Peternak Milenial Harus Kuasai Internet of Things

·Bacaan 2 menit

VIVA – Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 menunjukkan bahwa 98 persen populasi sapi perah ada di Pulau Jawa. Jumlah total populasi sapi perah mencapai 561.061 ekor pada 2019, sedikit menurun dibandingkan 2018.

Saat ini, hasil produksi susu segar dalam negeri masih kurang dari 1 juta ton, tepatnya 997.350 ton menurut data BPS di tahun lalu. Artinya, relatif stagnan sejak 10 tahun lalu, karena populasi sapi perah dan produktivitasnya juga yang stagnan.

Untuk itu, penting menggalakkan peternak milenial seperti halnya petani milenial yang sukses menciptakan iklim berusaha yang kompetitif. Peternak rakyat saat ini masih mendominasi atau 90 persen yang berkutat pada skala kecil, manual dan manajemen minimalis, bukan berorientasi bisnis.

Sementara petani kelas menengah (middle class farmer) jumlahnya hanya 2 persen yang menguasai trendsetter, profit oriented, adopsi teknologi, manajemen perusahaan kecil, serta bisnis terintegrasi. Sisanya yang 8 persen merupakan peternak korporasi.

Dalam menciptakan peternakan sapi perah modern yang berkelanjutan dan berkualitas pada sisi on farm (beternak sapi), maka perlu melakukan transformasi teknologi hingga organisasi peternakan rakyat.

Sedangkan, sisi off farm (produk siap konsumsi oleh konsumen) diperlukan adanya unit pengolahan terintegrasi, program kemitraan, tata kelola manajemen pada koperasi.

“Baik sisi on farm maupun off farm, perlu mengadopsi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Konsep inilah yang kami terapkan dalam mengembangkan Dairy Pro Indonesia sejak tahun 2007," kata drh. Deddy Fachruddin Kurniawan, Jumat, 11 Juni 2021.

Deddy, yang merupakan peternak milenial, itu melihat perubahan gaya hidup di masyarakat. Dari dulunya masyarakat karbohidrat yang kalau asal makan sudah kenyang, kini menjadi masyarakat protein yang berhitung soal gizi. "Sejak tahun 2008, konsumsi protein hewani melejit seiring meningkatnya kelas menengah,” paparnya.

Peternakan modern yang dibangun di kota Batu, Malang, Jawa Timur ini mampu menghasilkan 500-600 liter susu segar sehari yang diserap dan diolah menjadi produk sendiri seperti susu, yogurt, es krim, hingga gelatin.

"Saya percaya model bisnis yang terintegrasi layak dilakukan oleh peternak milenial di Indonesia. Kalau sudah punya 10 ekor sapi harus berpikir bisnis. Harus punya pemahaman tentang branding, packaging, dan marketing,” jelas dia.

Deddy juga menyayangkan banyak peternak yang masih berkutat di on farm, yang menurutnya, justru off farm yang harus dikembangkan. Selain itu, besarnya potensi pasar membuat korporasi besar mulai melirik bisnis persusuan.

“Sayangnya, peternak asli tidak memikirkan itu. Hanya sibuk di on farm lupa mengembangkan off farm. Inilah yang mendorong saya untuk terus menggalakkan peternakan susu terintegrasi. Jadi, semua serba mesin, berbasis teknologi, ada sistem aplikasi," ungkapnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel