Pesan Persaudaraan Tokoh NU dan Nahdlatul Wathan saat Doa Bersama di Polda NTB

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Doa bersama dan acara silaturahmi 'Ummat Bersatu, NTB Damai' digelar di Lapangan Tenis Mapolda NTB untuk mengawali tahun 2021. Doa bersama dihadiri Danrem 162/Wira Bhakti Brigjen TNI A Rizal Ramdhani, Gubernur NTB Zulkieflimansyah, Ketua DPRD NTB Isvie Rupaeda dan sejumlah tokoh agama serta pemuda di 'Bumi Seribu Masjid'.

“Kami tidak bisa bekerja dengan maksimal apabila tidak dibantu oleh semua stakeholders dan semua elemen, sekaligus yang paling penting terutama adalah doa dan peran para ulama, para tuan guru,” ungkap Kapolda NTB, Irjen Mohammad Iqbal selaku penyelenggara doa bersama di lokasi, Rabu (6/1/2021).

Iqbal menyampaikan ulama dan tokoh masyarakat merupakan kunci utama dalam setiap penyelesaian masalah. Tak dipungkiri, lanjut Irjen Iqbal, aparat TNI-Polri memerlukan bantuan peran para tokoh dalam melaksanakan tugas menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

“Saya dinasehati oleh Ayahanda Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Turmudzi Badruddin, katanya, 'Pak Kapolda, insyaAllah kalau niatnya baik, insyaAllah, Allah akan mengatur dan menyusun apa yang menjadi atau diniatkan',” kata Irjen Iqbal.

Mantan Kadiv Humas Polri itu berharap silaturahmi dan doa bersama dapat menjadi momen seluruh peserta meneguhkan komitmen menjaga kedamaian di NTB. Irjen Iqbal tak memungkiri dinamika di tengah masyarakat tak terhindari, namun bila seluruh elemen bergandengan tangan maka permasalahan dapat teratasi dengan solusi.

“Semoga dengan kita duduk bersama, bersilaturrahmi dan berdoa, semua permasalahan akan segera mendapatkan titik temu dan solusi. Amin,” harapnya.

Pada kesempatan yang sama, tokoh agama dari ormas Nahdlatul Ulama (NU) NTB TGH Ma’rif Makmun Diranse menyinggung masalah penggantian nama Bandara Internasional Lombok (BIL). Dia meminta semua pihak menempatkan kedamaian sebagai prioritas.

“Persoalan bandara jangan diributkan, jangan sampai membenturkan pemuka-pemuka atau pimpinan NU dan NW (Nahdlatul Wathan). Karena mereka (warga NW) adalah sahabat atau teman. Di antara kami ada hubungan emosional, ada hubungan silsilah keguruan, dan lain-lain. Karenanya, kami warga Nahdlatul Ulama meminta agar permasalahan nama bandara, jangan dikait-kaitkan dengan NU dan NW. Mari kita serahkan kepada pemerintah dan yang berwenang,” ujar Pimpinan Ponpes Manhalul Ma’arif Darek itu.

Jadikan Perbedaan untuk Kebersamaan

Sedangkan perwakilan organisasi Nahdlatul Wathan (NW) TGH. Yusuf Makmun mengatakan hidup pasti beriringan dengan masalah, termasuk soal pergantian nama bandara. Namun permasalahan tidak semestinya membuat antarmanusia bermusuhan dan menciptakan konflik sosial yang berkepanjangan.

"Perbedaan jangan menjadikan suatu masalah, karena sudah sewajarnya dalam hidup pasti ada masalah. Mari jadikan perbedaan menjadi sebuah kebersamaan. Soal nama bandara, kami menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah,” tuturnya.

Gelaran doa bersama juga dihadiri Mustasyar PBNU yang juga Pengasuh Yayasan Ponpes Qamarul Huda Bagu TGH. Lalu Turmudzi Badruddin, Ketua MUI NTB, H. Syaiful Muslim, Ketua PWNU NTB Dr. TGH. Masnun Tahir, para tokoh agama dan masyarakat (togama) serta tokoh pemuda Lombok Tengah, para tokoh organisasi NW, dan para Pejabat Utama (PJU) Polda NTB.