Perusahaan Sawit Nunun Dibiayai Artha Graha  

TEMPO.CO, Jakarta - Usaha kelapa sawit PT Wahana Esa Sejati, perusahaan milik Nunun Nurbaetie, ternyata dibiayai oleh Bank Artha Graha. Hal itu terungkap dalam sidang kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004 di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu, 7 Maret 2012.

Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi, M. Rum, mulanya bertanya pada Direktur Utama PT Wahana, Arie Malangjudo, seperti apa kondisi perusahaan pada awal berdirinya. Menurut Arie, saat itu kondisi ekonomi PT Wahana belum baik. "Kalau dianalogikan, seperti bayi baru lahir," kata Arie yang bersaksi untuk Nunun.

Pada 2003, PT Wahana berencana memiliki pabrik sendiri. Juni 2003, kata Arie, perusahaan pun melakukan serah-terima pabrik kelapa sawit di Riau. Pabrik tersebut berkapasitas produksi 3.000 ton per jam. Untuk membiayai pendirian pabrik, PT Wahana mendapat bantuan kredit investasi dari Bank Bukopin sebesar Rp 39 miliar.

Selain itu, PT Wahana juga mendapat gelontoran kredit modal kerja dari Bank Artha Graha. "Ada juga kita dapat kredit modal kerja dari Artha Graha sekitar sebelas koma sekian miliar," ujar Arie.

Namun, Arie mengaku tidak terlalu terlibat dalam pengucuran kredit modal kerja dari Artha Graha. "Untuk kredit investasi saya ikuti karena perlu ada penjelasan mendetail tentang keuangan. Ketika perjanjian kredit dengan Artha Graha, saya tidak ikuti dan tidak tanda tangan," ujarnya.

Menurut Arie, proses peminjaman pada kedua bank tersebut berlangsung pada pertengahan 2004. Modal pembangunan pabrik kelapa sawit, selain diperoleh dari pinjaman Bank Bukopin, juga diperoleh dari modal milik perusahaan sebesar Rp16 miliar.

Artha Graha diduga berposisi sebagai sponsor pengadaan dan 480 lembar cek pelawat senilai Rp 24 miliar yang dibagikan Nunun kepada sejumlah anggota DPR RI periode 1999-2004. Cek dibagikan agar anggota DPR memilih Miranda Swaray Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior BI Periode 2004.

Artha Graha adalah perusahaan milik pengusaha Tomi Winata. Bank itu memesan cek pelawat ke Bank Internasional Indonesia setelah mengabulkan kedit Rp 24 miliar kepada PT First Mujur Plantation and Industry, perusahaan perkebunan.

PT First memesan cek itu untuk membeli sebuah lahan di Tapanuli milik seseorang bernama Ferry Yen. Ferry menginginkan agar lahannya tidak dibayar dengan duit, tapi cek. Namun, belakangan cek itu mengalir ke PT Wahana Esa Sejati.

ISMA SAVITRI

Berita terkait:

Nunun Akan Dibawa ke RS Harapan Kita

Kata Adang, Nunun Siap ke Persidangan

Berkas Rampung, Nunun Segera Diadili

Berkas Nunun Rampung, Miranda Menyusul?

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.