Petani Kopi Bantaeng: Sejahtera sambil Menjaga Hutan dan Pertanian Berkelanjutan

Merdeka.com - Merdeka.com - Tanaman kopi membuat kualitas hidup petani dan hutan Bantaeng di Sulawesi Selatan semakin baik. Para petani dibantu RECOFTC, organisasi internasional, untuk meningkatkan kapasitasnya dengan pengetahuan dan praktik pertanian berkelanjutan dan kewirausahaan.

RECOFTC adalah organisasi internasional yang fokus pengelolaan hutan di Asia Pasifik. Seluruh kegiatan dan program RECOFTC selalu melibatkan masyarakat lokal dan memastikan pengelolaan yang bermanfaat secara sosial, ekonomis, dan mengutamakan kelestarian lingkungan. Di Indonesia, RECOFTC sudah bekerja sejak 1998.

Hidup Marni jadi lebih mudah sejak bertani kopi sekitar 15 tahun silam. Berasal dari Desa Pabumbungan, Kecamatan Eremarasa, Kabupaten Bantaeng, ini beralih dari menanam jagung menjadi petani kopi. Dia mengelola 2 hektare lahan yang ditanami kopi arabika. Apalagi perawatannya lebih mudah sehingga memberikan penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan jagung.

"Saya harus ke kebun setiap hari waktu masih menanam jagung. Begitu beralih menanam kopi, saya bisa ke kebun seminggu sekali. Harga kopi tiga kali lipat dari jagung. Hidup saya lebih baik, menyekolahkan anak sampai membangun rumah berkat kopi," kata Marni yang menghasilkan 130 liter biji kopi dari kebunnya pada tahun lalu.

Kopi merupakan sandaran hidup masyarakat Bantaeng, salah satu penghasil kopi utama di Sulawesi Selatan bagian selatan. Praktik pertanian kopi berkelanjutan oleh masyarakat Bantaeng ini mampu menahan laju deforestasi dan meningkatkan tutupan hutan. Sementara pada saat bersamaan, kesejahteraan dan keadilan gender di masyarakat sekitar hutan juga semakin membaik.

Kopi Bantaeng ditanam di dataran tinggi, hutan-hutan di kaki gunung Moncong Lompobatang. Selama satu dekade, RECOFTC bersama petani Bantaeng mengembangkan pertanian berkelanjutan di hutan setempat.

RECOFTC menjadi jantung upaya pemberdayaan masyarakat dan hutan desa. Dengan dukungannya, masyarakat mendapat keleluasaan lebih besar dari pemerintah untuk mengelola hutan melalui izin hutan desa. Alhasil mereka cukup mengandalkan hasil hutan untuk bertahan hidup.

"RECOFTC adalah lembaga pelatihan dan pemberdayaan di tingkat Asia Pasifik yang beroperasi di 7 negara termasuk Indonesia selama 30 tahun. Kami percaya hutan dan lanskap dapat tumbuh secara berkelanjutan dan berkeadilan, jika masyarakat mendapat manfaat dari pengelolaan hutan," kata Gamma Galudra, Direktur RECOFTC Indonesia, dalam keterangan resminya, kemarin (21/7).

Pada 2010, RECOFTC berkolaborasi dengan Universitas Hasanuddin dan sejumlah institusi membuat pelatihan wanatani bagi petani kopi Bantaeng. Di sini lah para petani mulai mengenal cara-cara mengolah lahan secara berkelanjutan, sekaligua mendorong perbaikan bentang alam dan meningkatkan pendapatan.

Berbekal pengetahuan baru tentang wanatani dan kewirausahaan, petani kopi di Bantaeng kini mengubah cara mereka berinteraksi dengan 700 hektar lahan dan hutan di sekitarnya. Mereka mempelajari diversifikasi tanaman agar lebih tahan menghadapi ancaman banjir dan kekeringan.

Angka perubahan tutupan hutan menjadi monokultur pun berkurang. Sebab masyarakat merasa cukup mengandalkan hasil hutan dari wilayah yang dikelolanya dan tidak berusaha membuka hutan untuk lahan baru. Wanatani atau sistem agroforestri membuat masyarakat tidak mengusik hutan. Pada saat sama, kemampuan warga untuk mengelola hutan kopi pun berkembang. Kualitas yang dihasilkan juga makin baik.

