Perubahan Kurikulum 2013 Terkesan Dipaksakan

Jakarta (ANTARA) - Deputi Rektor Bidang Akademik dan Riset Universitas Paramadina Totok Amin Soefijanto menilai Kurikulum 2013 terkesan dipaksakan dan terburu-buru, sebab tidak ada evaluasi terhadap kurikulum lama oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Sekarang ini ada kesan dipaksakan dan terburu-buru. Perubahan kurikulum tidak bisa mendadak seperti itu dan tidak ada evaluasi terhadap kurikulum yang lama," kata Totok kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan pembuatan atau perubahan suatu kurikulum harus melalui proses panjang berupa pengkajian terhadap kurikulum lama untuk dilihat aspek-aspek kelemahannya.

"Kelemahan kurikulum lama itu menjadi dasar untuk diperbaiki pada kurikulum baru. Tidak bisa kurikulum itu benar-benar baru sepenuhnya dan berbeda dengan yang ada, apalagi tidak ada evaluasinya," kata dia.

Selain itu, menurut Totok, diperlukan proses evaluasi yang relatif panjang dengan melakukan peninjauan dan uji coba untuk kemudian dilihat hasil uji coba tersebut.

"Yang paling penting permasalahan kurikulum ini harus benar-benar hati-hati, karena menyangkut pendidikan jutaan anak-anak Indonesia. Jangan seolah-olah disetujui atau tidak, namun tetap harus dijalankan, uji cobanya gagal atau berhasil yang penting dijalankan," ujarnya.

Dalam buku "Bahan Uji Publik Kurikulum 2013" yang disusun Kemendikbud Tahun 2012 pada halaman 14 (power point) mencatat Kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) masih menyisakan delapan masalah yang perlu dibenahi.

Delapan permasalahan itu antara lain materi pelajaran terlalu luas dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan anak, kompetensi yang disasar belum menggambarkan kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan, serta pembelajaran masih terpusat kepada guru.

Selain itu, kompetensi yang sesuai kebutuhan zaman belum terakomodasi seperti pendidikan karakter, pembelajaran aktif, dan keseimbangan "soft skills-hard skills", serta standar penilaian belum menggambarkan kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan.

Permasalahan itu menyebabkan persepsi negatif masyarakat bahwa kurikulum terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, beban siswa terlalu berat, dan muatan karakter berkurang, sehingga fenomena negatif mengemuka, seperti perkelahian pelajar, narkoba, plagiarisme, dan menyontek/korupsi.

"Jadi, perubahan kurikulum itu untuk menyikapi perubahan zaman yang kelak akan mengutamakan kompetensi, namun kompetensi itu mencakup tiga kompetensi secara utuh, yakni kompetensi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap, bukan hanya komptensi kognitif," kata Mendikbud Mohammad Nuh dalam berbagai kesempatan uji publik.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI Herlini Amran mengatakan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah berjanji untuk melakukan pemaparan finalisasi hasil uji publik Kurikulum 2013 pada awal Januari tahun 2013.

Herlini meminta Kemendikbud menepati janjinya dengan segera melakukan pemaparan tersebut sebagai upaya mengevaluasi dan akuntabilitas pelaksanaan uji publik kurikulum 2013, dan mendalami signifikansi hasilnya terhadap penyempurnaan Kurikulum 2013.

"Pemaparan ini untuk membuktikan bahwa Kemendikbud benar-benar serius merancang kurikulum 2013, bukan seperti yang dianggap masyarakat sebagai kegiatan formalitas semata," kata Herlini melalui keterangan tertulis yang diperoleh ANTARA.

Herlini mengharapkan pemerintah tidak menganggap remeh masalah kurikulum yang vital dalam membangun karakter bangsa, karena itu ia juga meminta Mendikbud Mohammad Nuh untuk segera memberikan laporan evaluasi perkembangan kurikulum pendidikan sebelumnya kepada Komisi X DPR RI.(ar)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.