Pertumbuhan industri film nasional dorong penambahan bioskop

Alviansyah Pasaribu

Gencarnya pembuat maupun penonton film di Indonesia membuat perusahaan jaringan sinema asal Meksiko, Cinepolis, tertarik untuk melebarkan sayapnya di Indonesia.

Di tahun ini saja, terdapat cukup banyak film Indonesia yang berhasil menembus angka hingga jutaan selama penayangannya. Misalnya, "Dilan 1991" yang meraih 5,235,411 penonton, "Dua Garis Biru" dengan 2,538,473 penonton, dan "My Stupid Boss 2" dengan 1,876,052 penonton.

Menurut CEO PT Cinemaxx Global Pasifik Gerald Dibbayawan saat ditemui di Jakarta, Rabu, tingginya pertumbuhan dari industri film nasional akan semakin lebih progresif apabila didukung dengan peningkatan jumlah layar.

"Industri film Indonesia terus bertumbuh. Dan menurut saya, jika didukung dengan layar yang semakin dinamis, akan menjangkau lebih banyak lagi penonton domestik," kata Gerald.

CEO PT Cinemaxx Global Pasifik Gerald Dibbayawan saat ditemui di Jakarta, Rabu (4/12/2019). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)

Selain itu, Indonesia dengan demografi penduduk yang didominasi oleh milenial dan generasi z, juga menjadi salah satu faktor mengapa Cinepolis membuka cabang di Indonesia.

"Indonesia sangat besar secara populasi dan adalah young country, dengan banyak anak muda. Indonesia adalah market yang besar tapi screen-nya belum banyak, sehingga ada opportunity buat kita membuat screen lebih banyak lagi," paparnya.

Lebih lanjut, Gerald menilai bahwa apabila pembuat film juga terus membuat film-film berkualitas, tentu akan mempengaruhi dinamika pertumbuhan jumlah penonton dalam negeri.

"Menurut saya selama pembuat film terus membuat film-film bagus dan berkualitas, target penjualan tiket dan sebagainya (bagi bioskop) tidak akan menjadi tantangan yg berarti," ujarnya.

Baca juga: Cinepolis targetkan 20 juta tiket film terjual pada 2020

Baca juga: Cinemaxx umumkan strategi "rebranding" jadi Cinepolis

Bioskop Cinemaxx hadirkan layar raksasa Ultra XD