Pesan Terakhir Perawat Jelang Dijemput Ajal Akibat Corona Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengingatkan pentingnya peran perawat sebagai garis depan dalam perawatan pasien COVID-19. Hal ini mereka sampaikan dalam kampanye terkait Hari Kesehatan Sedunia pada 7 April 2020.

WHO juga menyoroti bagaimana para perawat di seluruh dunia saat ini berada di garis depan dalam penanganan pasien, dengan menunjukkan belas kasih dan keberanian mereka melawan COVID-19 yang tak pernah terlihat dengan jelas sebelumnya.

Para perawat pun sudah banyak yang kehilangan nyawa mereka karena mengurus para pasien Covid-19 yang memunculkan beragam cerita haru.

Seperti yang dialami perawat pria asal New York, Amerika Serikat (AS). Ia meninggal dunia di usia 48 tahun karena terpapar corona. Sebelumnya, ia sibuk membantuk pasien COVID-19 sampai akhirnya dia ikut terinfeksi.

Pesan terakhir sang perawat pun sempat viral.  Dilansir dari laman New York Times, 31 Marert 2020, pada 18 Maret 2020, Kious mengirim pesan terakhir pada saudara perempuannya Mirya Sherron. Saat itu Kious sedang dirawat secara intensif dan menggunakan ventilator.

"Tidak bisa bicara karena aku merasa tercekik dan tidak bisa bernapas. Aku mencintaimu," tulisnya dalam pesan teks untuk saudarinya itu.

Pesan miris sekaligus mengharukan itu ternyata menjadi kata-kata terakhir Kious untuk keluarganya. Perawat pria itu akhirnya meninggal dunia pada 24 Maret 2020.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Kekurangan APD

Kious Jordan Kelly, Perawat yang Meninggal Karena Corona Covid-19. (dok.Instagram @illmatica/https://www.instagram.com/p/B-LFhcvDYzm/Henry)

Mirya mengatakan kondisi saudaranya dengan cepat memburuk karena virus Corona. Dari dia mengirim pesan terakhir sampai akhirnya meninggal jaraknya tidak terlalu lama.

"Dia mengatakan kepada orangtua kami positif Corona. Tiga hari kemudian dia mengirim pesan dan mengatakan bahwa dia berada di ICU dengan ventilator dan dia tidak bisa bacara karena merasa tercekik, gangguan pernapasan. Enam hari setelahnya, dia meninggal," ungkap Mirya pada NY Post.

Bekerja sebagai asisten manager perawat di rumah sakit Mount Sinai West, New York, Amerika Serikat, Mirya menceritakan bahwa saudaranya dan tim medis lainnya kekurangan APD (Alat Pelindung Diri). Tim medis bahkan ada yang memakai pelindung diri dari plastik sampah. Hal itulah yang membuat tim medis mudah tertular.

"Aku yakin dia terinfeksi karena kekurangan APD di rumah sakitnya, tapi juga di seluruh rumah sakit di negeri ini," ucap Mirya yang prihatin dengan nasib banyak perawat seperti saudaranya dan tenaga medis lainnya yang kekurangan APD.

Saksikan video pilihan di bawah ini: