Pertumbuhan Investor di Luar Jawa Tembus 100 Persen pada 2021

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat pertumbuhan sebaran investor domestik yang mulai merata di berbagai daerah di Indonesia.

Direktur Utama KSEI, Uriep Budhi Prasetyo mengatakan, hampir semua daerah di Indonesia mencatatkan kenaikan investor 100 persen sepanjang 2021.

"Semuanya meningkat di atas 100 persen, kecuali Maluku dan Papua yang peningkatannya sekitar 66-67 persen. Namun yang menarik di sini di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi jauh lebih tinggi dari 100 persen," ujar dia dalam konferensi pers penutupan perdagangan BEI tahun 2021, Kamis (30/12/2021).

Rinciannya, Pulau Jawa masih memimpin dari sisi jumlah investor yang terdaftar di C-BEST, yakni sebanyak 2,4 juta atau naik 103,29 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2020.

Disusul Sumatera dengan 568.465 SID atau naik 110,35 persen ytd. Kemudian Kalimantan degan investor yang terdaftar dalam C-BEST 178.754 SID atau naik 111,72 persen ytd, Sulawesi 126.756 SID atau naik 112,04 persen.

Selanjutnya ada Bali, NTT dan NTB yang mencatatkan 116.368 DIS C-BEST atau naik 103,37 persen dari posisi akhir Desember 2020, serta Maluku dan Papua sebanyak 32.250 atau tumbuh 67,85 persen.

"Penyebaran investor ini di luar pulau Jawa ini syukur alhamdulillah bisa memperlihatkan bahwa sosialisasi dan literasi keuangan yang kita lakukan bersama sudah berjalan dengan baik, utamanya selama pandemi,” kata Uriep.

Hingga 29 Desember 2021 telah berlangsung 10.117 kegiatan edukasi, dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 1,2 juta orang. Dari seluruh kegiatan tersebut, lebih dari 97 persen kegiatan dilakukan secara daring, begitu juga aktivitas sosialisasi kepada para stakeholders lainnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Menengok Kondisi Pasar Modal pada Akhir 2021

Suasana pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Suasana pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan capaian yang menggembirakan sepanjang 2021. Hingga 29 Desember 2021, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.600 dengan kapitalisasi pasar mencapai nilai Rp 8.277 triliun.

Meski masih dalam situasi pandemi COVID-19, Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi mengatakan, BEI beserta SRO dengan dukungan OJK tetap dapat mempertahankan operasional perdagangan dengan maksimal tanpa kendala apapun.

Hal itu tercermin dari likuiditas perdagangan yang meningkat signifikan sepanjang 2021. Baik dari nilai tumbuh 45 persen, dari sisi frekuensi tumbuh 91 persen dan dari volume transaksi itu tumbuh 81 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

"Selanjutnya kalau, dari rata-rata nilai transaksi itu saat ini sudah mencapai Rp 13,4 triliun perhari. Diikuti frekuensi transaksi menjadi 1,3 juta transaksi per hari dan volume transaksi menjadi lebih dari 20,6 miliar saham per hari," ungkap Inarno dalam konferensi pers penutupan perdagangan BEI tahun 2021, Kamis, 30 Desember 2021.

Dari sisi supply side atau IPO perusahaan, hingga akhir 2021 tercatat 54 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa dengan nilai fund raise adalah Rp 62,61 triliun, yang merupakan nilai penggalangan dana tertinggi sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia.

Pertumbuhan positif tren pencatatan ini mengantarkan jumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia mencapai 766, dan diharapkan dapat berlanjut hingga tahun depan. Hal itu lantaran masih ada 26 perusahaan di pipeline Bursa yang tengah dalam proses penawaran umum

"Hal ini patut kita syukuri, jika dibandingkan dengan bursa ASEAN, Indonesia masih menjadi Bursa dengan jumlah IPO terbanyak di 2021. Disusul Thailand (38), Malaysia (29), Singapore (8), dan Philipine (5),” kata Inarno.

Dari sisi investor bertambah sangat signifikan. BEI mencatat terdapat penambahan 3,6 juta investor pasar modal baru, sehingga mencapai 7,5 juta investor atau meningkat sebesar 92,7 persen. Dalam kata lain terdapat peningkatan sekitar lebih dari 8 kali lipat sejak 2016.

Di antara investor pasar modal itu, jumlah investor saham juga sama mengalami peningkatan pesat sebanyak 1,7 juta investor menjadi 3,4 juta investor hingga akhir 2021.

"Syukur alhamdulillah ini pencapaian yang tertinggi juga ya meningkat lebih dari 100 persen dalam setahun terakhir ini,” kata Inarno.

Pertumbuhan Investor

Suasana pergerakan perdagangan saham perdana tahun 2018 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Perdagangan bursa saham 2018 dibuka pada level 6.366 poin, angka tersebut naik 11 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Suasana pergerakan perdagangan saham perdana tahun 2018 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Perdagangan bursa saham 2018 dibuka pada level 6.366 poin, angka tersebut naik 11 poin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Secara khusus, BEI mencatat pertumbuhan investor ritel saham pada 2021 ditopang oleh kalangan milenial yaitu kelahiran antara tahun 1981-1996, dan generasi Z kelahiran 1997-2012 masing-masing 21 persen dan 39 persen.

Dengan kata lain, Inarn menyebutkan investor dengan rentang usia di bawah atau sampai dengan 40 tahun mencapai 2,7 juta investor atau sebesar 88 persen dari total investor ritel baru.

"Hal ini merupakan tren yang baik dan diharapkan kedepannya investor muda dan milenial ini dapat terus meningkat dan meluas guna meningkatkan literasi, edukasi dan partisipasi generasi muda Indonesia terhadap pasar modal Indonesia,” tutur Inarno.

Peningkatan tersebut turut diikuti dengan peningkatan jumlah investor yang aktif bertransaksi yaitu mencapai 198 ribu investor aktif tiap harinya. Investor ritel juga berhasil merajai transaksi bursa pada 2021 dengan porsi transaksi mencapai lebih dari 56 persen.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel