Pertumbuhan Ekonomi Bakal Naik pada Kuartal IV 2021, Sektor Ini Bisa Jadi Pilihan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kuartal III 2021 tumbuh positif. Yakni sebesar 3,51 persen year on year (YoY). Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi hingga kuartal sebelumnya yang mencapai 7,07 persen.

Pengamat Pasar Modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia, Reza Priyambada menilai, hal itu mencerminkan pandangan pasar yang melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia ini masih dalam tahap pemulihan. Dalam jangka pendek, Reza mengatakan dampak dari kondisi pertumbuhan ekonomi tersebut yakni investor akan melakukan aksi jual.

"Dampak ke pasar saham dan obligasi, tampaknya pasar cenderung melakukan aksi jual karena nilai tukar rupiah yang sempat turun setelah dirilisnya data tersebut," kata Reza kepada Liputan6.com, ditulis Minggu (7/11/2021).

Menyusul pengumuman tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah pada perdagangan Jumat pagi. Hal ini setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2021.

Mengutip data RTI pada Jumat pagi, 5 November 2021 pukul 09.37 WIB, IHSG turun 0,15 persen ke posisi 6.579. Indeks LQ45 merosot 0,25 persen ke posisi 946,11. Sebagian besar indeks acuan alami koreksi. Sebanyak 237 saham melemah sehingga menekan IHSG. 202 saham menguat dan 184 saham diam di tempat.

Pada penutupan perdagangan, IHSG turun tipis 0,07 persen ke posisi 6.581,78. Indeks LQ45 susut 0,02 persen ke posisi 947,86. Sebagian besar indeks acuan koreksi. Jelang akhir pekan, IHSG berada di level tertinggi 6.608,42 dan terendah 6.550,11.

Meski PDB hingga kuartal III 2021 turun dibandingkan kuartal sebelumnya, Analis Mirae Asset Sekuritas, Natasya Christine optimistis akan terjadi pertumbuhan pada kuartal IV 2021.

"Kami percaya bahwa kami akan melihat situasi ekonomi yang lebih baik di kuartal IV 2021 dan perbaikan dalam pemulihan ekonomi. Kami memprediksi PDB kuartal IV 2021 berada di 4,8 persen YoY dan juga memproyeksikan PDB 2021F tumbuh sebesar 3,86 persen,” ujarnya, dikutip dari publikasi Mirae Asset Sekuritas.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Prospek Sektor Saham Ritel

Pialang memantau jalannya perdagangan saham di galeri Profindo Sekuritas, Jakarta, Rabu (8/7/2020). Sembilan sektor tercatat berkinerja baik dipimpin sektor finance yang melonjak 3,76 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pialang memantau jalannya perdagangan saham di galeri Profindo Sekuritas, Jakarta, Rabu (8/7/2020). Sembilan sektor tercatat berkinerja baik dipimpin sektor finance yang melonjak 3,76 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pada situasi ini, Christine melihat prospek dari saham sektor ritel. Hal itu merujuk pada longgarnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sejumlah daerah, sejalan dengan penanganan pandmei covid-19. Sehingga daya beli masyarakat dinilai juga akan kembali bergairah.

"Kami ingin meningkatkan pandangan kami dari netral ke overweight pada sektor (ritel) ini. Karena kami berpikir bahwa daya beli populasi berpenghasilan menengah mulai pulih dan niat belanja mereka juga meningkat sejak pembatasan aktivitas publik yang dilonggarkan pada November 2021,” ujar dia.

Meskipun pendapatan emiten ritel menurun pada kuartal III 2021, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan emiten ritel yang berada di bawah jangkauan mereka akan mulai membukukan pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi di kuartal IV 2021. Keyakinan itu didukung oleh PPKM yang kian longgar, penurunan kasus COVID-19, peluncuran vaksinasi yang lebih baik, daya beli yang lebih baik, dan pemulihan mobilitas toko.

"Terlepas dari itu, kami melihat bahwa lalu lintas sudah mulai pulih ke tingkat sebelum pandemi karena peraturan jam operasional mal juga telah dilonggarkan oleh pemerintah," ujar dia.

MAPI dan LPPF adalah pilihan utama di sektor ini. Christine beranggapan, terlepas dari tren toko online, toko offline masih akan tetap diminati. Sehingga rencana MAPI untuk melakukan penambahan toko offline juga masih cukup menarik. Sementara itu, LPPF akhirnya akan membuka 10 toko baru pada 2022 setelah penutupan besar-besaran toko-toko yang tidak menguntungkan, terutama dalam lima tahun terakhir.

"Kami percaya MAPI dan LPPF adalah penerima manfaat dari longgarnya PPKM, mengingat permintaan mode meningkat karena orang mulai keluar lagi. Kami percaya ekspansi toko LPPF dan MAPI akan menghasilkan penjualan dan EBITDA yang lebih tinggi di 2022," ujar dia.

Christine memperkirakan LPPF akan membukukan EBITDA sebesar Rp 1,4 triliun pada 2022 (45 persen YoY). Sementara MAPI akan membukukan EBITDA sebesar Rp 4,9 triliun (+21,8 persen YoY) pada 2022.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel