Perugia: Sebuah Dongeng dari Italia, Luciano Gaucci, dan Kontroversi Ahn Jung-hwan

Bola.com, Jakarta - Perugia mungkin tak tenar seperti AC Milan, Juventus, atau Inter Milan yang kaya akan sejarah dan prestasi. Namun, Perugia pernah berjaya di bawah sosok gila bernama Luciano Gaucci.

Sejak Serie A dimulai pada 1929 silam, jawara didominisi oleh tim-tim dari Kota Milan, Turin, Naples, Firenze, Cagliari, dan Roma. Akan tetapi, sejarah mencatat bahwa tim Serie A pertama yang merasakan satu musim penuh tanpa sekali pun kekalahan adalah Perugia.

Perugia telah lama 'hilang' dari Serie A. Padahal, mereka pernah dihuni banyak pesepak bola terkenal, mulai dari Fabrizio Ravanelli hingga Hidetoshi Nakata.

Selain itu, ada eks Timnas Italia seperti Angelo Di Livio, Fabrizio Micolli, Alessandro Diamanti, Cristian Bucci, Rolando Bianchi, hingga Manuele Blasi. Jangan lupakan pelatih kawakan seperti Serse Cosmi dan Massimiliano Allegri yang pernah berkarier di sana.

Perugia, meski tak pernah menjuarai Serie A, merupakan tim sarat tradisi dan cerita. Berikut ini sajian khas Bola.com.

 

 

Bak Dongeng

Mantan pemilik Perugia, Franco D'Attoma. (Dok. AC Perugia Calcio/Siamo La Roma)

Kedatangan Franco D'Attoma menjadi titik balik buat Perugia. Ia membeli Perugia saat tim yang pernah dihuni Hidetoshi Nakata dan Marco Materazzi itu dilanda kesulitan keuangan.

Kisah D'Attoma yang akhirnya memiliki Perugia pun bak dongeng. D'Attoma merupakan keturunan keluarga kaya di kawasan Apulia. Ia jatuh cinta dengan Leyla Servadio, anak dari pengusaha sportswear kenamaan dunia, Ellesse. Hingga kini, produk Ellesse masih bisa dinikmati dan dijual juga di Indonesia dalam banyak jenis produk, utamanya jaket atau windbreaker, sepatu, dan kaos.

D'Attoma lantas menikahi Leyla. Keluarga kaya bertemu keluarga kaya, maka jadilah D'Attoma dan Leyla pasangan kaya raya. Buah dari pernikahan tersebut yakni modal besar untuk membeli Perugia, menyelematkan Perugia dari keterpurukan.

Masalahnya, D'Attoma tak punya pengalaman dalam mengelola klub sepak bola. Ia kemudian mempekerjakan orang-orang yang tepat, di antaranya Silvano Ramaccioni, Spartacus Ghini, dan pelatih berkharisma, Ilaro Castagner.

Perugia kembali stabil, prestasi pun tinggal menunggu waktu. Dalam waktu singkat, Perugia berhasil kembali ke Serie A. Manajemen klub lalu mulai bergerak memperbaiki hal-hal non-teknis, seperti stadion.

Pada 1973, Stadio Pian berkapasitas sekitar 27.000 penonton selesai dibangun hanya dalam waktu empat bulan saja. Perugia bermain konsisten dan mampu bertahan di Serie A selama tiga musim beruntun.

Tragedi sempat menimpa Perugia pada Oktober 1977. Hujan lebat di stadion bernama lengkap Pian di Massiano membawa petaka ketika Perugia bersua Juventus. Pemain Perugia, Renato Curi, tiba-tiba terjatuh di atas lapangan.

Curi kemudian dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. Masih pada tahun 1977, tepatnya 27 November, jelang laga kontra Torino, Stadion Pian di Massiano resmi diubah menjadi Stadio Renato Curi hingga sekarang.

 

 

Musim Tak Terkalahkan

Perugia. (Dok. These Football Times)

Pada musim 1978-1979, dikisahkan, seorang peramal memprediksi bahwa Perugia akan keluar sebagai peraih scudetto. Ramalannya salah, namun prestasi membanggakan diukir Perugia.

Publik Italia, apalagi Perugia, sama sekali tak pernah berpikir bahwa Perugia akan bersaing meraih scudetto. Terlebih, ramalan sang peramal tadi hanya berdasar pada warna putih dan merah yang sama dengan bendera Polandia. Saat itu, Paus John Paul II dari Polandia baru saja dilantik.

Semua berubah ketika Perugia mengakhiri paruh musim tanpa kekalahan. Apalagi, para paruh pertama, Perugia sukses mengalahkan juara bertahan Juventus di Turin dengan skor 2-1.

Serie A saat itu masih diisi oleh 16 tim. Dari 30 kali main, Perugia menang 11 kali, tapi hebatnya, mereka tak terkalahkan di mana sisa 19 laga lainnya berakhir imbang.

Pada akhirnya, karena tekanan berat dari publik dan media yang nyaris setiap pekan menyoroti performa Perugia, Marco Vannini dkk. gagal menyalip AC Milan yang keluar sebagai juara. Perugia mengoleksi 41 poin, Milan unggul dengan 44 poin.

Akan tetapi, Perugia tak perlu kecewa. Pasalnya, mereka adalah tim pertama Italia yang sanggup menyudahi satu musim kompetisi Serie A tanpa kekalahan.

Ironisnya, posisi runner-up musim 1978-1979 adalah prestasi terbaik Perugia di Serie A. Padahal, mereka pernah membawa harum Italia saat tampil sebagai juara di pentas Piala Intertoto 2003 silam.

Musim berikutnya, Perugia terdegradasi dan terlibat skandal pengaturan skor bernama Totonero. Ini membuktikan bahwa Serie A sudah pernah bahkan sering diwarnai kasus suap jauh sebelum adanya skandal besar Calciopoli. FIGC, PSSI-nya Italia lantas menghukum Perugia dengan pengurangan lima poin.

Masa kelam Perugia belum berakhir. Alih-alih belajar dari kesalahan, mereka justru kembali tersandung kasus serupa pada 1986. Bukannya bangkit dan berkaca, Perugia akhirnya ditendang langsung ke Serie C2 karena jatuh di lubang yang sama.

 

Kebangkitan Beraroma Mafia di Era Luciano Gaucci

Luciano Gaucci, mantan pemilik klub Perugia. (AC Perugia Calcio)

Luciano Gaucci adalah sosok nyentrik, nasionalis, kontroversial, dan dikenal sebagai enterpreneur sukses di Italia. Sebelum menjadi pemilik Perugia, ia pernah memiliki Viterbese Calcio, S.S. Sambenedettese Calcio, dan Calcio Catania.

Gaucci, sama seperti D'Attoma datang ke Perugia ketika tim tengah terpuruk pada periode 1990-an. Dengan singkat pula, sejak membeli Perugia pada 1991, ia membawa Perugia naik dari Serie C ke Serie A, tepatnya pada 1996.

Perbedaannya dengan D'Attoma, Gaucci cerdas dalam mengelola klub. Meski dikenal gila judi pacuan kuda, nyatanya ia sukses berkutat di arena tersebut. Gaucci juga memiliki tim berkuda sendiri, yakni Allevamento White Star. Tim tersebut membawa nama harum Italia pada 1980-an.

Lahir di Roma, Gaucci pernah berkarier sebagai seorang supir bus. Tak melihat masa depannya ada di dunia transportasi, ia memutuskan banting setir dengan mendirikan usaha cleaning bernama Milanese. Usaha tersebut sukses besar dan ia dilabeli enterpreneur panutan di Italia.

Ada pun puncak kariernya hadir ketika pebisnis asal Jepang yang sama-sama menggilai pacuan kuda memberikan tawaran yang tak bisa ia tolak. Ingat kata-kata di film The Godfather?

"I will make him an offer he cannot refuse"

Kira-kira begitulah situasinya. Singkat cerita, Gaucci dan Si Jepang tadi berkolaborasi dan membuat Gaucci menjadi orang kaya raya di Italia. Seperti kebanyakan orang kaya di Italia, Gaucci pun memilih mengelola klub sepak bola sebagai ladang bisnis terbarunya. Relasi praktis makin banyak, dan Gaucci menjadi satu di antara pebisnis paling disegani di Italia.

Gosip tak sedap sempat muncul. Langkahnya membeli Perugia yang tengah terpuruk dianggap sebagai 'usaha basi' konglomerat yang ingin terjun ke dunia politik. Apalagi, saat itu Gaucci dikenal dekat dengan Silvio Berlusconi, mantan pemilik AC Milan dan Perdana Menteri Italia.

Gaucci juga diketahui berkawan baik dengan mafia Italia, Giulio Andreotti. Rumornya, Andreotti sempat membantu Gaucci naik kasta ke Serie B, tepatnya pada 1993-1994

Perugia lolos ke Serie B dan disambut meriah oleh suporter. Pada partai pamungkas di Serie C1, tak ada bukti mengenai keterkaitan Andreotti, namun, beberapa media independen menyebut laga tersebut sudah diatur sedemikian rupa lantaran keterlibatan mafia, yang tak lain adalah Andreotti dan kroninya.

Serie B 1994-1995 pun tak lepas dari isu pengaturan skor yang menimpa Perugia. Gaucci sempat diperiksa dengan dakwaan menyuap wasit Emanuel Senzacqua dengan seekor kuda. Senzacqua diketahui pecinta judi pacuan kuda, sehingga Gaucci memberikannya seekor kuda dan meminta Senzacqua mengatur hasil akhir pertandingan kontra Siracusa tiga hari sebelum laga.

 

Era Baru Perugia di Bawah Serse Cosmi: Pelatih yang Doyan Ajak Skuatnya Menonton Pertunjukan Striptease

Perugia. (Dok. AC Perugia Calcio/Siamo La Roma)

Perugia kembali ke Serie A musim 1996-1997 setelah 16 tahun lamanya absen. Sayang, pada musim itu pula mereka langsung turun ke Serie B. Pelatih yang berjasa membawa Perugia lolos ke Serie A, Giovanni Galeone, dipecat karena gagal mencegah Perugia turun kasta lagi.

Hebatnya, Perugia kembali ke Serie A pada musim 1998-1999. Tak ingin mengulangi kesalahan, Gaucci membentuk tim sekuat tenaga. Saat itu, Perugia dihuni oleh Gennaro Gattuso, Marco Materazzi, dan Fabio Grosso. Gaucci juga mendatangkan Hidetoshi Nakata. Menariknya, Nakata didatangkan setelah Gaucci menonton sebuah video.

Kabarnya, Gaucci sampai menonton ribuan video mencari talenta-talenta luar Italia. Bisa dibilang, Gaucci adalah pionir scouting dengan konsep seperti itu. Alih-alih mengirimkan pemandu bakat, Gaucci memilih menyaksikan tayangan video.

Perugia berhasil bertahan di Serie A lebih lama. Pada 2000, Gaucci mengangkat Serse Cosmi sebagai pelatih. Sejak itu, kekuatan Perugia mulai diperhitungkan lagi di Italia, bahkan juga Eropa.

Cosmi punya cerita unik. Ia dikabarkan bekerja sebagai DJ paruh waktu. Disebutkan, karena kedekatannya dengan sejumlah klab malam, ia kerap mengajak anak asuhnya menyaksikan pertunjukan tarian eksotis pada malam jelang pertandingan. Entah berdampak atau tidak, nyatanya, Perugia sanggup memenangi Piala Intertoto 2003.

Kembali ke Gaucci, ia juga menjadi pemilik klub pertama yang mempekerjakan seorang pelatih wanita, Carolina Morace, untuk membesut tim bernama Viterbese, klub kasta bawah Italia kala itu. Gaucci bahkan pernah berencana merekrut pesepak bola wanita bernama Birgit Prinz untuk bermain di Perugia.

"Dia sangat cantik dan pribadi yang hebat, saya tekankan itu. Sebagai pemain, dia sangat bagus," kata Gaucci.

Pada akhirnya, rencana itu tak pernah terealisasi. Tapi, manuver gila Gaucci tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah ini, Bola.com akan sajikan sejumlah kontroversi yang pernah dilakukan Gaucci.

 

 

Rekrut Anak Diktator Libya, demi Langkah Politis?

Luciano Gaucci dan Gaddafi Al-Saadi. (Dok. These Football Times)

Pada 2003, saat Perugia sedang jaya-jayanya, Al-Saadi, anak dari pemimpin Libya, Muammar Gaddafi, resmi dipinang oleh Gaucci sebagai pemain Perugia.

Kala itu, isu yang berkembang menyatakan bahwa transfer tersebut merupakan perintah dari Silvio Berlusconi, sang Perdana Menteri Italia. Alasannya, Berlusconi sedang menjalin hubungan dengan Libya. Transfer Al-Saadi ke Perugia pun dicap sebagai langkah politis demi memuluskan 'persahabatan' Libya dengan Italia.

Karier Al-Saadi di Perugia tidak berjalan mulus. Pemain yang sempat memiliki sedikit saham di Juventus itu malah tersandung kasus doping, yakni penggunaan zat Nandrolone tiga bulan pasca Al-Saadi memulai petualangannya di Serie A.

Al-Saadi akhirnya mentas juga di Serie A setelah menjalani hukuman tiga bulan. Menariknya, meski bermain hanya 15 menit sebagai pemain pengganti, Perugia berhasil memenangi laga kontra Juventus dengan skor 1-0.

Kondisi fisik Al-Saadi dinilai tak layak untuk bermain sepak bola di Serie A. Gaucci sempat mempekerjakan Diego Maradona sebagai konsultan teknis untuk Al-Saadi, bahkan menunjuk sprinter asal Kanada, Ben Johnson sebagai pelatih pribadi. Namun, Cosmi tak tahan dengan kondisi tersebut.

"Bahkan, ketika ia lebih cepat dua kali dari kecepatan aslinya, tetap saja ia dua kali lebih lambat dari makna lambat itu sendiri," tulis media kenamaan Italia, La Repubblica.

Al-Saadi tak bertahan lama dan hengkang dari Perugia. Suporter Perugia pun lega, sama seperti hotel tempat Al-Saadi dan istrinya menginap sepanjang musim. Dikisahkan, sang istri menghabiskan stok susu milik hotel tersebut untuk keperluan mandi sehari-hari.

 

Tendang Ahn Jung-hwan karena Italia Disingkirkan Korea Selatan pada Piala Dunia 2002

Gelandang Korsel, Ahn Jung-hwan merayakan golden goal ke gawang Italia dalam perpanjangan waktu di babak 16 besar PD 2002 di Daejeon, 18 June 2002. Korsel menang 2-1. AFP PHOTO/CHOI JAE-KU

Setahun sebelum Al-Saadi beredar di Perugia, Gaucci sudah lebih dulu melakukan kontroversi lainnya yang melibatkan Ahn Jung-hwan.

Seperti diketahui, Timnas Italia disingkirkan Korea Selatan pada Piala Dunia 2002. Ahn Jung-hwan menjadi pahlawan Tim Negeri Ginseng berkat gol penentunya pada babak adu penalti. Hal itu tidak disukai oleh Gaucci.

"Saya ogah membayar gaji seseorang yang telah menghancurkan sepak bola Italia, orang itu (Ahn Jung-hwan) tidak akan kembali ke tim kami. Saya marah, dia mulai bermain fenomenal hanya ketika bermain di Italia," kata Gaucci dinukil dari Telegraph.

"Saya seorang nasionalis dan apa yang ia lakukan bukan hanya melukai kebanggaan Italia, tapi juga pembangkangan terhadap negara yang dua tahun lalu menyambutnya dengan baik," geramnya lagi.

 

Akhir Tragis

Luciano Gaucci (tengah). (Dok. Umbria24)

Kebiasaan buruknya sejak dulu, yakni menyuap dan korupsi, membuat Gaucci harus menanggung akibatnya. Pada 2005, pemerintah Italia menangkapnya. Perugia pun dinyatakan bangkrut.

Gaucci kemudian ditahan selama tiga tahun. Sebelumnya, selama empat tahun ia kabur ke Republik Dominika bersama dua anaknya, Alessandri Gaucci dan Riccardo Gaucci. Pada Maret 2009, Gaucci sempat muncul di Italia, tapi setelah itu tak terdengar lagi kabarnya, kecuali anak-anaknya yang memilih untuk tidak mengikuti ayahnya lagi.

Riccardo Gaucci saat ini menjabat sebagai CEO klub asal Malta, Floriana. Ia menduduki jabatan tersebut sejak 2014, tatkala kehidupannya sudah kembali 'normal'.

Lama tak terdengar kabar, Gaucci meninggal dunia pada 1 Februari 2020 di Santo Domingo, Republik Dominika, dalam usia 81 tahun. Semua hutang kabarnya sudah dilunasi oleh anak-anaknya. Usaha pacuan kudanya pun dilaporkan tetap dijalankan oleh keluarga besar Gaucci usai kabur ke Republik Dominika.

Sumber: Berbagai sumber

Video