Pesan Erick Thohir di KAI Culture Fest: Tak Ada Ruang Radikalisme di BUMN

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta PT Kereta Api Indonesia (KAI) resmi menggelar perhelatan virtual KAI Culture Fest sebagai bentuk seremoni internalisasi budaya Akhlak BUMN dalam tubuh perusahaan. Kementerian BUMN menilai aspek budaya adalah penting dalam mencapai target perusahaan.

Deputi bidang SDM, Teknologi dan Informasi Kementerian BUMN, Tedi Bharata menyebut, implementasi budaya tak bisa hanya dilakukan dalam semalam. Gelaran KAI Culture Fest ini, kata Tedi, sebagai langkah awal dalam internalisasi budaya Akhlak BUMN.

“Tentu budaya tak bisa dilakukan dalam semalam, ada banyak hal terkait, paling tidak budaya itu cerminan dari pemahaman, sikap, perbuatan,” katanya dalam pembukaan KAI Culture Fest, mewakili Menteri BUMN, Erick Thohir, Rabu (6/10/2021).

Lebih jauh, ia menyebut bahwa poin penting dari budaya ini ada beberapa poin yang mencakup dan mampu mendorong kemajuan yang dilakukan bersama.

“Kata kuncinya dari couture ini kan hal yang disepakati, dan dipahami secara bersama, dilakukan bersama dan sustainable, hal ini harus terus dilakukan berbagai macam program agar bisa terinternalisasi, jadi insan-insan KAI bisa cerminkan core value atau Akhlak ini,” tuturnya.

Bahkan, selain dari penting dalam mencapai tujuan bisnis, adanya penerapan budaya kerja mampu untuk menghindarkan dari pemahaman radikal di dalam tubuh BUMN.

“Kita secara tegas sampaikan, kita tak ada ruang bagi radikalisme di BUMN,” katanya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Apresiasi

Direktur Utama (Dirut) KAI Didiek Hartantyo dan Komisaris Utama (Komut) KAI Said Aqil Siroj meninjau Stasiun Pasar Senen (dok: KAI)
Direktur Utama (Dirut) KAI Didiek Hartantyo dan Komisaris Utama (Komut) KAI Said Aqil Siroj meninjau Stasiun Pasar Senen (dok: KAI)

Lebih lanjut, Tedi mengapresiasi kinerja KAI lewat berbagai upaya-upaya transformasi bisnis yang dijalankan. Selain itu, ia menilai KAI kerap menyelesaikan berbagai penugasan dengan hasil yang positif.

“Ini harus dimaknai sebagai amanah, tak ada perusahaan seperti KAI yang miliki historis dan sejarah dan kontribusi nyata kepada bangsa indonesia,” kata Tedi.

Kendati begitu, Tedi mengingatkan beberapa poin tantangan yang dihadapi oleh KAI kedepannya. Salah satunya adalah tantangan optimalisasi aset milik KAI yang masih banyak tak terpakai.

“Tantangan dari KAI selain peningkatan performa bisnis, ada optimalisasi aset yang perlu dilakukan, KAI punya banyak aset, ini harus bisa dioptimalisasi lebih baik, ini bisa (disebut) sebagai adaptif untuk lakukan beberapa inovasi dalam merespon keadaan,” tuturnya.

Sementara itu, merespons beberapa daerah operasi yang menyampaikan ide terkait penerapan budaya kerja di lingkungannya, Tedi berharap hal itu tak sebatas ide, tapi mampu untuk diterapkan.

“Ini jalan kita, terkait dengan penerapan budaya di BUMN masih panjang, saya yakin kalau kita bersama, terbuka, transparan, (mampu) mengubah diri lebih baik lagi,” tutupnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel