Pesawat Latih TNI AL Jatuh, Anggota Komisi I Ingin Ada SOP Penggunaan Alutsista

Merdeka.com - Merdeka.com - Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar Dave Akbarshah Fikarno atau akrab disapa Dave Laksono berbelasungkawa atas kejadian pesawat latih TNI Angkatan Laut (AL) tipe Bonanza G-36 nomor registrasi T-2503 yang jatuh di selat Madura, antara Bangkalan dan Gresik, Jawa Timur, Rabu (7/9).

Diketahui, pesawat latih ini take off dari bandara Juanda dengan rute Sub-(Armada) Loc Area-Sub. Pilot bernama Yudistira dan co pilot Dendi.

Dengan adanya kejadian ini, ia ingin agar adanya koreksi kedepannya terkait dengan Standard Operasional (SOP) tentang penggunaan pesawat. Hal ini agar tidak ada lagi kejadian pesawat jatuh.

"Yang pertama saya sampai turut berduka cita terhadap kejadian tersebut. Ini yang harus menjadi korektif ke depan, yaitu adalah SOP-nya bagaimana, kenapa itu bisa terjadi dan berulang kali. Jadi perlu ada reformasi dalam SOP tentang penggunaan pesawat (alutsista), baik itu pesawat, kapal angkatan laut, kapal selam, tank juga. Jadi perlu ada reformasi di tubuh TNI," kata Dave kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (8/9).

"Dan sejauh ini Pak Andika sudah terus mendorong melakukan perbaikan. Akan tetapi apabila terjadi kendala bilamana alat tempur tersebut sudah usianya uzur, sudah tidak dalam kondisi prima, ya semestinya harus ada perbaikan," sambungnya.

Tak hanya meminta untuk memperbaiki SOP, ia juga ingin untuk mengecek terhadap kondisi pesawat serta Sumber Daya Manusia (SDM).

"Tentu kita masih menunggu laporan resminya apa yang benar-benar terjadi. Kesalahan dimana dan bagaimana disaat kejadian, dan karena kalau baru keluar dari bengkel istilahnya ya, menyelesaikan di cek di cek, tapi misalkan itu tidak layak atau dipaksakan, atau pilot belum memahami kondisi pesawat seperti ap, itu bisa jadi salah satu sumber peristiwa tersebut. Jadi perlu ada peningkatan baik dari perawatan ataupun SDMnya," ujarnya.

Selain itu, ia ingin adanya dorongan dari pemerintah untuk adanya perbaikan dalam peremajaan dari alutsista secara keseluruhan. Apalagi, Indonesia saat ini tidak dalam kondisi yang sedang perang.

"Dari pemerintah untuk mendorong ada refurbishment peremajaan dari alutsista kita. Kita kan dalam kondisi damai dan tidak berperang dengan siapapun, nah ini pesawat terus berjatuhan? Bagaimana kita dalam keadaan perang nah kenapa? Karena ancaman itu ada dan nyata, potensi konflik di laut China Selatan ada, potensi krisis pangan energi selalu menghantui kita," ujarnya.

"Permasalahan pandemi belum juga selesai, nah kalo kondisi TNI tidak dalam kondisi siaga dan peralatan tempur tidak dalam kondisi prima, ya sulit kita untuk menjaga kedaulatan dan kewibawaan kita dan juga kita harus ada sikap yang tegas, dan jelas untuk mendukung TNI khususnya untuk bisa melakukan operasi militer dengan peralatan tempur prima," tutupnya. [eko]