Pertumbuhan ekonomi NTB triwulan II capai 5,99 persen

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengungkapkan pertumbuhan ekonomi daerah ini pada triwulan II tahun 2022 mencapai sebesar 5,99 persen.

"Pertumbuhan yang cukup signifikan ini tentunya tidak lepas dari ikhtiar yang dilakukan bersama-sama antara eksekutif, legislatif serta peran pemimpin dari segenap masyarakat NTB," kata Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah saat Penyerahan Rancangan Perubahan KUA dan Perubahan PPAS Perubahan APBD Tahun Anggaran 2022, di ruang Rapat Paripurna DPRD NTB, Mataram, Jumat.

Ia mengatakan arah kebijakan pembangunan di NTB, diikhtiarkan pada nilai tambah pertanian atau agribisnis, industrialisasi, pariwisata dan ramah investasi, serta penguatan sistem penguatan daerah dengan sasaran dan target pada pertumbuhan ekonomi.

"Laju inflasi yang stabil, penurunan tingkat kemiskinan, gini ratio, IPM dan kesempatan kerja yang semakin luas," ujarnya lagi.

Selain itu, kondisi fiskal di 2022 mengalami kontraksi, dengan adanya penurunan dana transfer pusat, khususnya dana insentif daerah yang berkurang secara signifikan dan sangat mempengaruhi perencanaan pembangunan yang dilaksanakan.

"Pemerintah melakukan upaya yang optimal untuk meningkatkan sumber-sumber yang potensial, karenanya perlu dilakukan penyesuaian terkait, arah sasaran dan target rencana pembangunan NTB di 2022," kata Wagub NTB itu pula.

Adapun garis besar rancangan perubahan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD 2022 NTB menyangkut tiga komponen pendapatan daerah, belanja daerah, dan pembiayaan daerah.

"Perubahan pendapatan daerah anggaran 2022 direncanakan sebesar Rp5,480 triliun lebih, jadi peningkatannya sebesar 1,51 persen dibandingkan dengan APBD tahun 2022 sebesar Rp5,399 triliun," katanya.

Sementara itu, perubahan belanja daerah tahun anggaran (TA) 2022 direncanakan sebesar Rp6,127 triliun lebih, bertambah Rp165 miliar lebih dari APBD 2022 yang semula sebesar Rp5,961 triliun lebih atau meningkat sekitar 2,78 persen.

"Terjadi defisit sebesar Rp646 miliar lebih yang ditutup dari Silpa tahun berjalan dan pinjaman daerah," ujar Sitti Rohmi Djalilah.

Perubahan pembiayaan daerah TA 2022 diproyeksikan Rp646 miliar lebih. Jumlah ini meningkat dari APBD 2022 yang semula berjumlah Rp562 miliar lebih, atau meningkat Rp64 miliar.

"Ini naik sekitar 14,96 persen," katanya pula.
Baca juga: BI NTB percepat pemulihan ekonomi dengan rumus satu ditambah lima
Baca juga: Pertumbuhan ekonomi NTB membaik tetapi diikuti tekanan inflasi