Pesta minum virtual menjadi populer di Jepang selama COVID-19

TOKYO (Reuters) - Diluncurkan di tengah meningkatnya ketakutan atas virus corona, sebuah situs video chat Jepang yang dirancang untuk memfasilitasi pesta minum virtual menjadi populer saat bar dan pub masih ditutup.

Nomikai, atau fenomena pesta minum-minum, dianggap oleh banyak orang Jepang sebagai pusat untuk menjalin hubungan yang kuat di antara teman-teman dan rekan kerja. Memanfaatkan budaya itu, Tacnom, yang berarti minuman di rumah dalam bahasa Jepang, berhasil menggaet 2,4 juta pengguna dalam dua bulan pertama.

"Saya sungguh tidak mengharapkan dampak ini dan saya sangat senang," kata Takashi Kiyose, kepal eksekutif operator 1010 Inc Tacnom kepada Reuters.

Tacnom tidak mengharuskan unduhan atau pendaftaran seperti platform video daring lainnya, tetapi penggunanya dapat membuat tautan URL dan berbagi dengan teman-teman mereka agar bergabung dengan pertemuan virtual hingga 12 orang.

“Saya berharap layanan kami dapat membantu pengguna bertemu orang-orang, yang tak dapat mereka jumpai. Saya akan sangat senang jika waktu mereka di rumah akibat pembatasan akan diperkaya," kata Kiyose.

Jepang masih dalam keadaan darurat hingga akhir Mei. Langkah ini memungkinkan kota setempat meminta warga untuk tetap di rumah saja, tetapi tanpa tindakan hukuman atau kekuatan hukum. Jepang melaporkan sekitar 15.000 kasus virus corona dengan 633 korban meninggal dunia.

Menyesuaikan waktu, dan mempertimbangkan ikatan usai jam kerja sebagai kunci untuk bersosialisasi dan membangun tim di Jepang, sejumlah perusahaan membayar karyawan mereka untuk berkumpul bersama secara virtual.

Perusahaan game mobile Jepang, Gree, menawarkan anggaran bulanan 3.000 yen (sekitar Rp418.306) per karyawan mulai April untuk makanan dan minuman di rumah, mendukung pesta minum-minum daring di antara rekan kerja.

Pada panggilan dengan sembilan teman yang berbagi minat dalam berpakaian, pengguna Tacnom yang hanya mengidentifikasi dirinya sebagai Anzu mengangkat koktailnya ke arah layar komputer sambil bersulang.

"Pesta pertemuan saya awalnya direncanakan di ruang karaoke, tetapi semuanya ditutup dan saya harus membatalkannya. Saya sedang mencari cara alternatif untuk berinteraksi," kata Anzu, guru sekolah berusia 35 tahun di Yokohama, yang menggunakan make up dan rok selama pertemuan virtual.