Pesona Kas Hartadi, Membangun Mimpi dari Krama Yudha Tiga Berlian

Bola.com, Solo - Sepak bola Indonesia pada era awal dekade 1990an memiliki pemain hebat, yakni Kas Hartadi. Pesepak bola asal Solo ini melambung di Palembang bersama klub beken Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) pada era kompetisi Galatama.

Meski lahir dan belajar sepak bola di kampung halamannya, Kas Hartadi meraih banyak kesuksesan di tanah rantau. Selain bersama KTB, Palembang sepertinya sangat jodoh bagi Kas Hartadi.

Mengenyam berbagai gelar juara bersama klubnya, berkat KTB dirinya naik level hingga ke Timnas Indonesia. Pria yang selama masih aktif bermain dijuluki Si Kijang ini sangat diandalkan oleh Tim Merah putih.

Medali emas SEA Games Manila pada 1991 menjadi satu bukti rangkaian kesuksesannya di sepak bola. Tidak sampai di situ, setelah gantung sepatu nama Kas Hartadi tetap moncer usai membawa Sriwijaya FC menjuarai Liga Indonesia.

Kepada Bola.com, Kas Hartadi bercerita panjang lebar tentang kiprahnya selama di lapangan hijau. Berikut ini ulasan menarik sosok Kas Hartadi, sejak awal karier hingga menjadi pelatih jempolan. Impian yang sudah lama dibangunnya.

Sepak Bola Menjadi Cita-cita

Kas Hartadi bersama Timnas Indonesia. (Dok. Pribadi Kas Hartadi)

Kas Hartadi lahir di Surakarta pada 6 Desember 1970. Sepak bola sudah digelutinya sejak masih kanak-kanak, yakni di bangku Sekolah Dasar.

Tiada hari tanpa bermain sepak bola bersama teman-temannya di kampung. Ia menceritakan olahraga si kulit bundar adalah kegemaran sekaligus impiannya bisa menjadi pemain nasional.

"Mulai kelas 3 SD sudah belajar main bola di klub Adidas Solo sampai kelas 3 SMP. Setelah itu saya maauk Diklat Salatiga selama 1,5 tahun. Kemudian saya dipindah ke Diklat Ragunan Jakarta hingga lulus pada 1986," tutur Kas Hartadi, Jumat (19/6/2020).

Setelah menempuh pendidikan di Diklat Ragunan, Kas Hartadi langsung direkrut oleh klub besar Galatama, Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) Palembang pada 1987. Kariernya makin cemerlang dengan ikut menjadi bagian di Timnas Indonesia.

"Sepak bola sudah menjadi cita-cita. Dalam hati saya harus menjadi pemain nasional. Makanya saya selalu giat berlatih dan kerja keras. Setiap hari berlari dari Stadion Sriwedari sampai rumah di kawasan Salembaran," tuturnya.

"Orang tua sangat mendorong saya berkecimpung di sepak bola, kakak-kakak saya pemain Persis Solo. Tekad saya adalah jadi pemain Timnas Indonesia. Hasilnya terbukti dan saya tularkan ke anak-anak," kata pria 49 tahun.

Memori Indah bersama KTB

Kas Hartadi (atas kedua dari kiri), saat bersama tim Galatama, Krama Yudha Tiga Berlian. (Dok. Pribadi Kas Hartadi)

Krama Yudha Tiga Berlian, termasuk jajaran klub besar pada era Galatama. Tim itu ditopang oleh PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motors Palembang.

Klub ini begitu sukses dalam mengarungi sepak bola Indonesia. Termasuk adanya pengaruh dari pimpinan KTB, Sjarnoebi Said, putra daerah Sumatra Selatan yang menjadi Ketua Umum PSSI pada masanya.

KTB begitu digdaya dengan beberapa kali menjuarai Galatama. Tim dengan ciri khas lambang perusahaan mobil Mitsubishi ini juga sering tampil di berbagai kejuaraan level Asia.

Materi pemain yang hebat pernah dimiliki KTB. Sebut saja Herry Kiswanto, Hamdani Lubis, Zulkarnain Lubis, Peri Sandria, hingga Rully Nere. Terekam dalam memori Kas Hartadi, saat menjadi pemain termuda ketika masuk di KTB pada 33 tahun silam.

"KTB materinya luar biasa, semua pemain top Timnas Indonesia. Saya masuk paling muda, tapi dibimbing senior cara bermain sepak bola yang dewasa. Pengelolaannya sangat baik dan loyal, pengaruh besar Pak Sjarnoebi Said dan Mitsubishi," ujar Kas Hartadi.

Ia melihat seluruh elemen di KTB sangat menjunjung tinggi kekeluargaan dan profesionalisme. Baik itu di dalam maupun luar lapangan, pemain bakal punya tanggung jawab masing-masing. Menurutnya, semua memberikan 100 persen yang dimiliki ketika di atas lapangan, kemudian sangat santai ketika di luar lapangan.

Sayang, sejarah panjang KTB harus berakhir pada 1991. Kas Hartadi mengaku masih menjadi bagian dari KTB saat timnya dibubarkan. Dirinya sedikit mengetahui apa yang menjadi penyebab timnya harus memilih bubar.

"Kalau tidak salah agak kecewa masalah tampil dalam kejuaraan level Asia. Mau berangkat kok tidak jadi. Semua pemain menyayangkan, ini tim besar, bagus, luar biasa, kenapa harus dibubarkan. Padahal kondisi klub enak sekali, yang senior membimbing yang muda," kenangnya.

"Kayaknya tidak ada rencana KTB bakal dihidupkan kembali. Meski kami masih sering kumpul reuni, seperti tahun lalu kumpul di Jakarta," bebernya.

KTB Membawa Pengaruh besar

Kas Hartadi saat bersama rekan-rekannya di Timnas Indonesia. (Dok. Pribadi Kas Hartadi)

Setelah timnya dibubarkan, Kas Hartadi melanjutkan karier di sejumlah klub Tanah Air sampai akhirnya gantung sepatu pada 2004. Ia memutuskan kembali ke kampung halaman dan langsung menjuarai Galatama 1992 di Arseto Solo.

Kemudian bermain untuk Gelora Dewata, BPD Jateng, Arseto lagi sampai tim dibubarkan, Persikabo Bogor, Persid Jember, dan pensiun di Persisam Samarinda.

Palembang seperti menjadi rumah kedua baginya. Selain meraih banyak kesuksesan di Krama Yudha Tiga Berlian, Kas Hartadi tetap menjadi sosok spesial di hati masyarakat Kota Pempek.

Ia merintis karier kepelatihan di Palembang, dengan menahkodai tim Musi Banyuasin, sampai menjadi asisten Ivan Kolev di Sriwijaya FC. Prestasinya makin lengkap saat membawa Laskar Wong Kito menjadi tim terbaik di Indonesia pada 2012.

"Saya punya ikatan emosional dengan Palembang. Warga di sana begitu akrab dengan saya, kecuali orang yang baru lahir," lanjutnya diiringi gelak tawa.

Kas Hartadi mengaku tetap mendalami sepak bola dan kepelatihan. Dalam benaknya bahwa ia harus terus bersekolah, mengaplikasikan ilmu antara saat menjadi pemain dan pelatih melalui pengalamannya.

Ia mengatakan bahwa kehebatan Sriwijaya FC kala itu tak lepas dari bayang-bayang KTB. Suasana klub, komunikasi antarpemain, hingga metode bermain yang ia dapat selama bermain di KTB, diterapkannya untuk Sriwijaya FC.

Kas Hartadi memiliki cara agar gaya permainan timnya seperti KTB yang ia bela ketika itu. Termasuk di luar lapangan, suasana tim penuh kekeluargaan. Tidak ada blok-blokan antar pemain. Kemudian antar pemain perlu santai agar tidak stres.

"Makanya saya jadi pelatih juga mencontoh dari apa yang saya dapatkan di KTB. Abdul Kadir, Tumpak Sihite, sampai Ipong Silalahi, mereka semua panutan saya," ungkap mantan pelatih Sriwijaya FC itu menutup obrolan.

Video