Koperasi Akar Tani

petani kopi bantaeng di sulawesi selatan mendapat pelatihan dari recoftc
petani kopi bantaeng di sulawesi selatan mendapat pelatihan dari recoftc

©2022 Merdeka.com/recoftc

Bantaeng memiliki hutan produksi terbatas seluas 1.262 hektare dan hutan lindung 2.773 hektare. Dengan dukungan RECOFTC dan Universitas Hasanuddin, petani kopi Bantaeng mendapat izin pengelolaan lahan hutan selama 35 tahun. Berawal dari tiga desa, kini Bantaeng menjadi salah satu referensi dan pusat studi mengenai hutan desa.

“Bantaeng merupakan kabupaten pertama di Sulawesi Selatan bagian selatan yang punya izin pengelolaan lahan hutan. Dulu kami hanya menanam kopi robusta, tapi begitu ada izin ini, kami bisa menghasilkan kopia Arabika yang harganya lebih mahal,” kata Hasri, Ketua Koperasi Akar Tani yang memasarkan kopi petani Bantaeng.

Koperasi Akar Tani dibentuk pada 2016. Tujuannya untuk menjaga harga biji kopi dan menembus pasar lebih besar. Koperasi Akar Tani berhasil mendapatkan harga jual yang lebih tinggi bagi petani-petani anggotanya. Akses pada mesin kupas dan roaster terbuka, seiring pelatihan dan informasi yang mengalir sehingga petani dapat meningkatkan kualitas kopinya.

“Koperasi Akar Tani merupakan jalur alternatif bagi petani untuk memasarkan kopi dengan harga jual lebih baik. Kami terus mendorong petani untuk menjaga kualitas, hanya memetik dan menjual cherry merah, tidak dicampur yang masih hijau. Para petani kini paham kualitas kopi yang lebih tinggi berarti harga jualnya juga lebih mahal,” jelas Hasri.

Tak hanya transaksi, Koperasi Akar Tani secara tidak langsung juga aktif mengedukasi petani untuk menjaga hutan dan hanya memanen kopi terbaik.

Petani kopi adalah konservasionis alami. Mereka mengerti pentingnya pertanian yang berkelanjutan. Tanpa naungan tanaman hutan yang terjaga baik, kopi tidak bisa berproduksi maksimal. Agar hasil kopi baik dan harga jual tinggi, hutan juga harus kami jaga dengan baik, lanjut Hasri.

Selain praktik wanatani, RECOFTC juga memfasilitasi sejumlah program kewirausahaan dan pelatihan untuk pengembangan pemasaran dan branding kopi spesial, peningkatan pengembangan bisnis dan praktik manajemen keuangan, dan pelatihan petani tentang agroforestri yang berkelanjutan.

“RECOFTC mendukung masyarakat Bantaeng melalui program kewirausahaan Koperasi Akar Tani, melalui beragam pelatihan dan pendampingan masyarakat petani kopi hutan. Diharapkan masyarakat Bantaeng bukan hanya mampu mengembangkan sumber penghidupan dari kopi, tapi juga mencegah deforestasi dan bencana, serta mengembangkan pula keadilan gender,” pungkas Gamma.

Koperasi Akar Tani juga membuka akses modal, termasuk pinjaman pemerintah untuk membantu mendirikan badan usaha. "RECOFTC membantu kami untuk mendapatkan dukungan lembaga-lembaga pemerintah. Mereka menyediakan pelatihan, seperti bagaimana melakukan perhitungan risiko dan bagaimana memenuhi peraturan-peraturan pemerintah,” pungkas Hasri.

Di Sulawesi Selatan, bersama Koperasi Akar Tani, RECOFTC mendampingi peningkatan kehidupan petani kopi. Beranggotakan lebih dari 45 petani, produksi kopi Koperasi Akar Tani saat ini mencapai 10 ton per tahun dengan cakupan pasar se-Indonesia.

Hingga kini, melalui program pelatihan dan pemberdayaan, selain di Sulawesi Selatan, kegiatan RECOFTC Indonesia tersebar di beberapa provinsi seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Barat. [sya]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel