Pesan Wapres soal Kasus Prancis: Kebebasan Itu Dibatasi Agama

Fikri Halim, Reza Fajri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyesalkan ucapan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyinggung umat Islam di seluruh dunia. Ma'ruf berharap Prancis bisa menemukan formula yang tepat terkait kebebasan beragama di sana.

"Kita berharaplah Prancis bisa menemukan formula yang tepat dalam mengelola kehidupan beragama di sana," kata Ma'ruf secara virtual, Jumat, 6 November 2020.

Dia berharap, negara Prancis bisa ditemukan titik-titik keseimbangan antara nilai-nilai lama yang ada di Prancis dengan kondisi saat ini, terutama soal populasi muslim. “Juga ada dinamika baru, terutama populasi muslim di Prancis," ujarnya.

Baca juga: Soal Pengamanan Ekstra di Perusahaan Prancis, Ini Kata Polisi

Ma'ruf menilai, kerukunan beragama yang dilakukan di Indonesia bisa ditiru di tingkat global. Sebab, sistem ini menurutnya terbukti telah mampu menjaga keharmonisan beragama di Indonesia walaupun kebebasan berekspresi tetap dilakukan.

"Sebenarnya kita mempunyai modal bagaimana moderasi yang kita terapkan di Indonesia, sehingga ini kemudian membangun adanya harmoni atau adanya toleransi adanya hubungan yang baik antar umat beragama di Indonesia ini," ujar Wapres.

Di Indonesia, lanjut Ma’ruf, pemerintah dan organisasi kemasyarakatan atau ormas keagamaan memiliki prinsip yang sama sesuai dengan konstitusi dalam membangun relasi komunikasi yang baik. Sehingga relasi persaudaraan umat beragama di dunia ini tidak tercederai. Itulah yang terjadi dalam konstitusi di Indonesia bahwa kebebasan itu dibatasi oleh agama.

"Kebebasan itu dibatasi oleh nilai-nilai agama, oleh norma-norma, oleh undang-undang. Jadi enggak boleh sama sekali tanpa batas itu. Inilah yang kemudian kita ingin terus komunikasikan secara global supaya kebebasan itu tidak menodai, mencederai kebebasan orang lain, hak asasi orang lain," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, Ma'ruf Amin angkat suara mengenai ucapan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang membuat marah banyak umat Islam di dunia. Wapres Ma'ruf menegaskan agama berbeda dengan terorisme.

"Pernyataan (Macron) tidak bisa dibenarkan, sebab tidak ada satu agama pun yang tentu mentolerir terorisme. Karena itu, agama adalah agama, terorisme adalah terorisme," kata Ma'ruf.

Tokoh senior Nahdlatul Ulama ini menegaskan apa yang diucapkan oleh Presiden Macron ini telah mencederai hak asasi dan simbol agama umat Islam di seluruh dunia. "Ya, jadi sebenarnya itu, hal yang itu juga bisa menimbulkan kemarahan dari banyak pihak," ujar Ma'ruf.