produk yang jauh lebih berharga selama setahun ini. Namun, tidak mungkin mencegah orang mencoba memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan.

"Orang-orang membeli aset bahkan ketika mereka tahu dinilai terlalu tinggi karena mereka memperkirakan harga akan naik lebih tinggi lagi,” ujar Profesor Ruthers School of Arts and Sciences, Bruce Mizrach dilansir dari CNBC.

Ia menambahkan, mereka percaya bisa keluar sebelum gelembung jatuh dan pecah. Itulah yang dipikirkan orang lain.

"Pada saat sebagian besar investor individu memasuki investasi yang meningkat, sering kali sudah terlambat,” ujar Profesor Keuangan American Universitu, Kent Baker.

FOMO Jadi Bumerang

Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay
Ilustrasi Mata Uang Kripto, Mata Uang Digital. Kredit: WorldSpectrum from Pixabay

Cerita mengenai orang membeli rumah berkat mata uangnya. Bagaimana mungkin Anda tidak mengalami rasa takut ketinggalan? Baker menuturkan, investor sering merasa menjadi mangsa bias sosial dari “menggiring”.

Dengan kata lain, mereka melakukan apa yang dilakukan orang banyak, percaya setiap orang harus tahu lebih banyak daripada yang mereka lakukan.

Pada kenyataan, orang lain "dalam kerumunan” mempercayai hal yang sama merasa aman dalam angka. “Umumnya, investor seperti itu salah dalam kedua hal tersebut,” ujar Baker.dengan sedikit dukungan untuk mereka.

3.Anda tidak dapat mengetahui nilai sebenarnya atau banyak lagi

Ilustrasi aset kripto, mata uang kripto. Kredit:  WorldSpectrum via Pixabay
Ilustrasi aset kripto, mata uang kripto. Kredit: WorldSpectrum via Pixabay

“Mencoba memahami penilaian fundamental aset digital “sangat rumit”,” ujar Mizrach.

Ia menutukan, sebagian besar saham setidaknya bisa mendapatkan price earning ratio (PER) yang memberitahu investor mengenai nilai investasi yang dibayar untuk perusahaan dari hasil pendapatannya. Rasio tersebut dapat membantu investor menentukan apakah sebuah saham perusahaan over atau undervalue.

Anda tidak tahu apa-apa dengan dogecoin. “Kenaikan mata uang kripto mengingatkan pada tahap awal gelembung internet dengan investor mencoba evaluasi saham tanpa pendapatan,” ujar Mizrach.

Lantaran mata uang kripto sangat baru ada kebingungan tentang cara membeli dan menjual uang kripto, cara menjaga token agar aman dari kerugian dan peretas serta cara kerja pajak. Dengan mempertimbangkan semua ketidakpastian ini, para ahli mengatakan, tidak boleh investasi lebih banyak pada dogecoin daripada yang mereka mampu untuk kehilangan. Hal itu karena semua baru, beberapa hal tidak pernah berubah.

“Tidak ada makan siang gratis dalam berinvestasi. Pengembalian yang diharapkan lebih tinggi datang dengan risiko yang diharapkan lebih tinggi. Harga mata uang kripto sangat tidak stabil, yang berarti sangat berisiko,” ujar Baker.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel