Petaka Kapal Nelayan Pembawa Puluhan Penumpang di Laut Pangkep

Merdeka.com - Merdeka.com - Belum semua 50 penumpang ditemukan. Petaka laut ini dialami kapal motor (KM) Ladang Pertiwi 02 dalam pelayarannya dari Pelabuhan Paotere Kota Makassar menuju Pulau Pamantauang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Kamis (28/5).

Kapal sarat penumpang dan muatan tenggelam di perairan Pulau Liukang Kalmas usai diterjang ombak dan angin kencang. Pelampung, gabus dan tripleks jadi harapan hidup puluhan penumpang tersebut.

Tidak ada manifes penumpang. Jumlah 50 penumpang tersebut didapat dari kesaksian nakhoda kapal yang selamat, dan laporan dari kepala Desa Pamantauang.

Dari 50 penumpang, 31 orang dievakuasi dalam kondisi selamat. Satu penumpang dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia. Sementara sisanya, atau 18 orang masih dalam pencarian hingga hari ini, Kamis (2/6).

Salah satu penumpang selamat, Syamsir mengaku terombang-ambing selama 16 jam di tengah laut. Perasaan trauma masih membekas dalam pria asal Pangkep tersebut.

"Masih adalah (trauma), setelah kami terombang-ambil sekitar 16 jam. Kami ditemukan malam Jumat," ucapnya.

KM Ladang Pertiwi 02 seharusnya tidak difungsikan untuk melayani penumpang dan barang, namun sebagai kapal nelayan. Fakta ini dikuatkan oleh Koordinator Syahbandar Pelabuhan Paotere, Makassar, Nufrizal Atmakaesa.

"Kalau statusnya kapalnya itu kapal nelayan, bukan kapal barang. Untuk izinnya itu ada di Syahbandar Perikanan, bukan di Syahbandar kami," kata Nufrizal kepada wartawan.

Dalam aktivitasnya mengangkut penumpang dan barang, KM Ladang Pertiwi 02 juga diketahui tidak pernah melaporkan ke Syahbandar Pelabuhan Paotere. Baik ketika kedatangan dan keberangkatan, maupun manifes penumpang.

Terlebih Syahbandar Pelabuhan Paotere tidak mengeluarkan izin berlayar bagi kapal terhitung sejak tanggal 25 Mei. Hal ini menindaklanjuti peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait gelombang tinggi di perairan sana.

"Kami sejak tanggal 25 Mei itu tidak mengeluarkan izin berlayar bagi kapal barang di Pelabuhan Paotere," tegasnya.

Supriadi, juragan kapal yang selamat dalam insiden ini menuturkan, kapal tenggelam saat melintasi Pulau Kalakuang sekitar 8 mile dari Pulau Pemantauan. Saat itu, kapal tiba-tiba mati mesin.

Kondisi alam di laut saat itu sedang angin kencang. Ditambah ombak yang menghantam dari sisi sisi kapal.

"Saat itu angin kencang tiba-tiba mati mesin, pompa (air) mati, jadi tidak bisa hidup, baku lawan ombak di sampingnya, saat kapal mau tenggelam saya berteriak ke ABK sama penumpang sedia alat pelampung, gabus dan tripleks," sebutnya.

Di tengah proses pencarian dan evakuasi para penumpang yang dilakukan tim SAR gabungan, Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan (Sulsel) juga melakukan penyelidikan. 15 Orang diperiksa. Hasilnya dua orang ditetapkan sebagai tersangka, yaitu Supriadi dan pemilik kapal H Syaiful.

"Itu satu Supriadi si nakhodanya (juragan) dan si pemilik kapal H Syaiful," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel, Komisaris Besar Widoni Fedri, Rabu (1/6).

Dia mengungkapkan Syaiful dan Supriadi dikenakan pasal berbeda. Supriadi dikenakan Pasal 323 Undang Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang pelayaran.

"Supriadi sudah kami tahan di Rutan Polda Sulsel," ujarnya.

Sementara Syaiful dikenakan pasal 310 UU Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. Untuk Syaiful tidak dilakukan penahanan. "Karena ancaman hukuman di bawah 5 tahun penjara," tuturnya. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel