Petani Boyolali rasakan manfaat budidaya padi SRP

Sejumlah petani di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, merasakan manfaat dari budidaya padi menggunakan standar Platform Padi Berkelanjutan (Sustainable Rice Platform/SRP).

Ketua Asosiasi Petani Organik Boyolali (APOB) Kabupaten Boyolali, Murbowo mengatakan budidaya padi dengan standar SRP membuat para petani semakin terencana dalam melakukan persiapan awal tanam dibandingkan dengan metode konvensional yang sebelumnya diterapkan.

"Kalau di SRP benar-benar terencana. Ada sebuah catatan, kemudian kapan saya mulai tanam. Kalau yang konvensional catatan itu hanya kalender di lingkari, kalau tidak hanya ingat-ingat," kata Murbowo di Boyolali, Jumat.

Murbowo menambahkan, dengan persiapan awal yang lebih terencana itu membuat para petani mudah untuk mengelola lahannya, termasuk untuk urusan memilih benih.

"Misalnya, musim tanam seperti ini paling cocok kita memilih varietas apa kalau untuk SRP. Kalau konvensional itu hanya ikut-ikutan. Oh ramenya itu apa?," ujar Murbowo dalam diskusi manfaat budidaya padi dengan standar SRP yang digelar oleh Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP).

Baca juga: Waduk Bade mampu mengairi 1.353 hektare sawah

Dalam hal manajemen air, kata Murbowo, juga terdapat perbedaan. Apabila metode konvensional penggunaan airnya semaksimal mungkin, namun untuk SRP penggunaan air ada aturannya.

Tak hanya itu, Murbowo juga mengatakan, dalam hal pengendalian hama memiliki perbedaan mencolok dibandingkan dengan metode konvensional.

Pada umumnya petani yang konvensional itu biasanya hanya berdasarkan umur tanaman. Misalnya, umur 15 hari belum disemprot dan biasanya pakai pestisida kimia.

"Kalau di SRP harus terjun ke sawah melihat apakah di umur sekian perlu untuk dikendalikan," tutur Murbowo.

Baca juga: Boyolali gelar Agro Expo ciptakan peluang pasar pertanian

Dia menambahkan, pengendalian hama dengan standar SRP dilakukan secara alami. Penggunaan bahan kimia tidak diizinkan kecuali dalam kondisi terpaksa.

Pengurangan bahan kimia itu berpengaruh juga dengan hasil panen yang menghasilkan produk-produk lebih sehat.

Murbowo mengatakan, manfaat lain dari metode SRP adalah para petani dapat meningkatkan produksinya di tengah keterbatasan lahan.

Dia mencontohkan petani dapat memperoleh panen per hektare hingga 10-11 ton pada tahun 2021.

"Yang semula 2,5 meter x 2,5 meter ada 121 rumpun, kita buat jajar legowo 2:1 sisipan itu ada 168 rumpun. Dengan adanya penambahan populasi ini harapan kami bisa ada peningkatan produksi," kata Murbowo.