Petani Makin Terpuruk, Harga Sawit di Sumsel Hanya Rp600 per Kg

Merdeka.com - Merdeka.com - Sejak pelarangan ekspor dikeluarkan pemerintah, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Sumatera Selatan semakin rendah yang kini berkisar hanya Rp600-Rp800 per kilogram. Kondisi ini membuat petani sawit di provinsi itu kian terpuruk.

Wakil Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumsel M Yunus mengungkapkan, harga TBS saat ini jauh lebih rendah dari ongkos produksi akibat naiknya harga pupuk yang mencapai Rp1.800 per kg. Meski rugi besar, petani tetap memanen karena pohonnya rusak jika buahnya dibiarkan membusuk di batang.

"Harga TBS sekarang sangat rendah, paling mahal hanya Rp800 per kg, harga ini sudah berlangsung dua bulan terakhir," ungkap Yunus, Senin (11/7).

Dia mengatakan, petani swadaya tak bisa lagi melakukan perawatan terhadap tanamannya. Alhasil, mayoritas buruh yang sebelumnya biasa mencari upah dengan cara merawat kebun, tak lagi bekerja.

Panen Tidak Tutupi Biaya Perawatan

Areal kebun sawit di Sumsel mencapai 1,3 juta hektare. Dari jumlah itu, 40 persen di antaranya berstatus milik pribadi dan dimiliki sekitar 500 ribu kepala keluarga.

"Sekarang bisanya cuma panen. Tapi hasil panen tidak bisa lagi membayar upah perawatan," ujarnya.

Menurut dia, harga TBS ideal dengan memperhitungkan biaya ongkos produksi dan pendapatan di atas Rp2.600 per kg. Rendahnya harga diperparah sulitnya petani sawit menjual TBS ke pabrik kelapa sawit.

"Stok di pabrik sudah penuh akibat tak bisa ekspor. Kalau begini terus, bukan tidak mungkin kita akan resesi ekonomi," pungkasnya. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel