Perusahaan telekomunikasi Jepang menentang akuisisi NTT senilai 40 miliar dolar AS

·Bacaan 1 menit

Tokyo (AFP) - Perusahaan-perusahaan telekomunikasi Jepang, Rabu, mengajukan banding ke kementerian komunikasi atas rencana pengambilalihan operator mobile terbesar negara itu senilai 40 miliar dolar AS oleh induknya yang didukung pemerintah dengan mengingatkan bahwa akuisisi itu akan "menghalangi persaingan yang sehat".

NTT pada September mengumumkan rencananya membeli sisa saham di NTT Docomo dalam kesepakatan yang berpotensi memecahkan rekor.

NTT saat ini menguasai 66 persen saham NTT Docomo dan kepala eksekutifnya berpendapat langkah tersebut akan meningkatkan "daya saing dan pertumbuhan".

Tetapi pada Rabu, 28 perusahaan telekomunikasi Jepang termasuk pesaing-pesaing Docomo SoftBank Corp dan KDDI mengirimkan surat bersama kepada menteri komunikasi untuk memprotes langkah tersebut.

Menjadikan Docomo sebagai perusahaan yang sepenuhnya dimiliki "akan menciptakan kekuatan yang amat berkuasa yang bisa mendominasi pasar", kata mereka.

"Hal itu akan mencegah persaingan yang sehat di pasar telekomunikasi dan keuntungan yang dihasilkan pengguna dari kompetisi bisa saja hilang."

Surat bersama tersebut menyeru sang menteri "agar menetapkan langkah-langkah melindungi lingkungan persaingan yang sehat dan menginstruksikan serta memastikan kepatuhan dan implementasi".

Proposal akuisisi NTT muncul pada saat kompetisi dalam sektor ini memanas, dengan 5G di cakrawala dan tekanan dari pemerintah agar perusahaan-perusahaan Jepang memangkas harga layanan telepon mobile.

Dengan kendali penuh atas NTT Docomo, NTT mungkin bisa menekan harga dengan cepat sehingga memaksa pesaing mengikutinya.

Tetapi para kepala kedua perusahaan membantah bahwa tekanan atas harga berada di balik kesepakatan itu.

Penawaran untuk pembelian saham ini diluncurkan September dan tetap terbuka hingga 16 November, sementara buyout penuh diperkirakan diselesaikan akhir tahun fiskal pada Maret.


nf/sah/dan