Pesawat Hawk 209 AU Punya Sejarah Lawan GAM Hingga Usir Jet Australia

Rifki Arsilan

VIVA – Pagi tadi, kabar duka kembali melanda TNI Angkatan Udara. Salah satu pesawat tempur andalan TNI AU yang bermarkas di Skuadron Udara 12 'Black Panther' jenis BAE Hawk 200 yang diawaki oleh pilot Lettu Pnb Apriyanto Ismail mengalami kecelakaan tunggal di dekat pangkalan udara atau Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.

Menurut keterangan Kepala Pusat Penerangan TNI Angkatan Udara (Kapuspenau) Marsma TNI Fajar Adriyanto, tidak ada korban jiwa atas insiden kecelakaan pesawat tempur yang memiliki julukan 'Cabe Rawit dari Inggris' itu. Sang pilot berhasil keluar melalui kursi pelontar sesaat sebelum pesawat 'mencium tanah'.

"Pilot berhasil melontarkan diri dari pesawat menggunakan ejection seat dan selamat. Saat ini berada di RSAU dr. Soekirman Lanud Rsn Pekanbaru untuk pemeriksaan lebih lanjut," kata Marsma TNI Fajar Adriyanto kepada VIVA Militer, Senin, 15 Juni 2020. 

Baca : Pesawat Tempur Hawk 100 TNI AU Jatuh, Pilot Dilarikan ke Rumah Sakit

Untuk diketahui, pesawat Hawk 200 yang didesain khusus latih tempur (Lead In Fighter Trainer) buatan BAE Systems Inggris ini tercatat memiliki sejarah perang melawan pemberontak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam Operasi Daerah Operasi Militer (DOM Aceh) pada tahun 2003 silam. 

Dikutip dari Airspace Review.com, pertama kali TNI AU mengerahkan empat unit pesawat Hawk 209 sebagai Air Escort untuk mengawal operasi penerjun pasukan Linud Kostrad yang terbang dengan enam pesawat C-130 Hercules ketika mengambil alih Lanud Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh.

Pesawat Hawk 100/200 di Lanud Sultan Iskandar Muda

Dalam operasi pengambilalihan Lanud Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh dari tangan separatis GAM itu, empat pesawat tempur Hawk 209 terbang menggunakan sandi 'Sriti Flight'. Empat pesawat Hawk 209 meluncur dari Lanud Polonia, Medan yang ketika itu menjadi pangkalan Aju. Keempat Hawk yang saat itu diterjunkan untuk membackup enam pesawat Hercules C-130 yang membawa pasukan penerjun payung Kostrad adalah pesawat Hawk 209 dengan nomor ekor TT-0205, TT-0212, TT-0213, TT-0214 yang dikomandoi oleh Komandan Skuadron Udara 12 saat itu, Mayor Pnb Henry Alfiandi.

Setelah mengawal operasi penerjunan enam Hercules C-130, keempat pesawat Hawk 209 kembali ke pangkalan Lanud Polonia Medan. Di hari yang sama, pesawat Hawk 209 itu juga digunakan untuk menjalankan misi melindungi pendaratan PPRC Marinir di Pantai Jalo.

Meski memiliki kemampuan serang darat yang mumpuni, keempat Pesawat Hawk 209 tidak menggunakan kekuatan tempur maksimalnya dalam menjalankan operasi militer di Aceh tersebut. 

Dalam misi kawal Hercules C-130, setiap pesawat Hawk 209 membawa dua tangki eksternal (drop tank), dan sepasang rudal AIM-9 Sidewinder di ujung sayapnya, serta mengusung Kanon Aden 30 mm di bawah perut pesawat. Meski tak satupun dari pesawat Hawk 209 yang melepaskan munisinya, konon katanya Pemerintah Inggris sempat melakukan protes atas penggunaan Hawk 209 tersebut. Karena salah satu klausul perjanjian dalam pembelian pesawat Hawk 109 dan 209, Pemerintah Inggris dan Pemerintah Indonesia sepakat bahwa pesawat tersebut tidak boleh digunakan untuk konflik internal dalam negeri.

Pesawat terbang Hawk 200 terbang formasi dengan pesawat F-5

Selain dilibatkan dalam Operasi DOM Aceh, pesawat Hawk juga pernah mengalami ketegangan dengan dua pesawat jet F/A-18 Hornet milik Angkatan Udara Australia (RAAF) yang pernah menerobos masuk wilayah udara Kupang, NTT pada tahun 1999.

Aksi penerobosan jet tempur Hornet milik Australia itu terjadi tidak lama setelah PBB mengumumkan hasil jajak pendapat rakyat Timor Timur. Satu unit Hawk 209 yang dipiloti Kapten Pnb Azhar Aditama dan dikawal satu unit Hawk 109 berhasil mengusir jet tempur F/A-18 Hornet milik RAAF keluar dari wilayah udara Indonesia. 

Baca : Mengintip Sosok Pesawat Tempur Hawk 109/209 yang Jatuh di Riau