Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I-2021 Diprediksi Minus 1 Persen

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Ekonom Institute for Development of Economics (Indef), Bhima Yudhistira, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2021 minus 1 persen atau masih berada di zona resesi.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan -1 persen pada kuartal I 2021 atau masih berada di zona resesi. Pemulihan ekonomi Indonesia terbilang lebih lambat dari perkiraan awal. Kuartal I tahun ini ekonomi masih alami resesi dimana negara peers dan mitra dagang catatkan pertumbuhan positif,” kata Bhima kepada Liputan6.com, Rabu (5/5/2021).

Prediksi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya faktor mobilitas yang belum kembali ke baseline, dan pelarangan mudik lebaran masih jadi penghambat laju konsumsi domestik.

“Selain itu belanja pemerintah yang serapannya cenderung rendah juga tidak bisa diharapkan bagi ekonomi yang sedang butuh stimulus fiskal,” ujarnya.

Menurutnya, faktor yang bisa meningkatkan kinerja ekonomi bertumpu pada momentum kenaikan ekspor sepanjang Januari-Maret dan akan terus berlanjut.

Berdasarkan data BPS per Januari-Maret 2021, ekspor non migas tercatat naik 17,14 persen. Adapun harga komoditas mengalami supersiklus seperti sawit (CPO) tumbuh 45,3 persen, disusul oleh batubara naik 8,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Demikian, perbaikan ekspor juga berkaitan dengan naiknya permintaan di negara tujuan ekspor utama seperti China.

“Dimana ekspor meningkat fantastis 62,9 persen selama kuartal I 2021. Tidak ketinggalan AS menjadi pasar dengan kenaikan ekspor 15,9 persen,” pungkasnya. Hal ini yang menjadi alasannya soal prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2021.

Konsumsi Masyarakat Jadi Kunci Utama Pemulihan Ekonomi Nasional

Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski pertumbuhan ekonomi masih di level negatif, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut setidaknya ada perbaikan di kuartal III 2020. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski pertumbuhan ekonomi masih di level negatif, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut setidaknya ada perbaikan di kuartal III 2020. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo menilai kunci utama percepatan pemulihan ekonomi terletak pada tingkat konsumsi masyarakat. Khususnya masyarakat kelas menengah dan kelas atas. Setali tiga uang, belanja konsumsi ini juga bisa membantu bisnis para pelaku UMKM untuk kembali pulih setelah terdampak pandemi Covid-19.

"Kata kuncinya spending (mengeluarkan uang untuk belanja) konsumsi," kata Dody dalam Webinar Menakar Efektivitas Stimulus Ekonomi, Jakarta, Selasa (4/5/2021).

Berbagai stimulus fiskal telah diberikan pemerintah. Namun tingkat konsumsi masih belum mengalami perbaikan signifikan.

Stimulus untuk kelompok menengah dan atas telah diberikan dalam rangka mendorong mereka untuk membelanjakan uangnya. Sebab selama pandemi ini masyarakat kelas tersebut menahan diri untuk membelanjakan uangnya.

"Masyarakat menengah atas dan kelompok atas yang punya simpanan besar mengurangi spendingnya, ini kita harapkan kerjasama buat spending ini, kalau enggak, ini susah buat tumbuh cepatnya," tutur Dody.

Tanpa spending, Dody menilai sulit untuk pemulihan ekonomi berjalan cepat. Sebab permintaan produk dan jasa turun. Aktivitas produksi juga terbatas yang menyebabkan penyaluran kredit modal kerja terhambat.

"Kalau dana besar di perbankan, dan masyarakat tidak masuk ke perbankan, maka perekonomian kita tidak akan bergerak cepat," kata Petinggi Bank Indonesia itu.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: