Pesan Terakhir Serda Diyut Sebelum Patroli Abadi Bersama KRI Nanggala 402

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Surabaya - Serda Diyut Subandriyo menjadi salah satu dari 53 awak KRI Nanggala-402 yang gugur setelag kapal dinyatakan tenggelam.

Serda Diyut dikenal baik, sopan, dan penyayang keluarga. Sebelum berlayar, Serda Diyut selalu mencium tangan dan sungkem untuk memohon doa restu kepada ibundanya agar tugasnya diberi kelancaran.

"Kalau seandainya ada apa-apa, nanti jasadnya ingin dibawa ke pangkuan ibunda," ujar Sartiningsih, menirukan ungkapan putranya tersebut saat sungkem dan meminta doa restu demi kelancaran tugas pada Minggu 18 April lalu.

Sartiningsih menyatakan, tidak ada firasat apa pun ketika anaknya hendak menjalankan tugas negara bersama KRI Nanggala 402. Bahkan, peristiwa hilang dan tenggelamnya kapal selam yang menimpa putra-nya itu diketahuinya dari media elektronik.

Saat tidur, usai mengetahui kapal selam yang digunakan anaknya hilang kontak dan tenggelam, ia bermimpi bahwa anaknya pulang dengan mengenakan celana doreng (loreng) seragam TNI dan kaos putih. Kini, ia pasrah dan berdoa, berharap anaknya dan awak kapal lainnya dapat ditemukan.

Helen, istri Serda Diyut, juga menyampaikan ungkapan terakhir suaminya kepadanya saat ia mengantarkan ke Terminal Madiun untuk bertolak ke Surabaya guna kembali berlayar pada Minggu, 18 April lalu.

Sebelum berangkat naik bus, Serda Diyut sempat menyampaikan firasat tidak enak dalam tugas berlayarnya kali ini.

Namun, sebagai istri, Helen menguatkan suami agar tetap menjalankan tugas yang telah diberikan satuan dengan baik.

"Kemarin waktu mau layar itu cuma bilang, minta doanya, ya, Nda (Bunda). Dan itu diucapkan berkali-kali oleh Pak Diyut sebelum berangkat naik bus ke Surabaya," tutur Helen.

Menurut Helen, ungkapan tersebut tidak biasanya dikatakan oleh suaminya saat hendak tugas berlayar.

Kepala MI Darul Ulum Kota Madiun itu mengatakan kontak terakhir dengan suaminya dilakukan pada hari Selasa (20/4) malam sekitar pukul 22.00 WIB melalui pesan WA.

Setelahnya, ia tidak dapat menghubungi Diyut hingga mendapat kabar bahwa Kapal Selam KRI Nanggala-402 yang membawa suaminya dan 52 awak lainnya dinyatakan hilang dan tenggelam.

Putra Madiun

Serda Diyut Subandriyo merupakan putra kelahiran Madiun pada 30 September 1984. Ia adalah anak kelima dari enam bersaudara.

Yang bersangkutan merupakan alumni SMP Negeri 7 Kota Madiun. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMK YP 17-1 Madiun dan setelah tamat mendaftarkan diri sebagai prajurit TNI Angkatan Laut.

Ia kemudian menikahi Helen pada tahun 2009 dan dikaruniai dua anak. Pertama perempuan berusia 11 tahun dan anak kedua, laki-laki berusia 5 tahun.

Saksikan video pilihan di bawah ini: