Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Hilang Kontak, 3 Klub Sepak Bola Ini Pernah Jadi Korban Kecelakaan Udara

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 dengan rute Jakarta-Pontianak dikabarkan hilang kontak, pada Sabtu (9/1/2021). Terakhir terjadi kontak pada pukul 14.40 WIB. Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati membenarkan telah terjadi lost contact pesawat udara Sriwijaya Air.

Dia mengatakan, hilangnya kontak Sriwijaya Air saat ini tengah dalam investigasi dan tengah dikoordinasikan dengan Basarnas dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Sementara itu, Bupati Kepulauan Seribu Junaedi mengaku menerima kabar adanya pesawat yang jatuh di sekitar lokasi daerahnya. Pesawat komersil Sriwijaya Air tujuan Jakarta-Pontianak sendiri mengalami hilang kontak.

"Hanya informasi dulu, mungkin saat ini sedang ada pencarian infonya ada yang jatuh, meledak di Pulau Laki," tutur Junaedi saat dikonfirmasi, Sabtu (9/1/2021).

Tragedi pesawat udara juga pernah menimpa insan sepak bola. Mereka meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat terbang. Bahkan, insiden seperti ini bahkan pernah merenggut nyawa satu tim sekaligus.

Berikut ini merupakan tiga tragedi pesawat jatuh yang juga menelan korban pemain dari klub sepak bola.

Chapecoense

Alan Ruschel, salah seorang bek Chapecoense ditemukan selamat dari tragedi pesawat jatuh di Kolombia (Itv.com)
Alan Ruschel, salah seorang bek Chapecoense ditemukan selamat dari tragedi pesawat jatuh di Kolombia (Itv.com)

28 November 2016 menjadi momen kelabu bagi klub asal Brasil ini. Bukan karena kalah menyesakkan dalam sebuah laga, tapi karena klub yang identik dengan warna hijau itu kehilangan hampir seluruh skuat intinya dalam kecelakaan pesawat LaMia Flight 2933.

Mereka termasuk dalam 77 korban meninggal dunia saat pesawat yang membawa mereka dari Santa Cruz de la Sierra, Bolivia menuju Medellín, Kolombia kecelakaan. Pesawat nahas tersebut kehabisan bahan bakar sebelum akhirnya menghantam pegunungan Cerro Gordo.

Saat kejadian, para pemain hendak bertanding melawan Atletico Nacional pada final Copa Sudamericana, kompetisi antarklub Amerika Latin yang setara dengan Liga Europa.

Tiga pemain selamat dalam kejadian tersebut. Mereka adalah bek kiri, Alan Ruchel (18), kiper cadangan, Jakson Follmann (19), dan bek tengah Neeto. Follmann harus kehilangan satu kakinya akibat kejadian ini dan segera memutuskan pensiun dari sepak bola.

Kiper utama, Danilo, juga masih hidup saat ditemukan tim penyelamat. Namun nyawanya tidak bisa diselamatkan. Dia tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Manchester United

Suasana di luar kandang Manchester United (MU), Old Trafford. (AFP/Oli Scarff)
Suasana di luar kandang Manchester United (MU), Old Trafford. (AFP/Oli Scarff)

Matt Busby merupakan salah satu manajer terbaik yang pernah dimiliki Manchester United (MU). Selama menangani Setan Merah, Busby sangat berkuasa. Dia menentukan sendiri pemain-pemain yang akan dibeli, pemain yang dilepas, dan turun melatih di lapangan.

Busby menyukai pemain muda. Skuatnya kala itu dihuni pemain dengan rata-rata berusia 22 tahun. Itu sebabnya, para pemain di era Busby, akrab disebut sebagai Busby Babes.

Pada tahun 1952 pasukan Busby berhasil menjuarai Divisi Utama Liga Inggris. Ini sekaligus menjadi gelar liga pertama Setan Merah setelah penantian panjang selama 41 tahun. Sejak saat itu, MU mulai di perhitungkan di kancah sepak bola domestik maupun internasional.

Namun musibah menimpa Busby Babes pada 6 Februari 1958. Pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan di Munich, Jerman. Saat itu, para pemain MU berniat kembali usai bertemu dengan tim Yugoslovakia, Red Star Belgrade di Piala Eropa.

Selain para pemain, pesawat nahas itu juga membawa suporter dan wartawan. Sebanyak 20 dari 44 penumpang dinyatakan tewas dalam kejadian ini, termasuk delapan pemain MU. Sementara 23 penumpang lainnya mengalami luka parah termasuk, Matt Busby.

Torino

Klub Serie A, Torino akan mengunakan jersey khusus untuk memperingati satu tahun tragedi kecelakaan pesawat yang menimpa klub Chapocoense (AFP Photo/Nelson Almeida)
Klub Serie A, Torino akan mengunakan jersey khusus untuk memperingati satu tahun tragedi kecelakaan pesawat yang menimpa klub Chapocoense (AFP Photo/Nelson Almeida)

1942-1949 menjadi era keemasan Torino. Dalam kurun waktu itu Tim asal kota Turin itu meraih lima gelar liga secara beruntun. Pada masa itu, Torino juga menjadi tulang punggung timnas Italia. Setidaknya 10 pemain tim berjuluk Il Toro itu berada di skuat Gli Azzurri.

Namun masa keemasan ini juga diwarnai tragedi pilu. Pada 4 Mei 1949, pesawat FIAT G212 yang membawa skuat Torino menabrak dinding gereja Basilica of Superga yang berada di kota Turin. Saat itu, para pemain bersama sejumlah awak media baru saja kembali dari Lisbon usai menjalani laga persahabatan melawan SL Benfica. Tidak ada yang selamat dalam kejadian ini. Sebanyak 27 penumpang dan tiga awak kabin dinyatakan meninggal dunia.

Dua hari setelah kejadian tersebut, Torino pun dinobatkan sebagai juara. Baik Torino maupun lawan-lawannya menurunkan pemain usia muda di empat pertandingan sisa.

Jutaan warga turun ke jalananan kota Turin di hari pemakaman para korban. Akibat kejadian ini, timnas Italia sempat trauma bepergian naik pesawat. Karena itu, Gli Azzurri memutuskan bertolak ke Piala Dunia 1950 di Brasil dengan menggunakan kapal laut.

Simak Video Menarik Berikut Ini