Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV 2020 Minus 2,07 Persen, Indonesia Masih Resesi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di sepanjang 2020 terkontraksi minus 2,07 persen. Ini menandakan Indonesia masih terjebak dalam jurang resesi akibat pertumbuhan ekonomi negatif selama tiga kuartal beruntun.

"Pertumbuhan ekonomi kita secara kumulatif pada 2020 mengalami kontraksi 2,07 persen," kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam sesi teleconference, Jumat (5/2/2021).

Secara kuartalan (quarter to quartet/qtq), pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2020 mengalami kontraksi 0,42 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara secara tahunan (year on year/yoy), ekonomi Indonesia mengalami kontraksi minus 2,19 persen.

Meski sedikit mengalami perbaikan, capai tersebut otomatis membuat Indonesia masih terjebak resesi sepanjang tiga kuartal. Pada kuartal II 2020 ekonomi Indonesia terkontraksi minus 5,32 persen, dan minus 3,49 persen pada kuartal III 2020.

Suhariyanto mengatakan, catatan itu sekaligus menandakan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk pertama kalinya mengalami kontraksi pasca krisis moneter 1998.

"Untuk pertama kalinya Indonesia mengalami kontraksi sejak tahun 1998. Pada 1998 karena krisis moneter dan tahun 2020 mengalami pandemi," ujar dia.

Jika menilik catatan di 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebenarnya mengalami kontraksi lebih parah selama empat kuartal berturut-turut. Sehingga di sepanjang 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 13,1 persen.

Nilai tukar rupiah turut terkena imbas, dengan melemah hampir delapan kali lipat dari Rp 2.500 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi Rp 16 ribu per dolar AS di masa itu.

Jika dibandingkan dengan 2020 lalu, nilai tukar rupiah juga sempat merosot jadi Rp 14.770 per dolar AS di masa awal pandemi Covid-19 pada Kamis (3/9/2020). Kurs rupiah juga sempat melemah hingga mencapai Rp 16 ribu per dolar AS, namun perlahan kembali menguat ke level Rp 14.120 per dolar AS pada 31 Desember 2020.

BPS: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020 Lebih Baik dari Singapura hingga AS

Suasana gedung perkantoran di Jakarta, Sabtu (17/10/2020). International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 menjadi minus 1,5 persen pada Oktober, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya pada Juni sebesar minus 0,3 persen. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Suasana gedung perkantoran di Jakarta, Sabtu (17/10/2020). International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 menjadi minus 1,5 persen pada Oktober, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya pada Juni sebesar minus 0,3 persen. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kumulatif di sepanjang 2020 mengalami kontraksi atau tumbuh minus 2,07 persen.

"Pertumbuhan ekonomi kita secara kumulatif pada 2020 mengalami kontraksi 2,07 persen," kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam sesi teleconference, Jumat (5/2/2021).

Suhariyanto menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kuartalan jauh membaik dibanding triwulan sebelumnya. Dimana pada kuartal II 2020 minus 5,32 persen, pada kuartal III minus 3,49 persen, dan minus 0,42 persen di kuartal IV.

Jika dibandingkan dengan negara lain, ekonomi Indonesia di 2020 yang tumbuh minus 2,07 persen sebenarnya masih lebih baik dibanding beberapa negara lain pada kuartal akhir tahun lalu

Seperti Amerika Serikat (AS) yang pertumbuhan ekonominya terkontraksi -2,5 persen di sepanjang 2020. Lalu Singapura yang anjlok minus 3,8 persen pada tahun lalu, dan Uni Eropa uang tumbuh negatif -4,8 persen.

Pengecualian diberikan kepada China dan Vietnam, yang secara ekonomi tumbuh positif. China pertumbuhan ekonomi surplus 6,5 persen, dan Vietnam surplus 4,5 persen.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: