Perusahaan Raksasa Teknologi Dunia PHK Massal Karyawan, Ada Apa?

Merdeka.com - Merdeka.com - Saat ini menjadi masa yang sulit bagi perusahaan raksasa teknologi di seluruh dunia. Terutama diakibatkan karena perlambatan ekonomi dan kekhawatiran resesi. Hal itu telah menyebabkan banyak perusahaan teknologi dunia melakukan penghentian perekrutan hingga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Salah satunya Meta Platforms yang dipimpin Mark Zuckerberg. Meta berencana akan memberhentikan ribuan karyawan minggu ini. Meta Platforms diperkirakan akan memberhentikan 12.000 karyawan atau 15 persen dari stafnya karena penurunan pengeluaran iklan yang telah menimbulkan masalah serius bagi perusahaan Big Tech ini.

Bulan lalu, Meta juga mengumumkan jeda dalam perekrutan dan restrukturisasi berikutnya karena adanya kekhawatiran resesi besar yang terjadi di seluruh dunia.

"Saya berharap ekonomi akan lebih stabil sekarang tetapi dari apa yang kami lihat sepertinya belum. Jadi, kami akan melakukan rencana yang agak konservatif," kata Zuckerberg kepada karyawan selama sesi tanya jawab bulan lalu dilansir dari Outlook India di Jakarta, Rabu (9/11).

Pada bulan Juni, Meta mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk memotong perekrutan insinyur setidaknya 30 persen pada tahun ini dan melakukan pembekuan perekrutan pada bulan September. Zuckerberg telah memperingatkan perampingan lebih lanjut dalam waktu dekat.

Kemudian, mengenai perubahan jumlah karyawan, dia menambahkan bahwa pemotongan anggaran akan terjadi di seluruh tim dan masing-masing tim harus mencari cara sendiri untuk menangani perampingan pada tim mereka.

Perusahaan induk dari Facebook dan Instagram ini melaporkan lebih dari 87.000 karyawan pada akhir September lalu, tetapi ancaman PHK ‘skala besar’ diperkirakan akan memangkas sebagian besar anggota staf tersebut.

Menurut Reuters, prospek mengecewakan bagi perusahaan ini muncul akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global, persaingan ketat dari TikTok, perubahan privasi dari Apple, peningkatan tekanan peraturan dan kekhawatiran tentang pengeluaran besar-besaran untuk metaverse.

Twitter dan Startup Lainnya

Twitter pekan lalu memecat hampir 50 persen tenaga kerja globalnya termasuk hampir 90 persen karyawan di India. Menariknya, perusahaan ini kemudian harus meminta beberapa karyawan yang dipecat untuk kembali.

Setelah menyadari bahwa mereka dipecat karena kekeliruan keputusan atau terlambat menyadari pentingnya kemampuan mereka.

Selain itu, Microsoft memberhentikan sekitar 1.000 karyawan bulan lalu dan menjadi gelombang PHK ketiga pada tahun 2022 dan Netflix juga memecat hampir 500 karyawan tahun ini.

Pada bulan Agustus lalu, Snapchat memecat lebih dari 1000 orang, PHK diumumkan karena harga saham Snap telah jatuh lebih dari 80 persen pada tahun lalu.

Sementara itu, Amazon juga berencana mengurangi tenaga kerjanya. Di mana dalam laporan pendapatannya, Chief Financial Officer Amazon, Brian Olshavsky mengatakan, bahwa perusahaan telah mengurangi jumlah karyawan hampir 27.000. Meskipun kemudian, perusahaan itu telah membantah memecat orang.

Mengapa Banyak PHK pada Raksasa Teknologi?

Sektor bisnis ini mengalami puncak kesuksesan teknologi selama pandemi, tetapi sayangnya euforia tersebut tidak berlangsung lama.

Resesi ekonomi global ditambah dengan persaingan yang semakin ketat telah memaksa banyak perusahaan teknologi mengambil keputusan untuk menyusun kembali rencana restrukturisasi atau bahkan memberhentikan staf.

Hal ini dapat tidak terlepas dari fakta yang harus dihadapi perusahaan selama masa perlambatan ekonomi. Sehingga dalam usaha mengurangi biaya, perusahaan harus mengambil langkah PHK agar bisnis tetap bertahan.

Reporter Magang: Hana Tiara Hanifah [idr]