Pesan Patriotisme Gencar Disuarakan dalam Peringatan 100 Tahun Partai Komunis China

·Bacaan 2 menit

, Beijing - Patriotisme menjadi tren di China jelang peringatan 100 tahun kelahiran Partai Komunis, Kamis (01/07) mendatang.

Film, wisata sejarah atau kabar keberhasilan misi antariksa memenuhi laman propaganda pemerintah. Dan perayaan kali ini berpusar pada sosok Xi Jinping, pemimpin China paling berkuasa sejak Mao Zedong, demikian dikutip dari laman DW Indonesia, Selasa (29/6/2021).

Xi yang memerintah sejak 2012 dan berkuasa melampaui batas masa jabatan presiden itu dijadwalkan berkeliling negeri menyambangi beragam pesta dan peringatan. Tema yang diangkat adalah keberhasilan Partai Komunis membawa China melewati masa-masa peperangan, bencana kelaparan atau kerusuhan sosial.

Animo warga bisa disimak pada kerumunan wisatawan muda di patung raksasa Mao di Changsa, Provinsi Hunan. "China berkembang sejauh ini berkat upaya para pendiri bangsa dan generasi awal Partai Komunis," kata Li Peng, seorang mahasiswa berusia 23 tahun. "Partai Komunis China (PKC) tidak sedang sekarat. Sebaliknya partai ini penuh kehidupan."

"Sekarang, kaum muda berjiwa patriotis dan tidak takut untuk menyampaikan pendapat," imbuhnya.

Jelang peringatan ke-100, PKC menerbitkan buku sejarah baru bagi generasi muda untuk "memastikan digunakannya sejarah yang tepat tentang Partai Komunis China," kata Xi. Dalam edisi tersebut, sejarah PKC disajikan dalam tiga babak, yang mengesampingkan bencana kelaparan akibat aksi long march Mao Zedong sebagai akibat "bencana alam."

Sebaliknya lebih dari sepertiga buku didedikasikan untuk membahas sejarah PKC pasca 2012, setelah berkuasanya Xi Jinping.

"Kampanye sejarah partai adalah cara Xi memperkuat reputasinya dan menempatkannya di jantung partai," kata Carl Minzer, Guru Besar Politik dan Hukum China di Fordham University.

Merebut dukungan kaum muda

Xi Jinping adalah Presiden China, namanya ditulis dalam konstitusi Partai Komunis sehingga menguatkannya sebagai pemimpin negara paling berkuasa dalam beberapa dekade terakhir. (AFP Photo/Pool/Fred Dufour)
Xi Jinping adalah Presiden China, namanya ditulis dalam konstitusi Partai Komunis sehingga menguatkannya sebagai pemimpin negara paling berkuasa dalam beberapa dekade terakhir. (AFP Photo/Pool/Fred Dufour)

Menurut Minzer, setiap bentuk penyimpangan dari garis besar haluan partai akan ditindaklanjuti dan interpertasi sejarah yang berbeda dari ketentuan partai disebut sebagai "nihilisme sejarah."

"Perdebatan terbuka tentang sejarah di era Mao mustahil di China saat ini," tutur Julia Lovell, Guru Besar Sejarah China di Universitas London. "Bagi Xi, kebangkitan Mao memperkuat kekuasaan partai dan memusatkan kekuasaannya secara pribadi."

Hal ini menurutnya "terlihat menyimpang di dalam China yang sudah jauh berubah dibandingkan pada era Mao," imbuhnya.

Dia mencontohkan partai yang dibangun untuk memberdayakan kelas buruh, kini secara rutin memenjarakan aktivis buruh. Sementara angkatan kerja China masih bergulat menghadapi ketimpangan sosial atau mahalnya harga kebutuhan hidup.

Kendati demikian, PKC menikmati dukungan publik yang solid, terutama sejak berhasil meredam wabah COVID-19 atau memulihkan ekonomi dan memperkuat posisi China di tatanan global yang dipenuhi konflik.

Masa depan PKC saat ini diyakini bergantung pada pemenuhan janji pertumbuhan ekonomi dan keterlibatan kaum muda. "Mereka melihat China berhasil mengontrol COVID-19, dan bahwa pemerintahan ini bisa diganti dengan sistem demokrasi dan kebebasan," kata Wu Qiang, analis politik di Beijing.

PKC juga giat menggarap media sosial dan secara perlahan membentuk generasi baru yang loyal dan berpandangan ultranasionalis. "Ini adalah alasan penting kenapa partai ini berhasil memenangkan dukungan kaum muda," tambah Wu Qiang.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel