Perusahaan China Serbu Pasar IPO di Amerika Serikat

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan China bergegas untuk menawarkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di bursa saham Amerika Serikat (AS) sebelum kehilangan tenaga dan momentum.

Berdasarkan data perusahaan konsultan EY, selama tiga bulan pertama 2021 menandai kuartal tersibuk untuk keseluruhan IPO di AS sejak 2020.

EY menyatakan terlepas dari pandemi COVID-19 dan ketegangan antara AS serta Cina, setengah dari 36 pencatatan saham perdana oleh perusahaan asing di AS berasal dari China.

IPO perusahaan China diprediksi lebih banyak lagi. Kepala Perwakilan China untuk Bursa Efek New York, Vera Yang menuturkan, sekitar 60 perusahaan China berencana IPO di AS pada 2021.

"Dari interaksi kami dengan perusahaan, mereka tidak ingin membuang waktu untuk pencatatan," ujar dia dilansir dari CNBC, Rabu (28/4/2021).

Ia menekankan, ketidakpastian yang dibawa pandemi COVID-19 dan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter dalam jangka panjang akan mengurangi ketersediaan modal.

Pelaku Pasar Berharap Kompromi

Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Aliran dana terus masuk ke pasar modal sejak pandemi COVID-19. Sekitar 30 perusahaan yang berbasis di China meningkatkan modal terbanyak dalam IPO AS sejak 2014. Hal itu berdasarkan Renaissnace Capital.

Untuk perusahaan rintisan di China, investor dan pelaku bisnis ingin mendapatkan keuntungan. Mereka juga melihat undang-undang di bawah pemerintah Trump yang akan memaksa bursa AS untuk menghapus perusahaan asing yang tidak mematuhi audit AS selama tiga tahun.

Namun, Direktur Pelaksana Blueshirt, Gary Dvorchack menilai, kekhawatiran penghapusan saham perusahaan yang tidak mematuhi ketentuan itu telah mereda sejak Presiden AS Joe Biden menjabat pada Januari 2021.

"Pelaku pasar mengharapkan kompromi. Ini adalah gelombang pasang," ujar dia.

Keinginan perusahaan China yang ingin IPO di AS tersebut membuat Dvorchak lebih sibuk. Akan tetapi, hal itu juga membuat dia khawatir.

"Telepon kami berdering. Kami mencoba mempekerjakan lebih banyak orang. Kami belum pernah melihat seperti ini sejak gelembung Nasdaq pada 1999. Ini membuat saya khawatir,” ujar dia.

Pada akhir 1990-an, lonjakan spekulasi di perusahaan teknologi baru mulai dari Pets.com hingga Cisco memicu gelembung pasar saham AS yang mulai meledak pada 2000.

Valuasi Perusahaan Tinggi

Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Pada 2021, investor hati-hati terhadap usaha bisnis sehingga menyebabkan modal menumpuk hanya ke beberapa perusahaan yang sama dari pada menyebarkan taruhan mereka. Tren ini berlaku di China, termasuk perusahaan rintisan berstatus unicorn senilai USD 1 miliar atau lebih.

Mitra perusahaan modal ventura Antler yang berbasis di China, Hongye Wang menuturkan, secara anekdot kalau lebih banyak orang meminta saham unicorn kepadanya ketimbang pada tahap awal.

"Banyak perusahaan tidak bisa mengumpulkan banyak uang, atau valuasinya menurun. Tapi kalau melihat unicorn, apalagi unicorn pra IPO, valuasinya masih gila," ujar dia.

Salah satu contohnya perusahaan minuman soda Genki Forest yang awal April dilaporkan mendapatkan suntikan modal USD 500 juta sehingga membawa valuasinya USD 6 miliar.

Berdasarkan Crunchbase, sebaliknya salah satu putaran penggalangan dana terbesar dalam yuan pada pekan ini lebih kecil masuk ke Abogen Biosciences senilai 600 juta yuan atau USD 92,3 juta.

Tren Harga Saham Setelah IPO Jadi Turun

Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Adapun sinyal beberapa valuasi sudah terlalu tinggi, banyak saham yang tercatat di AS dan Hong Kong telah merosot setelah IPO pada 2021.

Salah satu, aplikasi video pendek China Kuaishou melonjak 160 persen menjadi USD 300 per saham saat pencatatan perdana pada Februari 2021. IPO perusahaan internet terbesar sejak Uber ini dan debut di Hong Kong, saham Kuaishou berjuang untuk kembali menguat. Saham Kuaishou ditutup ke posisi USD 274 per saham pada Selasa, 27 April 2021.

"Tren harga setelah IPO tidak sebaik tahun lalu," ujar Asia-Pacific IPO leader EY, Ringo Choi.

Ia memperkirakan, IPO akan melambat pada kuartal III 2021 terutama jika lingkungan makro ekonomi memburuk.

Untuk saat ini, beberapa perusahaan rintisan terbesar di China masih dalam proses IPO meski waktunya tidak jelas. Menurut CB Insights, perusahaan rintisan itu antara lain ByteDance yang berbasis di Beijing, pemilik aplikasi video TikTok dan perusahaan ride-hailing China Didi Chuxing.

"Investor mendukung tetapi lebih selektif terhadap perusahaan China yang mungkin dapat mempertahankan valuasi tinggi," ujar Yang.

Yang menuturkan, di antara bisnis yang berbasis di China yang akan catatkan saham di AS, sektor yang diminati antara lain teknologi, media, telekomunikasi. Kemudian diikuti barang konsumsi dan layanan bisnis.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini