Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Minus 2,07 Persen, IHSG Betah di Zona Hijau

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak perkasa hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham Jumat, (5/2/2021). Penguatan IHSG di tengah rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 dan cadangan devisa Januari 2021.

Mengutip data RTI, IHSG naik 0,32 persen atau 19,62 poin ke posisi 6.126,84. Indeks saham LQ45 justru melemah 0,08 persen ke posisi 948,58. Sebagian besar indeks saham acuan menguat.

Sebanyak 260 saham menghijau sehingga mengangkat IHSG ke zona hijau. 180 saham melemah dan menahan penguatan IHSG. 165 saham diam di tempat. IHSG sempat berada di level tertinggi 6.149,97 dan terendah 6.090,98.

Total frekuensi perdagangan saham 677.686 kali dengan volume perdagangan 8,5 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 6,3 triliun. Investor asing jual saham Rp 122,28 miliar. Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menghijau kecuali sektor saham aneka industri turun 0,89 persen dan sektor saham manufaktur susut 0,02 persen.

Sektor saham pertanian naik 1,62 persen, dan catat penguatan terbesar. Disusul sektor saham perdagangan naik 1,33 persen dan sektor saham konstruksi mendaki 1,05 persen.

Penguatan IHSG ini mengabaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang alami konstraksi pada 2020.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 alami kontraksi 2,07 persen. Sementara itu pada triwulan IV 2020 pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi sebesar 0,42 persen dan secara year on year kontraksi sebesar 2,19 persen.

"Pertumbuhan ekonomi secara q to q mengalami kontraksi sebesar 0,42 persen dan pertumbuhan ekonomi y on y dibanding 2019 kontraksi 2,19 persen. Secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 mencapai kontraksi 2,07 persen," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam rilis Pertumbuhan Ekonomi secara daring, Jakarta, Jumat, 5 Februari 2021.

Meski demikian, IHSG tampaknya dapatkan sentimen positif dari cadangan devisa. Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir Januari 2021 sebesar USD 138,0 miliar. Angka tersebut naik jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Desember 2020 yang tercatat USD 135,9 miliar.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 10,5 bulan impor atau 10,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

"Selain itu juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," jelas dia dalam keterangan tertulis, Jumat, 5 Februari 2021.

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Peningkatan posisi cadangan devisa pada Januari 2021 terutama dipengaruhi oleh penerbitan global bonds pemerintah dan penerimaan pajak.

Gerak Saham

Petugas kebersihan bekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Transaksi bursa agak surut dengan nyaris 11 miliar saham diperdagangkan sebanyak lebih dari 939.000 kali. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Petugas kebersihan bekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Transaksi bursa agak surut dengan nyaris 11 miliar saham diperdagangkan sebanyak lebih dari 939.000 kali. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Saham-saham catat top gainers antara lain saham MTPS naik 34,83 persen, saham POLA menguat 34,34 persen ke posisi Rp 133 per saham, saham LAND melonjak 34,18 persen ke posisi Rp 212 per saham, saham BANK mendaki 24,84 persen ke posisi Rp 392 per saham, dan saham UFOE naik 24,84 persen ke posisi Rp 382 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan tajam atau top losers antara lain saham FORU turun 7 persen ke posisi Rp 93 per saham, saham DGNS melemah 6,92 persen ke posisi Rp 605 per saham, saham BBSI susut 6,9 persen ke posisi Rp 1.215 per saham, dan saham AIMS merosot 6,9 persen ke posisi Rp 162 per saham.

Aksi Investor Asing

Pengunjung melintasi layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pengunjung melintasi layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Saham-saham yang dibeli investor asing pada sesi pertama antara lain saham BBRI sebanyak Rp 48,6 miliar, saham AKRA sebanyak Rp 32,7 miliar, saham BBTN sebanyak Rp 17 miliar, saham UNTR sebanyak Rp 16,1 miliar, dan saham KLBF sebanyak Rp 7,4 miliar.

Sedangkan saham-saham yang dilepas investor asing antara lain saham BMRI sebanyak Rp 61,9 miliar, saham EXCL sebanyak Rp 23,7 miliar, saham ICBP sebanyak Rp 9,5 miliar, saham INDF sebanyak Rp 8,1 miliar, saham HMSP sebanyak Rp 7,4 miliar.

Bursa Saham Asia

Layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2020).  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,34% ke level 5.014,08 pada pembukaan perdagangan sesi I, Senin (8/6). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,34% ke level 5.014,08 pada pembukaan perdagangan sesi I, Senin (8/6). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bursa saham Asia cenderung kompak menguat. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 0,52 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 0,29 persen, indeks saham Jepang Nikkei naik 1,2 persen. Lalu ineks saham Thailand menguat 0,67 persen, indeks saham Shanghai bertambah 0,47 persen, indeks saham Singapura naik 0,14 persen dan indeks saham Taiwan menguat 0,53 persen.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini