Pesan Haru Ibunda Saat Dian Sastro Putuskan Mualaf

Donny Adhiyasa, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Dian Sastrowardoyo menceritakan bagaimana keluarganya yang sangat mendukungnya dalam menemukan Islam. Dian Sastro diketahui lahir dari keluarga yang memiliki latar belakang perbedaan agama.

Ibunda Dian diketahui beragama Katolik yang taat, dan sang ayah diketahui beragama Budha. Dijelaskan Dian Sastro, saat usianya 17 tahun dia ingin memiliki kebebasan dalam mencari agama yang akan dianutnya.

"Di umur 17 tahun gue sempet pengen cari dan bersamaan dengan gue tertarik banget sama filsafat gue merasa pengen punya kebebasan untuk bener-bener nyari dan finding yang gue itu apa ya. Dulu bokap kan sempet nyari dan nemu di Budha, mungkin gak sih gue kayak gitu atau gue punya cara sendiri jalan sendiri dan gue coba cari dan ngobrol-ngobrol mondar-mandir dan gue ketemunya di Islam," kata Dian Sastro dalam konten video channel YouTube Daniel Mananta.

Dian Sastro diketahui kemudian menjadi mualaf di tahun 2006 lalu. Saat memutuskan untuk menjadi mualaf, diakui Dian sang ibu mendukungnya dengan syarat Dian harus bisa bertanggung jawab atas pilihannya itu.

"Dan gue merasa bersyukur bahwa nyokap punya keterbukaan yang sangat supportif (dia bilang) 'yang penting kamu taat yah jangan karena orang' dan cara gue ngejalanin selalu beda selalu personal buat gue. Dan nyokap kayaknya bisa liat itu," jelas Dian Sastrowardoyo.

Tidak sampai di situ, Dian juga bercerita sang ibu sempat menangis bangga saat ia mampu khatam Al Quran sebelum dirinya dipinang oleh Indraguna Sutowo.

"Waktu itu gue belum pernah khatamin Al Quran sebelum nikah gue khatamin Al Quran untuk pertama kalinya wah gue ternyata bisa ya. Gue juga gak tau gue bisa pas gue khatamin Al Quran nyokap gue sampai nangis loh. Padahal nyokap gue katolik jadi betapa bangga gue dengan pencapaian spiritual gue sendiri gitu jadi kayak toleransi di keluarga gue dan gue merasa sangat bersyukur sampai sekarang," jelas Dian.

Tidak hanya itu saja, dirinya juga menceritakan bagaimana toleransi agama di keluarganya. Seperti misalnya saat Paskah Dian membantu menyiapkan makanan untuk sang ibu dan sebaliknya ibunya juga sering membantu Dian menyiapkan makanan ketika Dian menggelar pengajian.

"Gue merasa sangat bersyukur sampai sekarang gue masih serumah sama nyokap dan kita saling menguatkan banget. Kemarin nyokap paskah gue bikinin makanan mereka doa, kalau gue pengajian nyokap bantuin atur-atur makanan emang keluarga kita warna-warni banget dan bhineka banget," kata Dian Sastro.