Petani Kulon Progo kembangkan tanaman klengkeng sistem surjan

Ahmad Buchori

Seorang petani di Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Warsito berhasil mengembangkan tanaman klengkeng di lahan surjan bersama tanaman padi atau tanaman horitkultura.

Warsito di Kulon Progo, Selasa, mengatakan dirinya merintis untuk berbudi daya klengkeng varietas new kristal di lahan surjan yang ada di wilayah Wates Kulon Progo.

Ia terinspirasi tempat budi daya dan pemasaran yang ada di daerah dataran tinggi Ambarawa yang mampu berproduksi dan pemasarannya sangat laku.

"Kemudian, saya melakukan uji coba dengan sistem surjan, dengan menanam padi, atau palawija dan tanaman klengkeng," kata Warsito.

Ia meyakini bahwa klengkeng dapat tumbuh baik dan berproduksi dengan baik di dataran rendah serta mampu mengembangkan buah klengkeng new kristal yang kualitasnya setara atau melebihi buah impor.

Pada lahan surjan tersebut keyakinan tersebut ia pertaruhkan karena selama ini mayoritas petani di daerah tersebut menanam padi, palawija dan tanaman hortikultura lainnya seperti bawang merah, cabai merah.

Upaya tersebut tidak berjalan mulus, banyak cemoohan dan celaan yang datang, namun keyakinannya melebihi dari sekedar cemoohan dan celaan tersebut.

Dirinya berusaha bertahan dengan keadaan yang ada dan ingin membuktikan apa yang menjadi keyakinannya tersebut dan keyakinannya tersebut sekarang sudah terbayar dengan dilakukannya panen buah klengkeng.

"Klengkeng dataran rendah kurang dari dua tahun sudah dapat berbuah. Hal ini sudah daya buktikan dengan tanaman klengkeng new kristal di persawahan. Bentuk dan rasa kelengkeng dataran rendah lebih unggul karena rasanya lebih manis dan ukurannya lebih besar," katanya.

Ia mengatakan klengkeng relatif jauh dari hama kecuali gangguan kelelawar saat musim buah atau panen. Untuk mencegah serbuan kelelawar dapat dilakukan dengan pemasangan jaring (brongsong). Sedang gangguan lainnya adalah telur belalang yang menempel pada daun namun sangat mudah disingkirkan.

Warsito mengatakan klengkeng new kristal termasuk jenis varieatas klengkeng unggulan terbaru yang merupakan hasil penyempurnaan dari klengkeng kristal atau klengkeng kristalin.

Keunggulan varietas new kristal adalah pertumbuhan sangat baik, dompolan buah sangat banyak, daging tebal, tekstur kering dan renyah, tahan terhadap terpaan angin dan hujan karena daunnya lebih panjang dan sifatnya elastik.

Dan yang paling menarik adalah masa panen dapat diatur sendiri oleh petani dengan cara pembosteran sehingga klengkeng dapat dibuahkan dan dipanen sepanjang tahun tanpa mengenal musim.

"Hal inilah yang sangat menarik karena kebetulan tempat budi daya tersebut merupakan jalur utama menuju bandara Yogyakarta International Airport (YIA) sehingga dipastikan masalah pemasaran tidak akan terjadi dan diyakini setiap panen akan diserbu oleh pembeli," katanya.

Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Martono mengatakan keunggulan klengkeng varietas new Kkistal adalah memiliki rasa yang super manis dengan tingkat kemanisan 21 skala brix karena konsumen sangat suka klengkeng yang tebal, tidak berair/lembek, renyah dan tidak menempel pada bijinya/nglothok.

Ketebalan daging dapat mencapai diameter 3 centimeter. Berbuah sepanjang tahun dengan pembosteran atau 1,5 kali pertahun atau tiga kali panen dalam dua tahun. Produktivitasnya tinggi, untuk panen perdana biasanya 20-25 kg per pohon, pohon umur empat tahun mampu menghasilkan 75 kg, umur lima tahun sekitar 100 kg, umur 5-7 tahun stabil 100-150 kg per pohon.

"Tingkat adaptasi tinggi, dapat ditanam pada tanah grumosol, laktosol, andosol maupun lempung berpasir dengan ph 5,0 – 6,6 dan curah hujan yang dibutuhkan 1100-1500 mm/th dengan kelembaban 50-90 persen. Dapat dibudidayakan di dalam pot dan nilai ekonomis tinggi," katanya.

Ia mengatakan harga panen klengkeng new kristal kali ini sangat tinggi yaitu Rp50.000 perkilogram. Jika petani menginginkan harga lebih maka dapat dijual dalam bentuk paket agrowisata. Hal ini sudah dilakukan petani di Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih.

Pengunjung dipersilakan untuk memetik buah sendiri dan merasakan suatu fenomena dan keadaan yang tidak akan pernah dirasakan oleh konsumen yang membeli buahnya saja sehingga harga berapapun konsumen dengan senang hati membayarnya.

"Pengalaman untuk memetik buah langsung dari batangnya merupakan pengalaman tersendiri bagi konsumen. Keuntungan konsumen dengan memetik sendiri adalah selain kegembiraan saat memetik buah dari pohonnya adalah akan mendapatkan buah yang matang, segar dari pohonnya sesuai keinginan," katanya.

Baca juga: Warga Temanggung rintis agrowisata klengkeng

Baca juga: Cegah "stunting", Kulon Progo tanam Inpari IR Nutri Zinc seluas 12 ha

Baca juga: Ratusan hektare tanaman padi di Kulon Progo diserang hama wereng