Pesan MUI soal Kasus ACT: Ayo Terus Berderma dan Berbagi Lewat Lembaga Terpercaya

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Muhammad Cholil Nafis menyoroti soal turunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga filantropi yang berdampak pada merosotnya minat untuk berdonasi. Hal itu efek dari penyelewengan dana donasi umat yang dilakukan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT).

"Kepada umat jangan sampai jadi orang jahat karena orang lain tidak baik, artinya yang kita dermawan jangan berhenti dermawan karena mungkin donasi kita diselewengkan biar dia yang bertanggung jawab di hadapan Allah," katanya saat dihubungi merdeka.com, Rabu (13/7).

Lebih lanjut, ia berpesan agar masyarakat lebih teliti dan hati-hati dalam berdonasi kepada lembaga filantropi. Serta menjadi perhatian lebih bagi pengelola atau lembaga dana umat agar semakin akuntabel dan bisa dipercaya masyarakat.

"Ini menjadi perhatian bagi kita bahwa kita perlu mencari dipercaya lembaganya kalau toh kemudian kita kepleset ternyata tidak bisa amanah itu biar menjadi urusan dengan Allah," ucapnya.

"Dan ayo kita terus berderma dan berbagi dengan yang lain dan kita memilih lembaga yang bisa lebih dipercaya," tambah Cholil.

Akan tetapi, ia meminta kepada seluruh masyarakat untuk tidak menghakimi terkait kasus dugaan penyelewengan dana yang dilakukan oleh ACT, sebelum keputusan resmi dari pihak yang menangani kasus tersebut.

"Tetapi kita jangan memvonis sebelum ada kejelasan hukum tetapi isu begini membuat kita lebih hati-hati untuk menjaga kepercayaan umat dan mengelola dengan amanah," tegasnya.

Efek kasus ACT tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga filantropi menurun

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) memprediksi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat dan lembaga filantropi untuk berdonasi akan berkurang usai kasus dugaan penyelewengan dana oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) terkuak ke publik.

"Yang turun kepercayaan terhadap lembaga. Sementara kebaikan itu rasanya akan tetap," kata Deputi Baznas Arifin Purwakananta, dalam diskusi yang disiarkan secara virtual, Sabtu (9/7).

Arifin menyampaikan, masyarakat akan tetap melakukan donasi. Namun tidak melalui lembaga, melainkan jalur individu.

Belum lama ini, Baznas telah menghitung jumlah donasi yang terkumpul lewat lembaga untuk Iduladha. Hasilnya, jumlah donasi itu lebih kecil dari sebelumnya.

Arifin berkata kasus ACT itu telah membuat masyarakat lebih hati-hati dalam berdonasi. Namun, imbasnya donasi terhadap lembaga berkurang.

"Misalnya dalam konteks kurban, biasanya saat ini H-3, kita akan berakhir pada hari tashriq kedua kita sudah mendapatkan 80 persen dari target. Tapi kita baru cek, baru 47 persen dari target," ungkap dia.

Bukan hanya itu, menurut Arifin, kasus ACT juga berpotensi melunturkan semangat anak muda untuk menjadi amil zakat. Padahal, pihaknya mengaku sudah susah payah mengkader anak-anak muda agar tertarik dengan itu.

"Nah begitu ketika terjadi tragedi ini, maka bukan saja kekhawatiran donatur jadi berhenti. Anak-anak muda yang dulu kita dorong ini yang bercita-cita jadi amil zakat, mungkin sekarang mikir-mikir lagi," tuturnya. [fik]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel