Petani Myanmar sukar penuhi kebutuhan imbas naiknya biaya pertanian

Sejumlah petani di Myanmar mengaku mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup bagi dirinya dan anggota keluarga karena meningkatnya beban biaya yang diperlukan di sektor pertanian.

Seorang petani bernama Nyo Win menyatakan kepada Xinhua, selama 30 tahun bertani padi di wilayah Ayeyarwady di Myanmar, dirinya telah melewati banyak masa sulit.

Namun, dengan meningkatnya berbagai biaya setiap hari menyusul panen yang buruk, kesengsaraannya saat ini terasa seperti kesulitan yang paling berat. Harga pupuk dan solar, andalan dalam budi daya padi, belum pernah setinggi sekarang di daerah itu.

Nyo, seorang ayah dari empat anak, menuturkan kepada Xinhua bahwa tahun ini dia hampir tidak menghasilkan uang sama sekali.

Maret 2022 lalu, para petani terpaksa membiarkan padi-padi mereka membusuk karena hancur oleh badai tropis, sebuah fenomena yang kian lazim terjadi di wilayah itu sejak Topan Nargis menjadi tajuk berita pada 2008.

Dua tahun lalu, sebelum COVID-19, harga satu karung pupuk seberat 50 kilogram mencapai 20.000 kyat Myanmar (1 kyat Myanmar = Rp7,85). Saat ini, harganya sudah melampaui 60.000 kyat dan kenaikan harga tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda. "Situasi saat ini sangat berat bagi kami. Saya tidak tahu berapa lama ini akan berlangsung," kata Nyo kepada Xinhua.

Tint Lwin, seorang petani lainnya, mengalami situasi serupa. Dia harus mengurangi penggunaan pupuk hingga separuh. "Biaya saya terus naik. Saya berharap dengan mengurangi pemakaian pupuk, padi saya masih bisa bersaing. Yang jelas, panen saya berikutnya pasti akan turun," ujarnya. (Xinhua)
Tint Lwin, seorang petani lainnya, mengalami situasi serupa. Dia harus mengurangi penggunaan pupuk hingga separuh. "Biaya saya terus naik. Saya berharap dengan mengurangi pemakaian pupuk, padi saya masih bisa bersaing. Yang jelas, panen saya berikutnya pasti akan turun," ujarnya. (Xinhua)

Jawaban pemerintah adalah bahwa para petani harus menggunakan pupuk organik buatan dalam negeri dengan lebih baik, serta mengurangi pengeluaran untuk bahan kimia impor.

Para petani sendiri tidak melihat ini sebagai solusi untuk masalah mereka. Biaya telah dikeluarkan dan yang mereka butuhkan adalah bayaran yang lebih tinggi untuk panen mereka, dengan cara apa pun yang memungkinkan.

Aung Thu, seorang petani berusia 30-an awal, mengatakan kepada Xinhua bahwa harga semua komoditas meningkat. "Satu barel solar yang dua tahun lalu harganya sekitar 90.000 kyat hari ini harganya hampir 400.000 kyat," keluhnya dan menambahkan bahwa petani benar-benar kesulitan dan keadaan hanya semakin buruk.

Sekitar 70 persen rakyat Myanmar tinggal di daerah pedesaan dan bergantung pada pertanian. Pada 2019-2020, pertanian menyumbang 38 persen dari ekspor negara tersebut.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel