Pesona Tari Rampak Gedruk Buto dari Kemarahan Gunung Merapi

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Yogyakarta - Ada tarian yang berasal dari lereng Gunung Merapi. Nama tarian dari lereng Gunung Merapi ini adalah Tari Rampak Gedruk Buto.

Tarian ini berkembang hingga ke Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Kata rampak memiliki arti serempak, sedangkan gedruk berarti hentakan kaki. Nama tarian ini menunjukan gerakan tarian hentakan kaki bersama-sama.

Sepuluh penari berdandan ala raksasa yang memiliki rupa menyeramkan. Para raksasa tersebut menari dengan gerakan tangan dan kaki yang kompak. Para penari tarian Rampak Gedruk Buto ini menjadi ikon raksasa yang mendiami Gunung Merapi.

Tari Rampak Gedruk Buto dibawakan selama 45 menit dan memiliki ciri khas gerakan tersendiri. Tak terlalu rumit, hentakan kaki dan ayunan tangan yang kompak, menggambarkan kemarahan raksasa yang berkuasa. Pada kaki para penari terpasang puluhan lonceng yang gemerincing berirama senada dengan irama kendang dan gamelan yang mengiringi.

Kontum para penari tarian ini menggunakan topeng dengan wujud yang menyeramkan. Topeng yang digunakan biasanya berbahan kayu dengan ukiran mata yang melotot tajam serta gigi taring yang panjang. Pakaian yang digunakan memiliki warna yang mencolok seperti merah, kuning, biru dan hijau. Selain itu juga dilengkapi untaian kain sampur atau selendang dan rambut sang raksasa.

Meski tidak diketahui siapa pencipta tarian ini, masyarakat lereng Gunung Merapi percaya tarian ini memiliki makna yang dalam. Kemarahan raksasa yang mendiami lereng Gunung Merapi disebabkan oleh kerusakan alam yang merajalela. Tak hanya sekedar kesenian, tarian ini juga sebagai pengingat untuk terus menjaga alam.

(Tifani)

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel