Petama Kali, Pemerintah Jadi Penopang Utama Pertumbuhan Ekonomi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Staf Khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo mengatakan pandemi Covid-19 ini membuat pemerintah untuk pertama kalinya menjadi penyangga utama pertumbuhan ekonomi saat mengalami perlambatan ekonomi. Pemerintah kali ini pasang badan ketika semua sektor mulai terganggu dan membuat masyarakat tertekanan.

"Ini kali pertama pemerintah jadi penyangga utama, ketika market terganggu dan warga tertekan," kata kata Yustinus dalam diskusi Polemik Trijaya bertajuk Efek Resesi di Tengah Pandemi, Jakarta, Sabtu (7/11/2020).

Meski begitu, Yustinus menyebut pemerintah juga memiliki keterbatasan dalam menyelamatkan sektor ekonomi. Sehingga terpaksa melakukan pelebaran defisit anggaran hingga 6,34 persen tahun ini.

"Karena ini tanggung jawab dan harus diambil maka (akhirnya) memperlebar defisit APBN menjadi 6,34 persen," kata dia.

Sebab, lanjut dia pemerintah mengalami peningkatan pembiayaan hingga lebih dari Rp 900 triliun. Dalam kondisi ini pendapatan negara dari pajak pun menurun.

Untuk itu berbagai pembiayaan dilakukan dengan menambah utang baik itu ke luar negeri maupun kepada bank sentral dengan mekanisme burden sharing. Yustinus mengatakan saat ini Bank Indonesia dan pemerintah telah bekerja sama untuk menangani dampak pandemi dengan memberikan pembiayaan.

Dalam mekanisme burden sharing ini, bank sentral membeli surat utang negara dengan mekanisme last resort.

"Pembiayaan utang ini dengan burden sharing dengan Bank Indonesia karena keduanya sama-sama memahami keadaan," kata dia.

Dia menambahkan, mekanisme burden sharing ini sudah lebih dari cukup untuk menolong pemerintah untuk memberikan stimulus kepada masyarakat. Sehingga dia menilai jalur cetak uang tidak akan ditempuh pemerintah untuk mengatasi permasalahan pertumbuhan ekonomi saat ini.

"Saya kita dengan skema burden sharing ini sudah cukup," kata dia mengakhiri.

Merdeka.com

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV 2020 Bisa Lebih Baik, Ini Syaratnya

Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) memprediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal IV akan membaik jika konsumsi rumah tangga lebih didorong lagi dengan cara penanganan covid-19 dengan baik.

“Itu sudah bisa diperkirakan pertumbuhan minus, cuman kan kita itu tidak seperti negara lain yang minusnya lebih dalam lagi. Tetapi negara lain struktur ekonominya seperti Thailand dan Singapura kan isinya ekspor. Sedangkan kita isinya konsumsi,” kata Wakil Ketua APINDO Bidang Ketenagakerjaan Bob Azam, kepada Liputan6.com, Jumat (6/11/2020).

Sehingga jika konsumsi rumah tangga Indonesia minus terus menerus maka berbahaya dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Meskipun saat ini pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2020 minus 3,49 persen cukup rendah dibanding kuartal II yakni minus 5,32 persen.

Namun tetap saja dilihat dari konsumsi rumah tangga di kuartal III hanya turun sedikit saja dari sebelumnya. Dari 5,5 persen di kuartal II menjadi 4,04 persen di kuartal III 2020 ini.

“Walapun kita minus (pertumbuhan ekonomi) tidak terlalu besar tapi kita juga harus waspada. Karena kita didominasi oleh konsumsi pertumbuhan ekonominya, jadi penting sekali bagi kita untuk mendorong konsumsi. Supaya ekonomi kita bisa masuk ke zona recovery,” jelasnya.

Bob menjelaskan zona recovery itu adalah zona di mana perusahaan-perusahaan itu sudah bekerja di atas titik impas. Kalau masih bekerja di bawah titik impas artinya perusahaan masih “pendarahan” istilahnya.

Jika pendarahan terus menerus sehingga ujungnya bisa collapse, maka Pemerintah harus mendorong perusahaan secepatnya beranjak ke titik impas, dengan mendorong konsumsi.

“Jadi sebenarnya negara lain melihat kita peluangnya besar untuk bisa recovery cepet karena tinggal naikin aja konsumsi. Kalau mereka melihat konsumsinya tidak tumbuh lagi atau pas-pasan tergantung ekspor itu berat. Kan tunggu pemulihan ekonomi dunia dulu,” ujarnya.

Kata Bob, semestinya Indonesia bisa lebih baik lagi daripada negara lain, kalau Indonesia berhasil mengembalikan konsumsi rumah tangga yang merosot. Maka besar kemungkinan investor percaya kembali kepada Indonesia untuk menanamkan modal.

“Kita itu sangat tergantung untuk mendorong konsumsi bagaimana pengelolaan pandemi covid-19, karena salah satu alasan orang mengurangi konsumsi karena dia tidak confidence dengan ekonomi ke depan lantaran pandemi belum menunjukkan titik puncaknya,” pungkasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: