Petani jadi "striker" bagi semua sektor melawan pandemi

D.Dj. Kliwantoro
·Bacaan 4 menit

Petani sebagai pahlawan pangan, kini makin menampakkan eksistensinya pada masa krisis kesehatan yang melanda dunia, termasuk Indonesia. Apalagi, Sulawesi Selatan sebagai salah satu provinsi penyanggah pangan nasional.

Pada saat sektor lain bisa dikatakan stagnan, bahkan terjadi kemunduran dan nyaris lumpuh, tidak demikian pada sektor pertanian Sulsel, khususnya dalam produksi beras untuk menopang kebutuhan pokok masyarakat Indonesia.

Maka dari itu, dalam permainan sepak bola, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holticultura Sulsel Andi Ardin Tjatjo mengumpamakan pertanian sebagai "striker" untuk sektor lainnya.

Keberadaan petani dengan segala aktivitasnya di sawah menjadi asa bagi sektor lainnya dalam melawan pandemi COVID-19 dengan segala akibat yang ditimbulkannya.

Andi Ardin juga mengakui bahwa sektor pertanian seperti jagung, kopi, dan sebagainya tidak lepas dari dampak yang diakibatkan penyebaran virus corona.

Itu dikarenakan harga sebagian besar produk pertanian mengalami anjlok di pasaran akibat pembatasan pergerakan sejak pandemi merebak dan permintaan yang berkurang.

Cuma memang recovery ekonomi bisa cepat pada sektor pertanian karena ini adalah kebutuhan. "Kita bisa menunda beli semuanya tetapi tidak bisa menunda beli makanan," kata Andi Irdan.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Sulsel, hasil pertanian beras pada tahun 2020 bahkan mengalami surplus (berlebih) sekitar 2,2 juta ton.

Baca juga: Produksi pangan, petani tetap tangguh di tengah pandemi

Selama 2020, total gabah kering Sulsel mencapai 5 juta ton dengan hasil beras sebanyak 3,6 juta ton per tahun. Sementara itu, konsumsi masyarakat Sulsel sekitar 1,1 juta ton pada tahun 2020.

Sulsel menjadi penyanggah untuk 27 provinsi dan juga masih menyimpan cadangan buat provinsi ini. Bulog juga mengonfirmasi bahwa Sulsel punya stok sampai 2 tahun.

Keunggulan bertani beras pada masa pandemi juga diakui Syahrul Anwar, petani cabai dan beras di Desa Kalukuang, Kabupaten Takalar, Sulsel.

Menjadi petani beras tidak begitu terpengaruh terhadap penyebaran virus corona. Harga gabah yang dijual kepada masyarakat relatif normal, bahkan diakuinya terus terjadi peningkatan harga.

Selama ini, dia menilai bagus, produktivitas meningkat, dan tidak ada penurunan. Harga gabahnya juga naik, bahkan sekarang Rp4.900,00 per kilogram, sebelumnya Rp4.200,00/kg.

Hambatan yang ditemui hanya ketersediaan pupuk yang sangat terbatas di pasaran, kemudian permintaannya harus disesuaikan dengan jumlah kelompok petani pada sebuah wilayah, selebihnya tidak mendapat kesulitan yang berarti.

Apalagi, Syahrul mengaku memperoleh bantuan bibit/benih sebanyak 10 kilogram yang dibagikan kepada seluruh kelompok tani di daerahnya.

Baca juga: Bamsoet: Ekonomi Sulsel terjaga, ditopang sektor pertanian

Benih Unggul

Dalam mendukung hasil pertanian beras di Sulsel, Pemerintah Kabupaten Sidrap sebagai daerah dengan penghasil pertanian beras terbesar di Sulsel kini menyiapkan program Penangkar Benih Unggul untuk 250 hektare persawahan dalam rangka peningkatan produktivitas pertanian beras.

Terkait dengan ketersediaan pangan pada tahun 2020—2021, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sidrap telah mencanangkan APBD, yaitu persiapan benih atau penangkar benih sebanyak 250 hektare area persawahan yang akan disebar di semua kecamatan.

Program penangkaran benih unggul tersebut didasarkan pada tiga permasalahan utama yang ditemui para petani di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) ini, kata Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Azis Damis.

Tiga poin yang dimaksud adalah ketersediaan benih yang kurang, termasuk ketersediaan pupuk, serta tingkat organisme hama penyakit yang tinggi.

Oleh karena itu, Pemkab Sidrap telah mempersiapkan dana untuk peningkatan produksi dengan masa tanam Oktober 2020—Maret 2021 dan April—September 2021 melalui penangkaran benih bibit unggul.

Dengan benih unggul, tentu akan memengaruhi hasil produktivitas di masyarakat.

Ketersedian pangan dinilai tidak lepas dari tujuan menyejahterahkan para petani. Pemkab Sidrap yang sedang melakukan tiga upaya untuk mencapai tujuan tersebut, yakni peningkatan kualitas produksi, menjaga stabilisasi, serta mencari komoditas yang memiliki nilai ekspor.

Baca juga: Gubernur Sulsel sebut sektor pertanian masih tumbuh

Pertanian Modern

Pada masa dewasa ini, petani Sidrap telah merealisasikan metode pertanian modern sejalan pembangunan pertanian, seperti ketersediaan pangan.

Wujudnya berupa penggunaan alat mesin saat penanaman, termasuk pengolahannya sudah menggunakan traktor empat roda. Sementara pada proses panennya menggunakan alat sesuai dengan pertanian modern.

Azis Damis menyebutkan bahwa metode pertanian modern telah berlangsung 5 tahun terakhir di Kabupaten Sidrap dan terbukti memberikan sumbangsih terhadap hasil panen 48.871 hektare persawahan di Sidrap.

Setiap hektare bisa menghasilkan 6—7 ton untuk satu kali masa panen dari dua masa tanam (MT) per tahun. Hasil ini terbilang meningkat 20—30 persen dari metode tradisional karena hasil panen tidak efektif, lebih banyak hasil yang terbuang saat proses panen.

Panen 2 MT dalam setahun akhir September dan pada bulan Oktober—Maret. Akan tetapi, pihaknya juga kadang pakai tanaman palawija. Kalau proses tradisional itu, paling tinggi 4—5 ton untuk satu kali panen.

Pada masa panen, pemkab setempat memberdayakan kaum muda. Bahkan, mempercayakan angkutan hasil panen kepada mereka dengan motor trail yang lebih populer di kalangan kawula muda dengan sebutan motor taxi.

Peralihan alat transportasi hasil panen ini tidak sekadar dari kuda ke motor taksi, tetapi kepercayaan kepada pemuda untuk angkut hasil panen mengandung asa bahwa mereka kelak akan mencintai pertanian.

Baca juga: Mentan ajak masyarakat beli kebutuhan pokok di TTIC Makassar